53 ~ PARA DEWA

723 62 1
                                        

Para suku air berkumpul di depan jembatan kerajaan Gunung timur

tatapan para harimau penjaga menjadi ganas, tak mengenal orang-orang yang datang

Boba mencoba bersikap seperti para harimau dengan menundukkan sedikit kepalanya.

dari belakang Koi datang memecah rombongan hewan, ia berjalan mendekat ke arah seorang pemimpin muda yang ada di depan

tiba-tiba sang pemimpin bersimpuh di ikuti para anggota suku lainnya

"WAHAI DEWA GUNUNG TIMUR! NAMAKU ADALAH TIMIN! PEMIMPIN SUKU AIR SAAT INI! KAMI MOHON KEPADAMU UNTUK MENERIMA KAMI MENGUNGSI DI SINI SEMENTARA!"

"bangunlah"

Timin dan para pengikutnya mulai berdiri, Koi dapat melihat beberapa anak kecil yang kesusahan berdiri, anggota tubuh mereka ada yang sudah tak lengkap lagi, Koi tersenyum miris melihatnya

"masuklah kalian semua diterima di sini"

semua suku air tersenyum, akhirnya mereka punya tempat beristirahat, sudah beberapa bulan mereka berjalan mencari perlindungan suku lain, tapi mereka menolak bahkan sudah ada yang pergi mengungsi terlebih dahulu saat mendengar suku air di serang

satu-persatu suku air datang melintasi jembatan akar yang menakutkan, beberapa anak yang tak pernah melintasi jembatan saling berpegangan tangan dan berjalan secara perlahan lantaran hujan menjadi sedikit deras, pijakan kaki semakin licin

seorang anak di belakan Timin gemetar kedinginan, ia memegang satu tangan Timin, mata kirinya di perban, membuat penglihatannya kurang jelas

"mas... apa mengko wes iso turu?"
(mas... apa nanti sudah bisa tidur?)

"em~ ojo khawatir, Segara"
(em~ jangan khawatir, Segara)

...

Semua pengungsi sudah masuk ke dalam kawasan Gunung timur, banyak yang takjub lantaran susunan rumah yang berbeda dengan apa yang pernah mereka lihat

Banyu terus mengawasi keadaan di tempat tinggi, ini mengingatkan dia akan masa lalu tapi bedanya hanya ada dua orang yang selamat dan satu yang bisa bertahan

Dengan mata suram dia memakan anggur menyaksikan keadaan

Dari kejauhan ia melihat Timin yang menghampiri Koi di singgasana nya dengan menggendong dua ekor truelu (kelinci besar)

"ini memang tidak banyak, hanya ini yang bisa kami persembahkan untuk sekarang, wahai dewa kumohon sembuhkan warga ku"

Koi memperhatikan Timin beberapa detik sebelum ia berbicara

"apa kau tau konsekuensi meminta kesembuhan dariku? "

Timin menelan ludahnya, keringat sebesar biji beras mengalir dari dahinya, ia pernah mendengar kalau sang dewa selalu meminta pertukaran yang menyakitkan dari neneknya

"aku bersedia! asalkan rakyatku selamat!"

menjatuhkan dua truelu Timin segera bersujud di depan Koi

Para warga desa yang menyaksikan muali berbisik, para harimau di sekitar mengaum dengan keras

Boba ingin mengikuti tapi dia bingung untuk apa mengaum?

"GRAAAAAA!!! "

"Awuuuuuu! " hanya itu yang bisa Boba lakukan

Terjebak di Waktu yang berbedaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang