Lintang menghempaskan tangan Timin dengan kasar
"m maaf aku gak bisa"
"kenapa? apa kurang ku? aku seorang prajurit desa, aku bisa memberimu apapun, kau mau makanan? tempat hangat? perlindungan?"
Timin berkata sambil mencekram bahu Lintang kasar, Lintang semakin meringis kesakitan
hingga membuat Amber maju mencekram tangan Timin mencoba menghentikannya
"HENTIKAN!! APA YANG KAU LAKUKAN!! ITU SAKIT!!"
Timin yang mendengar itu dari Amber mengendurkan tangannya dari bahu lembut milik Lintang, tapi tangannya masih bertengger di sana
"HEH KAU BAJI**AN!! LEPASKAN TANGAN MU DARI LINTANG!! KAU BAJI**AN TOLOL!!"
"TAK USAH IKUT CAMPUR INI URUSAN KU DENGAN LINTANG!! DIA BIDADARIKU!!"
PLAK!!
Lintang yang sudah mulai kesal menampar pipi Timin dengan keras tapi itu tak berdampak pada Timin yang tubuhnya sudah sangat keras karena dia seorang prajurit desa
tapi tetep saja itu membuat Timin kaget leleki tmpan itu membelalakan matanya dan menggeram marah
"kau pikir apa yang kau lakukan?!"
"aku yang harusnya bertanya begitu!!
kau bahkan tak mendengarkan jawabanku!!"
"ah maaf ini karena si jelek itu" sambil menunjuk ke arah Amber
"heh tolol aku gak jelek ya!!"
tanpa menghiraukan omongan Amber Timin masih fokus pada Lintang
"Timin maaf tapi aku tak bisa, benar-benar tak bisa,"
"kenapa?!"
"aku menunggu seseorang"
"siapa?! katakan?!"
pipi Lintang bersemu kemerahan dengan malu-malu dia berkata dengan lemmbut
"su suami ku"
seketika dunia Timin terasa hancur bahkan yang di bawahpun ikut turun tak bersemangat lagi
"j jadi dimana suamimu?"
"dia sedang menuju ke pencakar lagit, untuk mencari buah merah"
mata Timin kembali berbinar, dia tahu kalau yang pergi ke pencakar langit hampir tak ada setengah rombongan yang kembali, dengan memberanikan diri dia bertanya ke pada Lintang
"apa yang kau lalukan, jika dia tak kembali?"
"a aku akan tetap setia padanya, hanya satu seumur hidup"
"apa tak ada harapan untukku?"
"aku tak tau" Lintang menyingkirkan tangan Timin dari bahunya, sungguh dia merasa terganggu karena Timin dengan beraninya mengelus bahunya dengan tangan kasarnya
merkipun tangannya sama dengan tangan milik Tama yang besar dan kasar, entahlah hanya saja rasanya berbeda
"kalau begitu aku akan berjuang"
"heh TOLOL !! gak usah ya pake berjuang-berjuang segala udah pergi sana jangan ganggu!! gak ada harapan buat mu!!"
"jelek diam aja!!"
"heh enak aja ngatain!! kalau aku jelek kamu apa? buruk rupa?!!"
"apa maksud hinaan mu itu!!"
"ipi miksid hiniin mi iti"
Timin yang kesal mangepalkan tangannya tapi di hentikan oleh Segara
"mas wes mas, ayo mentas, ojo ngamuk-ngamuk wae"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak di Waktu yang berbeda
Science Fictionawalnya aku hanya orang yang depresi mencoba untuk bunuh diri dengan tenggelam di kolam renang dekat sekolah, sambil terus berdo'a agar tak terlahir di waktu ini sampai tak sadrkan diri. tapi saat ku membuka mata aku melihat sekeliling dan banyak pe...
