Sudah hampir seminggu Floretta tidak melihat Alexander secara langsung. Ia tak muncul di siang hari, tak menyapanya di ruang makan, bahkan tak sekadar mengetuk pintu seperti biasa. Tapi anehnya, jejak kehadiran pria itu tetap terasa.
Letak selimutnya yang lebih rapi dari saat ia tertidur, dan... rasa hangat aneh di betis dan telapak kakinya saat ia bangun pagi. Semua itu adalah bukti sunyi bahwa Alexander datang saat malam telah larut saat seluruh rumah terlelap.
Bukan untuk melakukan hal yang tidak senonoh. Bukan karena nafsu. Tapi karena sesuatu yang jauh lebih rumit dari itu perasaan bersalah, rasa tanggung jawab, dan sesuatu yang tak pernah mereka sebutkan dengan kata.
Kevin pernah bercerita, dengan nada datar tapi tak bisa menyembunyikan keterpukauannya, bahwa Alexander diam-diam belajar langsung dari terapis pribadi Floretta. Ia menyimak, mencatat, dan berlatih dengan tekun bagaimana cara memijat dengan benar. Terapis Floretta memang menyarankan pijatan pada kaki secara rutin, untuk melancarkan sirkulasi darah dan mengurangi kekakuan otot akibat trauma dan keterbatasan mobilitasnya.
Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Alexander kembali datang.
Lampu kamar dibiarkan redup, tirai tertutup rapat, dan hanya suara detak jam dinding yang menemani kesunyian.
Floretta berbaring diam di ranjangnya, memejamkan mata seolah tertidur. Tapi napasnya tak sepenuhnya tenang ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Malam ini, ia tak ingin hanya menjadi patung diam yang berpura-pura tidur.
Perlahan, ia merasakan sentuhan lembut di kakinya. Gerakan tangan Alexander selalu penuh kehati-hatian, seolah takut menyakitinya. Ia memijat pelan mulai dari pergelangan hingga telapak, memberikan tekanan di titik-titik tertentu sesuai yang pernah diajarkan terapis.
Dan di tengah keheningan itu, Floretta berbisik. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri, tapi cukup jelas untuk menusuk jantung siapa pun yang mendengarnya.
"Kau tahu? Aku membencimu."
Alexander terhenti. Tangannya diam di atas kulitnya. Tapi ia tidak menjawab.
"Sangat membencimu." Floretta mengulang, lebih lirih.
"Tapi setiap kali aku mengucapkan kata 'benci'... entah kenapa otakku justru memutar ulang hal-hal kecil yang kau lakukan untukku." Ia menelan ludah, berusaha menahan gemetar di suaranya.
"Saat aku ketakutan... saat aku hancur... kau yang menemaniku. Bukan orang lain."
Alexander masih tak bicara. Tapi Floretta tahu dia mendengarnya ia bisa merasakannya dari udara yang berubah, dari sentuhan yang makin lambat.
Dan tiba-tiba, ingatan itu datang. Seperti hantaman ombak di tengah laut.
Floretta kembali mengingat salah satu dosa yang masih menghantuinya hingga hari ini.
Hari ketika ia tahu soal Kania... dan diam. Hari ketika ia punya pilihan untuk membela, tapi memilih untuk menjadi penonton. Bahkan mungkin... ikut menertawakan.
"Aku... aku masih bisa melihat wajahnya saat itu." bisik Floretta lagi, suara mulai pecah.
"Wajah yang memohon… bukan belas kasihan, tapi cukup untuk dihentikan. Tapi aku... malah membiarkannya." Tangisnya tertahan. Tidak tumpah, tapi cukup untuk merobek dirinya dari dalam.
Alexander mengangkat pandangannya perlahan. Ia duduk tegak di sisi ranjang, menatap wajah Floretta yang kini terbuka, tidak lagi berpura-pura tidur.
"Flo..." akhirnya ia bicara, lirih. Tapi sebelum kalimatnya selesai, Floretta menggeleng pelan.
"Jangan bilang itu bukan salahku, Xander." ucapnya. "Karena jika ada satu orang yang tahu seberapa rusaknya aku... itu kamu."
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Alexander memberanikan diri menggenggam tangan Floretta dalam keadaan Floretta sadar.
Bukan genggaman yang erat. Bukan pula sebuah janji yang diucapkan dengan mulut.
Tapi sebuah genggaman diam sunyi tapi hangat dari satu jiwa yang terluka kepada jiwa lain yang masih berdarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
