"Tama mau kemana? "
"Persiapan"
Lintang melihat Tama berkemas membawa senjata tombak batu dan mantel bulu yang tebal nan besar sampai menutupi tubuhnya
"selarut ini?" Lintang bertanya bukan tanpa alasan karena malam masih sangat larut hawanya dingin dan banyak suara binatang buas di luar rumah
Tama hanya mengangguk untuk menjawabnya, merasa tak puas Lintang bertanya lagi
"t tapi untuk apa? bukankah bisa cari makan besok pagi saja?"
Tama berjalan menghampiri Lintang dan menyatukan kening mereka berdua
"istri istirahatlah, suami akan pergi untuk perbekalan"
"kenapa butuh bekal? kau mau pergi kemana? p padahal k k kita baru saja hiks hiks"
"istri janagn menangis, suami pergi ke pencakar lagit, ambil buah merah, lalu istri makan dan punya keturunan"
"hah?"
Lintang bingung dengan apa yang di katakan oleh Tama, dia ini lelaki tulen mana mungkin punya keturunan, lalu perkataan seseorang dari desa terlintas dibenaknya,
jadi itu artinya Tama akan pergi meninggalkannya sementara waktu, pandangan Lintang menjadi suram ia teringat dengan kejadian di masa kelamnya dulu, Tama melihat Lintang menjadi tenang mengecup bibir Lintang memeluknya sebentar dan kemudian pergi meninggalkannya bersama Boba yang masih tertidur
2 hari sudah Tama meninggalkan Lintang sendirian di rumahnya dengan berbekal daging besar di dalam rumah
Lintang terus menunggu di depan rumah dengan duduk di dekat api menyiapkan sup hangat sederhana buatannya berharap tama akan kembali dan memakannya dengan wajah bodoh miliknya yang kebingungan sekaligus senang
namun seberapa Lintang menunggu Tama tak kunjung kembali, sebenarnya apa yang terjadi dengan suami barunya itu
hari ke 3 Tama pulang ke rumah dengan menyeret banyak hewan buruannya yang sudah di bersihkan dan di pisahkan ada tulang, daging, taring, dan kulit yang menumpuk
Tama mengikat semua itu ke alas kayu menyerupai gerobak tapi tanpa roda dengan dia sebagai pengganti kuda
Lintang dan Boba yang melihanya segera berlari menghampiri Tama dan menabrakan Tubuh mereka sedangkan Boba menggonggong dari bawah dan berusaha mencari perhatian mereka berdua akhirnya Tama menganggkatnya dan ikut memeluk Boba
"kau lama sekali, apa kau dapat?"
"belum ini bekal"
"kau mau pergi lagi?"
Tama mengangguk dan kemudian menunduk "ingin istri mengantar, sampai batas air dan tanah"
"maksudmu kau akan pergi ke pantai?"
"pencakar langit"
Lintang menunduk sedih
"artinya kau akan pergi lagi? t tapi bagaima kalau ada badai? kapal apa yang akan kau gunakan? l l lalu ombak d dan makanan? "
"istri tenang, suami akan kembali"
"t tapi memangnya aku bisa hamil jika makan buah itu?"
"bisa"
"bagaimana caranya?"
Tama menggelengkan kepalanya tanda tidak mengetahui juga bagaimana itu bisa terjadi
"tapi semua suku lelaki dan lelaki menikah, makan buah merah lalu ada anak, ayah dan bubu juga begitu"
"siapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak di Waktu yang berbeda
Fiksi Ilmiahawalnya aku hanya orang yang depresi mencoba untuk bunuh diri dengan tenggelam di kolam renang dekat sekolah, sambil terus berdo'a agar tak terlahir di waktu ini sampai tak sadrkan diri. tapi saat ku membuka mata aku melihat sekeliling dan banyak pe...
