Roi

13.1K 876 51
                                        

Setelah menjenguk Floretta sebentar di rumah sakit melihat gadis itu terbaring tak sadarkan diri, tubuhnya dibungkus selimut putih dan napasnya hanya bertahan lewat alat bantu pernapasan, Alexander keluar dari ruangan dengan tatapan kosong dan rahang mengeras. Hatinya bergejolak, kemarahan meletup dalam diam, menyulut bara yang selama ini coba dia redam.

Ia kembali ke tempat Hunter Blake dikurung. Ruangan itu dingin dan remang, hanya ada satu lampu yang menggantung dari langit-langit, memantulkan cahaya kuning suram di atas kepala pria yang masih terikat di kursi besi.

Wajah Hunter penuh lebam luka sobek di pelipis dan bibir pecah, namun senyumnya, tetap sama. Sinis. Meremehkan.

Begitu Alexander masuk, Hunter tertawa pelan, serak, nyaris menyakitkan di telinga.

"Sepertinya kondisi wanita itu stabil, ya?" katanya, menyeringai licik. "Sayang sekali… kurasa dia akan bertahan. Padahal aku berharap kau benar-benar kehilangan segalanya."

Alexander tidak menjawab. Langkahnya pelan, berat, tapi sorot matanya tajam seperti pisau yang siap menebas tanpa peringatan.

Hunter mendongak, napasnya berat tapi ekspresinya santai. Ia menyandarkan punggung ke kursi yang dingin, meski tangannya terikat kencang di belakang.

"Kau tahu, Lex..." ucapnya, suara tenang tapi menghantam seperti racun yang meresap lambat.
"Kau adalah laki-laki termunafik yang pernah aku kenal. Kau datang dengan wajah pahlawan, seolah ingin menyelamatkan semuanya. Padahal kau sendiri penyebab kehancuran itu."

Alexander mengepalkan tangan, tapi tetap diam. Hanya tatapannya yang berubah lebih gelap, lebih berbahaya.

Hunter melihat itu, dan justru semakin menikmati permainan ini.

Ia mencondongkan tubuh ke depan sebisanya, membiarkan darah dari luka di dagunya menetes ke lantai. "Kau pikir Leila benar-benar mencintaimu?"

Alexander tidak berkedip.

"Coba kau pikir baik-baik. Dari semua wanita di negara Eight, kenapa anak haram tanpa nama, tanpa status, tanpa koneksi… bisa muncul sebagai salah satu model relawan dalam acara lelang eksklusif?"

Suasana di ruangan seketika berubah dingin. Napas Alexander terdengar lebih berat.

Hunter menatapnya lekat-lekat, lalu menyeringai lebar.
"Kau tahu sistemnya. Undangan acara itu bukan main-main. Bahkan untuk jadi model relawan, seleksi dilakukan dari kalangan elite yang sudah melalui penyaringan reputasi dan garis keturunan. Leila?" Ia tertawa. "Dia aib. Dibuang oleh keluarganya sendiri. Disembunyikan dari publik seolah tak pernah ada."

Hunter berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung.
Lalu, dengan suara rendah dan pelan seperti bisikan neraka, ia menambahkan:
"Dia menjual dirinya padaku, Alexander. Tubuhnya. Hanya untuk bisa masuk ke sana. Hanya untuk mendapatkan akses ke dirimu. Dia tahu siapa yang akan datang malam itu. Dia tahu tipe wanita seperti apa yang bisa menyentuh hatimu."

Alexander akhirnya bergerak, satu langkah maju. Sorot matanya kini berubah dari marah menjadi goyah.

"Dia tahu kau menyukai wanita yang tampak polos tapi kuat. Perempuan yang terlihat rapuh tapi menyembunyikan bara. Dan dia tahu… pria seperti kau, Alexander… mudah sekali jatuh pada kelembutan yang dibuat-buat."

Hunter menyeringai lagi, seolah baru saja menancapkan belati paling dalam.
"Dia bukan korban. Dia pemain."
"Dan kau… hanya bidak dalam permainan yang bahkan tak kau sadari sedang kau jalani."

Alexander berdiri mematung.
Kata-kata Hunter terus bergema di kepalanya seperti gemuruh badai yang tak kunjung reda:

Leila menjual dirinya…
Hanya untuk mendapatkan akses padamu…
Dia bukan korban. Dia pemain.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang