Floretta masih berusaha mencerna segala yang terjadi. Sejak dokter menyatakan dirinya cukup stabil untuk dipulangkan, ia sempat merasa semangat. Ada rasa lega, ada kerinduan yang tumbuh—ia membayangkan kembali tidur di kamarnya sendiri, mencium aroma lembut seprai bersih yang diganti Bibi Elena, dan mendengar suara Ayahnya di ruang tamu seperti biasa.
Tapi harapan itu perlahan meredup sejak Alexander yang datang menjemputnya, sendirian.
Tidak ada Ayah. Tidak ada Bibi Elena.
Hanya Alexander, dengan ekspresi tenang yang terlalu datar untuk disebut biasa.
Perasaan tidak enak mulai menyelusup masuk ke dadanya. Ia ingin bertanya, ingin memastikan semuanya baik-baik saja—tapi bibirnya seolah terkunci. Entah karena takut akan jawabannya, atau karena terlalu lelah untuk mengurai segala yang menggantung di pikirannya.
Selama perjalanan, Floretta hanya menatap diam ke luar jendela mobil. Pemandangan kota perlahan berganti dengan perbukitan dan pepohonan. Dan ketika mobil tidak mengambil jalan yang seharusnya menuju ke rumah lamanya, jantungnya berdetak lebih kencang. Ia menoleh sedikit, menatap jalan yang asing di luar. Tapi tetap diam.
Pertanyaan menggantung di ujung lidahnya, namun tidak pernah meluncur keluar.
Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah villa mewah berarsitektur modern dengan nuansa kayu dan batu alam yang menyatu indah. Halaman depan dipenuhi bunga dan tanaman hijau yang rapi, udara terasa sejuk dan segar. Seolah tempat itu diciptakan untuk melarikan diri dari dunia.
Floretta tidak bergerak.
Pintu sampingnya terbuka dari luar. Alexander berdiri di sana, wajahnya tetap tenang namun matanya menyimpan kelelahan yang belum hilang sejak berhari-hari lalu. Tanpa sepatah kata pun, ia membungkuk perlahan, menyelipkan satu lengan di bawah lutut Floretta, dan satu lagi di punggungnya.
Dengan lembut, Alexander mengangkat tubuh Floretta dari kursi mobil.
Gerakannya hati-hati, seolah ia memegang sesuatu yang rapuh dan berharga.
Floretta masih belum berkata apa-apa. Hanya matanya yang menatap pria itu dalam diam, setengah terkejut, setengah bingung.
Alexander kemudian menurunkannya pelan ke atas kursi roda yang sudah disiapkan di sisi mobil. Ia merapikan posisi duduk Floretta, memastikan selimut menutupi kakinya dengan rapi, lalu mendorong kursi roda itu pelan, melewati jalan setapak menuju teras villa.
Masih tanpa penjelasan.
Masih tanpa kata.
Pintu rumah setinggi dua meter itu terbuka perlahan, disambut hembusan angin segar dari dalam yang membawa aroma lembut bunga dan kayu manis. Tapi sebelum Floretta sempat mengamati interior villa yang asing baginya, terdengar suara lantang serempak menyambut:
"Surprise!"
Floretta tersentak kecil, mata membelalak. Ia nyaris tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Di ruang tengah yang luas dan terang oleh cahaya alami, berdiri sekelompok orang yang begitu familiar tersenyum, tertawa, dan menatapnya dengan kehangatan.
Naina berada paling depan, mengenakan apron khas Montiss Bakery yang kini tampak sedikit berantakan karena semangatnya. Di belakangnya, para pegawai toko roti ikut tersenyum sambil mengangkat banner besar bertuliskan
"Selamat Datang Kembali, Floretta!"
Warna-warna pastel menghiasi tulisan itu, dikelilingi ilustrasi kecil kue, bunga, dan matahari semuanya buatan tangan, jelas dari cinta dan perhatian.
Floretta membeku di tempat. Mulutnya sedikit terbuka, matanya berkaca-kaca, seolah otaknya kesulitan memproses kebaikan yang tak terduga ini.
Dan di antara keramaian itu, ia melihat sosok yang sangat ia rindukan—Ayahnya, berdiri tegap dengan Zerrin kecil di gendongannya. Balita itu langsung beraksi begitu melihat Floretta. Wajahnya berubah riang, lalu tiba-tiba mulai memberontak dalam pelukan Jared, kedua tangannya menjulur liar ke arah Floretta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
