Jeno keluar dari kamar mandi membawa handuk bersih yang ia bilas dengan air hangat, kemudian mendekati tubuh berbaring Renjun yang masih terengah setelah rasa sakit yang ia terima dari proses marking yang Jeno lakukan. Sesekali omega itu berdesis pelan karena rasa sakit yang muncul dari tengkuknya itu. Jeno kemudian membersihkan tubuh Renjun dari sisa mating mereka, memastikan agar omeganya itu merasa nyaman.
Setelah menyimpan handuk tadi, Jeno kembali untuk berbaring memeluk tubuh omeganya. Renjun dengan lemas membalas pelukan itu, menyamankan tubuhnya dalam pelukan alphanya. Renjun mengerang pelan saat Jeno mengecup lembut tanda markingnya. Jeno pun mengeluarkan feromon menenangkan untuk Renjun, mengusap kepalanya pelan.
Renjun yang merasa semakin tenang dalam dekapan Jeno, kini mengusakkan wajahnya pada leher sang alpha. "Alpha..." Erangnya pelan.
Alpha itu mengeratkan pelukannya. "Ya?" Tangannya menaikan selimut mereka saat mulai merasakan kulit Renjun yang terasa dingin. "Apa begitu menyakitkan?"
Tak ada jawaban, Renjun memejamkan matanya. Kesadarannya masih ada, tapi rasanya begitu melelahkan karena menahan kesakitan yang dimilikinya. Ia perlu waktu untuk mengeluarkan suaranya lagi. "Sakit.." Jawab Renjun lemah.
Mulutnya mengatakan hal itu, tapi rasanya ia lega menyadari ia mendapat kesakitan itu dari hasil mating mereka. Jeno melakukan marking padanya, tandanya ia dan alpha itu telah terikat. Renjun tak akan kehilangan Jeno lagi. Jeno adalah alphanya.
"Maaf, tapi itu memang yang akan kau terima kalau aku melakukan marking. Aku janji ini kesakitan terakhirmu dariku." Tangan alpha itu kini mengusap-usap punggungnya, Renjun juga merasakan sebuah kecupan pada puncak kepalanya.
Bukankah ini terlalu awal untuk Jeno mengucapkan janji seperti itu? Mereka tak akan tau kedepannya akan ada apa, bisa saja Jeno tanpa sadar menyakiti Renjun. Tapi alpha itu memang sudah dengan janjinya seperti itu sejak melihat bagaimana mamanya banyak merasakan sakit karena sang papa. Jeno tak akan membiarkan omeganya sendiri merasakan sakit karena kelakuannya,— ia sudah bersama pikiran itu sejak dulu.
Dan sekarang Jeno mendapat Renjun sebagai omeganya, tentu ia tak akan membiarkan Renjun merasakan semua rasa sakit karenanya. Seperti katanya, marking ini adalah sakit terakhir yang Jeno berikan pada Renjun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keesokan harinya Renjun bangun dengan keadaan tubuhnya yang sudah mengenakan pakaian yang kebesaran, bahkan saat ia bangun untuk menuju kamar mandi, celana panjangnya sampai menyentuh lantai.
Tengkuknya masih merasakan nyeri, napasnya juga masih terasa berat menahan erangan sakitnya. Renjun melakukan segala kegiatan dengan lambat, karena tubuhnya memang lemas.
Selesai mencuci muka, ia berbalik hendak mencari handuk. Dan pintu kamar mandi lebih dulu terbuka dari luar, menampilkan Jeno yang sama masih mengenakan baju tidur. Tangannya menarik tangan Renjun agar keluar dari kamar mandi, alpha itu meraih handuk dari dalam lemari di kamarnya kemudian membantu Renjun mengeringkan wajahnya.