Sore hari menjelang malam, hujan turun, mengguyur kerajaan gunung timur
Dengan telaten Lintang menyiapkan bahan-bahan memasak hari ini
Ia yang tadinya berkeinginan makan semangka sekarang hilang sudah ketika melihat daging ikan segar
Bersenandung senang Lintang memeriksa minyak kelapa miliknya, dan menemukan kalau itu hampir habis bahkan ia tak tau apakah cukup untuk menggoreng
Dirgantara yang melihat istri kecilnya gelisah segera menghampiri dan menepuk bahu Lintang
"Ah! Tara! Kau mengagetkan ku"
Dirgantara memiringkan kepala
"a... da... apa? "
"um~ itu... Sepertinya minyak goreng habis, apa kita bisa minta kulit ikan dari Koi?"
Dirgantara mengangguk mengerti lalu berjalan menuju singgasana Koi ia bertanya dengan bahasa yang bercampur aduk, orang-orang yang mendengar menjadi agak bingung, tapi Koi hanya tersenyum geli
"Ambil saja, lagipula tak ada yang makan kulit ikan, itu akan gosong saat terbakar, rasanya juga kurang enak, benarkan?! "
Semua yang berkumpul di sana setuju, dengan cekatan mereka membersihkan bagian ikan yang mereka terima, lalu menyerahkan kulit ikan kepada Dirgantara
"Ambilah lagi pula tak ada yang suka kulit ikan di keluarga ku"
"aku juga, ini ambil"
"kenapa kau suka kulit ikan? itu terasa seperti arang jika kena api"
Dirgantara menerima semua kulit ikan itu dengan senang, sekarang sudah banyak yang terkumpul bahkan terlihat seperti tumpukan buku sangking tebalnya, hingga menutupi dada Dirgantara
Sementara Candra sudah lebih dulu menyerahkan ikan miliknya kepada Lintang
ia pasrah akan di apakan ikan itu, lagipula apapun buatan Lintang pasti enak
Lintang yang melihat banyak kulit ikan yang didapat Dirgantara segera menyiapkan api
Ia juga menghaluskan semua bahan
di mulai dari bawang merah dan putih, garam, ketumbar dan jintan
Lintang sempat berpikir kalau saja ada penyedap rasa (micin) pasti akan lebih enak, Lintang menggelengkan kepalanya pelan berusaha menghilangkan satu bumbu curang itu
Candra menopang kepalanya melihat Lintang, ia merasa mulai bosan
"Hei~
Lintang~
ada yang bisa ku bantu? "
"Ambilkan air sedikit aja"
Candra mengangguk mengerti, ia segera menyuruh Surya kakaknya yang sedang melamun melihat hujan untuk mengambil wadah di rumah mereka
Hanya dengan beberapa lompatan Surya berhasil sampai, kemudian turun lagi membawa batok seukuran baskom besar
Lintang sampai kaget melihat batok itu, ia sempat berpikir sejenak, memangnya itu batok apa? Apa ada kelapa sebesar itu? dan lagi, memangnya bumbu ini akan cukup?, itulah beberapa pertanyaan yang ada di kepala Lintang
Surya tak langsung menyerahkan batok itu, tapi dengan sabar ia meletakkannya di bawah hujan, menunggu hingga terisi setengah
Dirgantara juga kembali dengan kulit ikannya, Lintang meminta agar kulit itu di potong-potong kecil seukuran telapak tangan
tapi Lintang lupa perbedaan telapak tangan miliknya dan Dirgantara
Setelah air siap, Lintang langsung melarutkan bumbunya di dalam air, mengetes dulu bagaimana rasanya
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak di Waktu yang berbeda
Ciencia Ficciónawalnya aku hanya orang yang depresi mencoba untuk bunuh diri dengan tenggelam di kolam renang dekat sekolah, sambil terus berdo'a agar tak terlahir di waktu ini sampai tak sadrkan diri. tapi saat ku membuka mata aku melihat sekeliling dan banyak pe...
