Waktu terasa berjalan lambat seperti siput. Dengan pikiran berkecamuk tentang bagaimana kondisi ibunya. Alpha itu merasa frustasi.
Jeno duduk di samping ranjang sang mama yang terbaring di rumah sakit, kemarin saat pulang sekolah mamanya mengirim pesan padanya dan memintanya datang untuk menemaninya. Tadinya Jeno pikir mamanya memang tengah ingin bersamanya saja, sampai ia melihat kalau omega kesayangannya itu terbaring di kamar dengan kondisi lemah. Alasannya, jelas karena mate mamanya lebih memilih bersama dengan oranglain.
Sejak mengetahui papanya memiliki omega lain selain sang mama, Jeno jelas marah karena tau kalau papanya tak akan mengalami banyak kerugian jika meninggalkan mamanya. Sementara sang mama akan lebih menderita, kondisinya bisa menjadi lebih lemah dari sebelumnya.
Dan setelah beberapa bulan ini Jeno cukup tenang karena mamanya terlihat baik-baik saja, pada akhirnya Jeno tetap mendapati omega yang melahirkannya itu tetap jatuh sakit. Jeno diserang rasa takut, karena mamanya akan jauh lebih menderita jika papanya tak akan kembali.
Yang menjadi harapan Jeno adalah, semoga papanya tak akan meninggalkan marking pada selingkuhannya itu. Jika sampai iya, maka kondisi mamanya bisa saja semakin buruk.
Keinginan Jeno saat ini adalah menyingkirkan omega tak tau malu yang kini tinggal di rumahnya itu, tapi ia belum menemukan cara yang bisa membuat papanya tak membela wanita itu. Karena kalau Jeno hanya bertindak tanpa mendorong papanya untuk ikut mengusir omega itu, percuma. Papanya justru akan berbalik memarahinya karena berbuat kasar pada selingkuhannya itu.
"Kalau ada hal yang bisa membuat tanda marking pada mama hilang, aku akan melakukannya." Karena jauh dalam dirinya, Jeno sebenarnya tak sudi jika mamanya harus kembali bersama alpha yang sudah mengkhianatinya itu. Tapi, jika tidak kembali pada papanya. Jeno harus siap melihat sang mama hidup menderita seumur hidupnya
Nyonya Lee hanya tersenyum geli mendengar ucapan putranya itu. "Bukannya besok mama sudah boleh pulang?"
"Tidak!" Jeno tak akan mengizinkan mamanya pulang sebelum kondisinya lebih baik, walaupun memang tak akan sepenuhnya membaik tapi setidaknya nafsu makan mamahnya tak seburuk kemarin.
"Kau semakin banyak alasan untuk tak pergi sekolah." Nyonya Lee mencubit lengan Jeno yang tak terpengaruh sama sekali dengan cubitan itu.
"Lagi pula pergi sekolah itu bukan hal yang menyenangkan, belajar itu membosankan." Tepat setelah mengatakan itu Jeno terdiam.
Nyonya Lee tersenyum kecil. "Bertemu Renjun, bukankah kau senang dengan itu?"
Alih-alih menjawab Jeno justru kembali mengusulkan hal lain yang ia pikirkan. "Ma, setelah mama keluar dari rumah sakit kita pergi ke cafe kesukaan mama ya?"
"Mama masih punya beberapa cookies yang kau belikan di rumah, dan mama sedang tak menginginkan kue."
"Memang bukan untuk mentraktir mama." Jawab Jeno.
Nyonya Lee mendengus geli, tau betul niat awal anaknya itu memang untuk pergi dengan Renjun. "Ajak saja sendiri Renjunnya, kenapa harus dengan mama segala."
"Kalau dengan mama ia tak akan banyak curiga." Mengingat bagaimana omega itu yang selalu menaruh curiga padanya, Jeno bisa menebak kalau nanti pun akan seperti itu.
"Mama juga memang sedang banyak curiga padamu saat ini." Kekeh nyonya Lee yang dijawab sebuah pejaman mata oleh Jeno, seolah mengiyakan pikiran sang mama.
Jeno meraih tengan mamanya, mengusapnya. "Beberapa minggu lagi Renjun akan ikut olimpiade, ia pasti akan sibuk belajar nantinya." Suaranya jelas sekali tengah membujuk omega wanita itu.
