banyak kapal yang telah meninggalkan pantai menuju ke arah pencakar langit, saat pagi hari tadi udara laut masih terasa sejuk namun menuju siang hari udara menjadi panas dengan angin berhembus kencang
"WOI OJO NGUMBE TEROS!! ENTEK ENGKO!!"
suara lantang seorang suku air memperingatkan, karena persediaan air itu terbatas, dan untuk berjaga-jaga mereka membawa sepuluh kelapa muda yang penuh air di setiap kapal dan satu kapal ada 2 orang
mereka tak akan berhenti sebelum mencapai pulau peristirahatan dalam waktu sebulan lagi
rasanya sangat tersiksa karena udara panas membuat haus tapi tak boleh minum dan angin yang berhembus kencang membuat tekanan sekitar agak membingungkan apalagi ombak laut yang membuat perut mual
Tama merasa agak mual dia ingin muntah tapi tak bisa kepalanya seperti berputar tapi tetap harus menggayuh kapal mereka agak tak tersesatkan ombak yang agak kencang karena angin dan berusaha agak tak tertinggal karena kapalnya adalah yang paling belakang
sedangkan pasangan kapalnya sudah berkeringat sangat banyak berusaha mendongak tapi tak bisa dan berakhir muntah di laut
sebenernya Tama agak jijik melihat itu jadi dia memalingan muka ke arah lain
.........
menjelang malam hari ombak mulai laut mulai reda angin malam tak sekencang angin di siang hari tapi masih sedit kencang udaranya benar-benar menjengkelkan bagi beberapa orang
bahkan Tama sendiri maasih kedinginan meskipun menggunakan kulit beruang berlapis kebanggaanya
seandainya ada bidadarinya yang wagi di pelukannya itu sudah lebih dari cukup
rasanya rindu sekali, pada hal baru beberapa jam mereka bertemu tapi harus berpisah lagi
Tama melihat ke depan pasangan kapalnya sedang mengigil bahkan udara yang keluar dari mulutnya sampai terlihat seperti asap putih
selimut yang di pakainya hanyalah kulit serigala dan hanya satu itu mana cukup Tama saja masih kedinginan
"hei bicara"
"tenang saja bahasa kita sama"
"kau dingin"
"iya ini sangat dingin, aku sehausnya membawa lebih dari satu kulit serigala"
"ayo berbagi"
"kau mau berbagi dengan ku?"
Tama mengangguk lalu bergeser mempersilahkan duduk di sampingnya, pria itu berdiri dan melangkah pelan agar kapal tidak terlalu banyak berguncang setelahnya mendudukan diri di samping tama dan mereka berbagi kehangatan kulit beruang besar itu bersama-sama sedangkan kaulit serigalanya di gunakan untuk menghangatkan kaki mereka yang mulai membeku kedinginan
Tama melihat ke arah pria itu tubuhnya cukup besar dan tinggi dengan beberapa bekas luka di sekujur tubuhnya, rambutnya bewarna emas dan matanya kehijauan
ah Tama ingat mereka adalah suku yang menghuni pengunungan katanya kulit mereka memutih kaarena di sana dingin, tapi apa benar demikian?
karena dia melihat pria itu masih kedinginan apa mungkin di sana tak sedingin yang di rumorkan?
Tama terus memandang orang di sampingnya membuat yang di pandang merasa agak tidak nyaman
"em maaf apa ada sesuatu?"
Tama menggeleng dan mengalihkan pandangannya kepada kelapa di dedepannya, dia ingin minum tapi malas bergerak karena dingin
"nama ku Ares aku dari pegunungan utara tepat setelah sengai aru"
"Dirgantara, dari hilir sunagai aru"
"kau terlihat seperti suku penjelajah? apa kau keturunan mereka?"
Tama mengangguk
"benarkah? wah ini pertama kalinya aku melihat suku penjelajah, kau tau menurut rumor suku mu sudah terpecah dan ada beberapa yang di tangkap suku lain untuk pemujaan dewa"
"tidak hanya aku yang tersisa"
"a a aku minta maaf, aku tak bermaksud mengatakan itu"
Tama menggeleng dia bersiap untuk tidur saja seharusnya dia tak perlu bicara itu menjengkelkan, kecuali dengan satu orang rasanya sangat hangat saat bicara dengan lintang suaranya pun lembut
akhirnya Tama pun menutup mata untuk tertidur
.......
dua mingggu telah berlalu persediaan makanan dan air mulai sedikit tapi mereka tak boleh memakan ikan di air laut kecuali bulu babi
ada beberapa kapal yang sudah kehabisan makanan mereka bahkan beberapa membusuk dan di makan belatung, tapi mereka harus tetap bertahan
bukan hanya makanan tapi tubuh mereka juga sudah kotor menutupi tubuh, baunya sangat menyengat tapi mereka tak bisa mandi dari kepercayaan suku air keringat dan kotoran dapat menangkal suhu dan penyakit bisa di bilang seperti pelindung tubuh
di kapal tama sendiri dia dan Aren hanya membawa dendeng dangin yang keras mereka sudah memperkirakan ini jadi dia tak membawa dagin segar hasih buruanya.
"kita beruntung tak membawa daging segar, hai Dirgantara lihat kapal itu mereka mulai penyakitan" Ares berkata sambil meminum air kelapa yang tinggal sedikit seperinya dia sudah terbiasa dengan ombak laut
Tama melihat ke arah yang di perlihatkan Ares dan benar saja kulit 2 orang di kapal itu tampak pucat juga sedikit menjijikan, tubuh mereka kurus buah kelapa dan air di situ telah habis apalagi banyak belatung mengerubungi cadangan makan di kapal itu
Tama mual melihatnya, tapi dia tak boleh membuang sarapannya jadi menoleh ke ara lain dan melihat kapal-kapal lain dengan keadaan yang tak jauh berbeda hanya di kapalnya dan penunjuk saja yang masih baik-baik saja
Tama menghela nafas ini semua demi dia dan bidadarinya membuat sebuah keluarga Tama akan bertahan, dia dari suku penjelajah pasti dia bisa pulang
tinggal 2 minggu lagi akan sampai di pulau peristirahatan
2 minggu setelahnya saat mencapai pantai di malam hari badai besar menerjang dengan pusaran angin di tengal laut untunglah rombongan Tama berhasil lolos walau ada dua kapal yang hilang
semua yang selamat lari berlindung di dalam gua besar di pulau itu, menunggu sampai badai reda
pagi hari telah datang badai juga telah berlalu
semuanya pergi dari gua mencari makanan dan persiapan lain selama sebulan di pulau itu termasuk membuat ikan asap dan dendeng dagin serta beberapa rumput laut yang terbawa ombak semalam
tak lupa juga mengasah senjata yang di bawa karena di bawah pencakar langit adalah sarang hiu
semuanya bekerja agar mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka lagi dan pulang dengan selamat
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak di Waktu yang berbeda
Science Fictionawalnya aku hanya orang yang depresi mencoba untuk bunuh diri dengan tenggelam di kolam renang dekat sekolah, sambil terus berdo'a agar tak terlahir di waktu ini sampai tak sadrkan diri. tapi saat ku membuka mata aku melihat sekeliling dan banyak pe...
