Sudah lama Floretta tidak melihat Isaac Foster secara langsung. Ia mengamati pria itu dari tempat duduknya tubuh Isaac tampak lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu. Bahunya sedikit membungkuk, dan lingkaran gelap di bawah matanya menandakan kurang tidur yang kronis. Namun senyum khasnya, yang selalu sedikit terlalu percaya diri, tetap tidak hilang.
Isaac datang bersama Vivian dan George. Anak kecil itu kini tengah duduk di atas karpet bulu bersama Zerrin, menyusun balok warna-warni. Meskipun, jika diperhatikan, George lah yang tampak paling bersemangat matanya berbinar, tangannya lincah menyusun bentuk. Zerrin sendiri masih memeluk erat boneka kelincinya, duduk tenang sambil mengamati hasil susunan George. Sesekali, dia berceloteh pelan, memperbaiki letak balok yang menurutnya salah.
Floretta mengamati momen itu sejenak sebelum akhirnya menatap Isaac dan berkata dengan nada ringan namun tajam:
"Kau… seperti monyet yang terlantar, Isaac."
Isaac langsung memegang dadanya, meringis dramatis seperti aktor sinetron kehabisan naskah. "Uhhg... Kau benar-benar kejam, Ana."
"Ini karenamu, tahu nggak?" lanjutnya, sekarang dengan nada mengeluh yang sengaja dibuat manja. "Sejak dengar kau kecelakaan dan koma, aku kehilangan nafsu makan. Jiwaku ikut koma juga."
Ia mengedipkan mata kirinya ke arah Floretta, mencoba menyelipkan godaan dalam leluconnya.
Vivian yang sejak tadi duduk di sofa dengan satu bantal dalam pelukan, mendengus tajam. Ia tak perlu bicara banyak. Dengan gerakan cepat, ia melemparkan bantal itu tepat ke wajah sepupunya.
Bugh!
Isaac terkejut tapi tidak sempat menghindar. Bantal itu menampar pipinya dengan lembut tapi memalukan.
"Jangan dengarkan dia," ujar Vivian tajam kepada Floretta. "Kau tahu, seluruh hartanya sedang dibekukan oleh ibunya sendiri."
Floretta menoleh, penasaran. "Kenapa?"
Vivian bersandar santai, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Floretta. Suaranya mengecil, penuh rahasia.
"Dia berpacaran dengan Naina."
Mata Floretta langsung membesar. Ia hampir tidak percaya. Refleks, ia memutar kepala ke arah Isaac dan menatapnya dengan tajam, nyaris terkejut.
"Kau?..." suaranya menggantung.
Isaac membulatkan matanya, wajahnya berubah antara panik dan defensif. Ia menatap keduanya seperti sedang menghadapi interogasi polisi.
"Kenapa sih?" serunya, menunjuk ke Vivian lalu ke Floretta secara bergantian. "Kenapa kalian selalu melihatku seperti aku ini penyebab bencana global setiap kali aku pacaran?!"
Vivian mendecak sambil melipat tangan di dada. "Karena biasanya kau memang begitu."
Floretta menahan tawa, meski matanya masih berbinar geli. Isaac mengangkat kedua tangannya pasrah, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa seakan menyerah pada dunia.
"Perempuan-perempuan dalam hidupku adalah kutukan," gumamnya pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang.
George yang sejak tadi bermain tiba-tiba menoleh dan berkata polos, "Mama, Paman Isaac lucu."
Floretta tertawa kecil, sementara Vivian hanya menggeleng dan menepuk kening. Suasana pun kembali cair, hangat, dan penuh canda sejenak menghapus ketegangan yang sebelumnya menggantung di hati Floretta.
.
.
.
.
.
Kevin mendesah pelan. lelah dan ya, mungkin sedikit iba. Perlu digarisbawahi, hanya sedikit. Karena kalau dipikir-pikir, Alexander sendiri lah yang menyerah lebih dulu. Dia yang memilih Leila. Dia yang membuang Floretta tanpa menjelaskan apa pun—dan sekarang, dia duduk di sudut ruang bawah tanah ini seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
