Sore hari setelah mendapatkan banyak kelapa bertumpuk--tumpuk, Lintang tak perlu bersusah payah membayarnya dengan banyak daging karena hanya, beberapa porsi sup daging buatannya sudah cukup, bumbunya masih sama hanya saja dagingnya adalah daging buruan Tama, sebenarnya ia tak tau daging apa itu
setelah mendapatkannya Lintang meminta bantuan beberapa penduduk desa yang lewat, setelah mengincipi sup buatan Lintang, untuk mengupas kelapa, sebenarnya mereka tergiur dengan makanan apa yang akan di buat Lintang, karena itu pertama kalinya mereka memakan makanan yang membuat mereka meneteskan air mata
"hei aku ingin bertanya apa ada alat seperti parutan di sini?" -Lintang
"apa itu parutan?" seorang penduduk desa bertanya, baru kali ini dia mendengar ada alat yang punya nama seperti itu
"kau tau, itu seperti alat untuk menghaluskan sesuatu?"
"kenapa harus di haluskan?"
"nanti kau akan tau, jadi tidak ada alat seperti itu di sini?"
beberapa penduduk desa menggelengkan kepala mereka, dan Lintang pun menghela nafas, jadi dia harus membuat alat parut sendiri?
....
di pesisir pantai Lintang dan Amber sendang mencari beberapa batu kasar, tapi Lintang punya pemikiran lain, yakni dengan menggnakan kulit kerang
akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengambil kulit kerang saja yang bergerigi dan lancip
lalu setelahnya mereka kembali untuk menyerut kelapa, menjadikannya santan yang sangat banyak di tamppung di kendi tembikar, sebenarnya Lintang sudah menjelajah bersama Amber dan boba menyusuri daerah pegunungan, menuju ke arah reruntuhan bangunan yang seperti rumah di tinggalkan bahkan masih ada beberapa barang yang utuh meskipun ada beberapa yang tertelan usia, seperti berkarat pecah, berlumut dan sebagainya
meliat dai kondisi rumahnya yang dinding dan pondasinya hampir hancur namun cuma retak di beberapa bagian, Lintang menyimpulkan kalau itu terkena pergeseran tanah atau terkena gempa
karena dia dan Amber tak menemukan adanya tulang manusia di sana bisaa di pastikan kalau dulunya mereka sudah mengungsi terlebih dahulu
meski begitu tetap saja desa yang di tinggalkan punya nuansa yang menakutkan
dan bagusnya ada beberapa alat dapur yang berkarat, jadi Lintang memungut beberapa walaupun sudah di larang oleh Amber
dan di sisni lah dia sekarang,
di desa suku air sedang memasak santan di atas sebuah wajan besar yang di temukannya, awalnya itu sedikit berkarat namun setelah di cuci, karatnya sudah hilang dan ternyata itu terbuatdari setenlistil bukan besi jadi tak mudah berkarat dan awet tak termakan umur
setelahnya baru selama semalaman penuh hanya dia dan amber yang menjaga agar tungku yang penuh api tak padam,
angin malam malai berhembus, Lintang sudah merasakan dingin di sekujur tubuhnya namun tidak dengan Amber yang memang tinggal di pegunungan jadi angin ini bukan klah apa-apa baginya
merasa tak kuat Lintang pergi ke rumah para istri pria yang penuh dengan selimut kulit pemberian Tama dulu
setelahnya dia menghampiri Amber dan dan Boba yang sedang memandangi bara api yang terbakar
"hei Amber sini, gak dingin ya?"
Amber dan Boba menoleh dan segera masuk ke dalam selimut kulit beruang itu, sementara warga desa lainnya sudah pergi ke rumah masing-masing saat matahari telah terbenam
Amber manyenderkan kepalanya di pundak Lintang menikmati hangatnya terpaan api, lalu dia membuka percakapan
"hei Lin apa kau tak indu dengan suami kaya mu itu?"
"em, sangat malahan ....... jika dia kembali aku akan memberikan ciuman pertama ku padanya lalu memluknya dengan erat"
Lintang berkata denagn malu-malu pipinya bahkan sudah bersemu kemerahan
"aku juga rindu dengan si TOLOL itu"
"berhentilah menyebut suamimu seperti itu"
"tapi dia memang TOLOL!! dia selalu menentang semua perkataanku!! bahkan dia dengan mudah tau apa ke inginan ku meskkipun akku sudah menolaknya ...... hiks kami selalu hidup sederhana dan berkecukupan, jika makan kita akan mencari ikan di sungai atau berburu kambing hutan, lalu saat malam meskipun kami tak punya rumah seperti mu, kami selalu bahagia di dalam gua kecil kami, padahal waktu itu aku hanya asal bicara, Tapi si TOLOL itu menganggapnya serius dan pergi menantang pencakar lagit hiks hiks aku rindu padanya"
Lintng tersenyum lembut ke arah Amber lalu mengelus kepalanya dengan lembut
"kau tau suami ku, tak banyak bicara, kurasa dia agak sedikit ke susahan dengan bahasanya, bahkan terkadang aku harus menggunakan bahasa isyarat agar dia mengerti"
"benarkah?"
di jawab Lintang dengan anggukan
"waktu itu dia bahkan hanya bilang padaku kalau dia akan melakukan persiapan, aku sebenarnya binging waktu itu, dan tiba-tiba meninggalkan rumah, aku terus menangis dan menunggunya, bahkan aku selalu membuatkan dia sup, jadi kalau dia pulang dia akan langsung memakn sup yang sangat di sukainya itu hehe ......"
air mata mulai mengalir di pipi manis Lintang
"saat dia kembali dia hiks membawa banyak sekali daging kulit dan juga tulang, ku pikir sudah selesai jadi kita bisa bersama lagi tapi dia ternyata akan pergi lagi bahkan sangat jauh hiks hiks"
"dia tak mengatakan apa-apa pada mu?"
"dia hanya menatapku lalu memberiku pelukan dan dia sudah berangkat"
"jadi begitu ..... suami ku saja, dia selalu berbicara padaku sebelum berangkat, rasanya dia begitu cerewet, tapi setelah lama tak bertemu sekarang aku sangat rindu dengan ocehannya, dan usahanya untuk mendapatkan apa yang ku mau"
"suami mu orang yang lucu hehe"
Amber dan Lintang pun tersenyum dan terhanyut dalam pembicaraan mereka sampai ada sorang pria cantik dengan kulit hampir seputih Lintang memakai kulit harimau
"apa yang kalian lalkukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak di Waktu yang berbeda
Ciencia Ficciónawalnya aku hanya orang yang depresi mencoba untuk bunuh diri dengan tenggelam di kolam renang dekat sekolah, sambil terus berdo'a agar tak terlahir di waktu ini sampai tak sadrkan diri. tapi saat ku membuka mata aku melihat sekeliling dan banyak pe...
