Gelap.
Kosong.
Dan kehilangan.
Itu yang pertama kali Floretta rasakan.
Bukan rasa sakit, bukan ketakutan.
Tapi kekosongan yang sunyi, seperti ada sesuatu yang telah diambil darinya tanpa permisi.
Ia tidak tahu di mana ia berada, tidak tahu berapa lama ia sudah di sana.
Seolah melayang dalam ruang tanpa bentuk, tanpa batas, tanpa suara.
Waktu tidak terasa berjalan, ia hanya diam. Terjebak antara dunia dan dunia berikutnya, seperti roh yang ragu memilih pulang atau pergi.
Seolah ada sesuatu. Sesuatu yang menariknya kembali. Bukan tangan, bukan suara. Hanya perasaan samar bahwa ia belum selesai.
Kelopak matanya bergetar, lalu sekali lagi. Kabut yang menyelimuti pandangannya mulai surut. Cahaya putih perlahan masuk dari sela kelopak matanya yang berat.
Bukan cahaya terang yang menyilaukan seperti akhir kehidupan...
melainkan cahaya lembut, samar... yang menandakan ia masih hidup.
Floretta mencoba menggerakkan bibirnya, tak ada suara. Udara pun serasa menolak masuk ke paru-parunya, tubuhnya terasa asing seperti bukan miliknya.
Kaku.
Nyeri.
Tapi lebih dari itu, yang paling menyakitkan adalah rasa kehilangan yang nyata tanpa ia tahu apa yang hilang.
Air matanya jatuh tanpa diminta. Pelan, diam, tapi terus mengalir.
Seolah tubuhnya ingat sesuatu yang pikirannya belum mampu jangkau.
Ingatan-ingatan di kepalanya seperti potongan puzzle basah yang baru diangkat dari laut.
Retak. Kabur. Tidak utuh.
Apa yang terjadi padaku...?
Siapa yang kutangisi...?
Ia mencoba mengingat wajah seseorang, suara seseorang. Tapi yang datang hanya rasa nyeri yang menekan dada, seperti lubang kosong yang terlalu dalam untuk dijelaskan.
Aku kehilangan sesuatu...
Atau seseorang...?
Pikiran Floretta melayang ke arah langit-langit ruangan putih, ke selang-selang infus yang menancap di tubuhnya,
ke deru mesin yang berdetak seperti nyawa buatan.
Dan di sela semuanya, hatinya memanggil nama tapi lidahnya tak mampu menyebutkannya.
Satu nama, satu wajah.
Satu perasaan yang seharusnya hangat, tapi kini hanya menyisakan dingin dan hampa.
.
.
.
.
Hari-hari pasca sadar bukanlah akhir dari penderitaan melainkan awal dari pemulihan yang panjang dan melelahkan.
Tubuh Floretta lemah. Otot-ototnya seperti dilupakan oleh waktu. Langkah pertama adalah duduk. Lalu berdiri, palu belajar berjalan kembali pelan-pelan, dengan tangan bergetar menggenggam sandaran kursi roda.
Tapi Floretta tidak mengeluh.
Karena meski seluruh tubuhnya masih mengingat rasa sakit, hatinya punya alasan untuk bertahan.
Untuk sembuh, untuk kembali hidup.
Dan saat benang-benang ingatan mulai tertarik kembali satu per satu,
ada satu nama yang terucap lirih dari bibirnya saat malam dan kesepian menyatu.
"Zerrin..."
Anak kecil itu, putri kecilnya.
Bagian dari hidup yang pernah hampir ia lupakan karena koma, dan kini menjadi pusat semesta kecilnya.
Semakin hari tubuh Floretta semakin kuat. Tangannya mulai bisa menggenggam gelas tanpa tumpah.
Ia mulai bisa duduk lebih lama tanpa pingsan. Ia bahkan tersenyum ketika menyisir rambutnya sendiri, meski jari-jarinya masih kaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
