Pilihan

9.6K 594 5
                                        

Floretta kembali menghela napas panjang.

Tarikan napasnya dalam dan berat, seperti mengangkat sesuatu yang tak terlihat dari dalam dadanya. Udara sore yang sejuk di taman belakang tak mampu meredakan tekanan yang menumpuk di pikirannya sejak semalam.

Jared, yang duduk di bangku taman tak jauh darinya, melirik pelan.
Ia menatap wajah putrinya yang kini terlihat lebih sehat.

"Apa yang membuatmu menghela napas seperti itu, hingga membuatmu tampak sepuluh tahun lebih tua?"
Suara Jared tenang, namun sarat kepedulian yang selalu bisa ia tunjukkan.

Keduanya tengah duduk bersebelahan, memandangi Zerrin yang tertawa kecil sambil bermain dengan bunga dan serangga di atas rumput. Tawa kecil itu menjadi kontras dari keheningan berat di antara mereka.

Floretta tidak langsung menjawab.
Ia menatap lurus ke depan, seolah berharap angin dapat menggantikan mulutnya yang kelu.

Jared tidak memaksa. Tapi setelah beberapa saat, ia menunduk sedikit, suaranya merendah.

"Katakanlah… meski Ayah sekarang bukan siapa-siapa, bukan pria yang dulu bisa menjanjikan dunia untukmu… setidaknya Ayah masih bisa mendengarkan. Aku ingin mendengarkan bebanmu, meski aku tak bisa menyelesaikannya."

Floretta menggigit bibirnya pelan.
Kata-kata itu seperti membuka gerbang kecil di hatinya. Perlahan, ia menoleh, menatap ayahnya.

"Bisakah kita pergi dari sini?"
Pertanyaannya keluar pelan. Tapi jelas. Penuh keraguan, seolah takut jika keinginannya itu terdengar seperti pengkhianatan atau pelarian.

Jared terdiam.

"Pergi?" ulangnya lembut, tidak marah, hanya ingin memastikan.

Floretta mengangguk pelan. Matanya masih menatap Zerrin, seolah gadis kecil itu adalah satu-satunya alasan dia masih mampu berdiri di tengah badai.

Di hadapan Jared, ia menceritakan segalanya—tanpa hiasan, tanpa potongan.
Kata demi kata mengalir jujur, mengungkap pernyataan Alexander yang sempat membuat dadanya sesak.

"Dia bilang dia mencintaiku, Ayah."
Suara Floretta nyaris berbisik.
"Dengan suara yang gemetar... dengan air mata di matanya. Tapi kenapa rasanya justru menyakitkan?"

Jared hanya diam, menatap wajah putrinya yang kini terlihat jauh lebih sehat dari terakhir kali tetapi ratapan itu dipenuhi beban tak kasat mata.

Mata Floretta bukan lagi mata remaja yang keras kepala—tetapi mata perempuan yang telah melalui terlalu banyak luka dalam waktu yang terlalu singkat.

"Kau takut mencintainya kembali," gumam Jared pelan, "karena kau tahu… cinta itu tidak selalu menyelamatkan."

Floretta menunduk, sebutir air mata jatuh diam-diam ke pipi.

Bukan tangisan keras, bukan luapan histeris. Hanya air mata yang akhirnya menemukan jalannya keluar, setelah terlalu lama bertahan.

"Mungkin aku masih mencintainya, Ayah."
Kata itu akhirnya keluar dari bibir Floretta, lirih tapi tegas.
"Aku tidak ingin membohongi diriku sendiri. Tapi aku juga tahu, mencintai dia... tidak otomatis membuatku bahagia."

Floretta mengangkat wajahnya perlahan, menatap langit yang mulai temaram.

"Di atas perasaan cinta... ada hal yang lebih penting—yaitu kebahagiaan diriku sendiri."
"Bersama Alexander, mungkin kami seperti orang yang saling menggenggam erat. Tapi kaki kami menginjak pecahan kaca."
"Terus melangkah berarti terus terluka."

Jared mengalihkan pandangannya ke Zerrin yang sedang duduk di rerumputan, tertawa pelan pada kupu-kupu yang hinggap di jarinya.
Tawa kecil itu seperti jeda di antara percakapan yang berat.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang