14 ~ MENUNGGU

1.8K 185 2
                                        

malam hari suara-suara binatang terdengar cukup nyaring di bibir pantai, Lintang tak bisa tidur merskipun alas tidurnya sangat empuk dan hangat, rasa khawatir terus merambat di hatinya, jadi Lintang memutuskan untuk jalan-jalan di pantai saja

tapi baru saja wajahnya ada di depan pintu rasanya langsung seperti di celupkan ke air es jadi dia kembali dan membawa potongan kulit beruang sebagai pelindung dan Boba di gendonganya untuk bantal penghangat

dan akhirnya Lintang siap untuk pergi jalan-jalan di malam hari

.......

telapak kaki Lintang yang lembut mulai ada kulit keeras yang tumbuh karena kebiasaan barunya yakni berjalan jauh, bahkan kakinya yang dulu penuh lemak dan lembek sekarang menjdi kencang walaupun masih tak menonjolkan ototnya

tapi tetap saja itu terlihat kencang

kaki Lintang menapaki pasir putih di pantai rasanya lembut walau kadang ada beberapa kerikil menancap di sela kakinya

rasanya jadi teringat sandal karet hijau yang lentur kesayangannya di rumah.

mata coklat terang milik Lintang melihat sekeliling pantai menemukan seorang berambut pirang yang menatap ke arah laut dengan ekspresi yang sangat sepi matanya tak memancarkan cahaya

seperti sedang menangis tapi tak ada air mata

dan lagi dia bahkan tak memakai kulit hewan atau apapun yang bisa di jadikan selimut hanya baju dari kulit kambing miliknya saja pasti dingin

Lintang menghampirinya

"h hei"

pria itu menoleh ke arah Lintang dengan ekspresi kosong wajahnya seperti bayi kulit putih dengan bintik-bintik alami dan pupil matanya bewarna hijau ke kuningan sangat cantik

"APA?! HAH!! KAU BICARA PADAKU?!?!!"

'ukh! preman, tapi bahasa kita sama'

"kau tidak kedinginan?"

"HUH! kalau iya kenapa ha?!!"

Lintang tersenyum dan mendekat lalu merentangkan kulit beruang yang besarnya melebihi tubuh kecilnya

"kemari bergabunglah dengan ku!"

"huh ku pikir apa, ternyata hanya itu hah?!" walau berkata begitu dia tetap bergabung dengan Lintang dan Boba

"humh rasanya cukup hangat, kenapa si payah itu tak berburu beruang saja, si tolol itu pasti kedinginan huh!"

"ahahaha seharusnya kau lebih lembut memanggil suami mu, kenalkan namaku Cahya Lintang"

menoleh ke arah Lintang dan Boba yang menguap di gendongannya "Amber"

"eh kau perempuan?"

"BODOH kau sendiri punya nama seperti perempuan!!! hah! jamgan tertawa!! WOI!"

"ahahaha maaf maaf, nama mu cantik kok pas kaya orangnya kuning mencolok mata"

"WOI!!"

"ahahaha"

setelah beberapa saat tawa lintang pun reda dan kembali bertanya kepada Amber

"kau menunggu suami mu?"

"tentu saja apalagi yang ku tunggu?! ikan hiu terbang? hah!?"

"ya ampun kasarnya"

"huh, kau tau ini bukan yang pertama aku menunggu seperti ini"

"benarkah?"

Amber mengangguk "dan si tolol itu juga bukan suami pertamaku"

"uh, apa terjadi sesuatu dengan suami pertama mu?"

Amber mengangguk lagi "dulu aku penah punya suami sebelum si tolol, aku memanggilnya letoy"

'orang unik' Lintang mendengarkan sambil membatin dalam hati

"dia orangnya sangat halus tutur katanya sopan semua yang ku minta di turuti olehnya dia tampan dan punya tongkat daging yang besar dan tebal!!"

"ukh!"

"tapi hanya satu perrmintaan ku yang tak di turuti si letoy itu sudah kubilang gak usah pergi, tapi tetap ngeyel!! letoy tolol!"

"dan itu pasti permintaan agar tak pergi ke pencakar langit"

"hu um letoy tolol"

"dia bahkan tak kembali, katanya tubuhnya terserang penyakit saat di perjalanan lalu kapal mereka hanyut kena badai karena terlambat sampai di pulau peristirahatan hiks letoy ...."

Lintang memeluk Amber agar sedikit merasa lebih baik, karena tubuh mereka yang sama-sama kecil memluk boba rasanya hangat dan lembut mereka pun berbicara sampai tengah malam dan saat mendengar suara anjing liar mereka segera berlari masuk ke dalam rumah

sesampainya di dalam mereka tersenyum dan tertawa bersama

Lintang menyuruh Amber untuk tidur di sampingnya, karena Amber adalah orang yang tak sungkan jadi dia langsung menumpuk barang-barangnya di tempat Lintang sekarang tempat tidur mereka terlihat seperti sarang

sebelum tidur Amber memanggil Lintang agar melihat ke arahnya, lantas Lintang pun menoleh dan mendapati Amber dengan mata itu lagi

"heh Lintang gimana kalau si Tolol itu gak pulang"

tangan Amber memegang erat tangan Lintang saat ini mereka sedang berbaring bersama dengan Boba di tengah mereka

"jangan khawatir dia pasti pulang"

"sudah ku bilang seharusnya gak usah pergi saja hik tolol! tolol!"

"suuuut jangan nangis" Lintang memeluk Amber lagi menenangkanya, mau bagaimana lagi pun dia juga khawatir denagan tarza- maksudnya Tama

"aku juga khawatir dengan suami ku, dia juga pergi"

"kalo gitu ayo kita nunggu dua tolol itu"

"gak usah bilang pun aku dah nunggu mereka dari pagi, ini juga baru hari pertama mereka pergi"

.

Terjebak di Waktu yang berbedaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang