Lintang dan Tama telah sampai di rumah mereka, Tama menengok ke arah wajan besar berisi cairan kuning di dalamnya
karena penasaran Tama menghampiri cairan itu dan bertanya
"oh itu namanya minyak kelapa"
"untuk apa?"
"hehe kemari duduk dulu, biar aku masakin yang enak"
Tama mengangguk dan duduk di sebelah Boba yang juga duduk, Tama melihat Boba yang sekarang agak sedikit besar dari sebelum dia pergi bahkan taringnya sedikit terlihat, sekarang mereka berdua memperhatikan Lintang yang sedang mengolah ikan dengan membersihkan isi perut ikan dan membumbuinya
Tama melihat kondisi rumahnya ada beberapa perubahan, yakni bebatuan yang di tumpuknya dulu untuk Lintang memasak dan itu sekarang telah di lumuri dengan tanah liat menjadi tak ada celah angin bisa masuk, hanya di bagian atas saja yang berlubang. lalu di halaman rumahnya ada beberapa tanaman yang Tama tak tau, mungkin Lintang menanam lebih banyak waktu dia pergi dan saat menengok ke atas Tama kaget rumahnya sudah di rambati tanaman berbunga lebat yang bewarna warni
Tama kaget saat mendengar suara suara minyak untuk pertama kalinya dan bahkan mapir berdiri, tapi boba mengigit celana kulit Tama untuk membuat Tama duduk kembali
saat telah matang Lintang menyajikan ikan goreng di dalam batok kelapa sebagai wadah, tidak mungkin kalau di taruh di atas daun nanti daunnya malah rusak
Tama melihat ikan itu, baunya sungguh menggoda, air liur sudah hampir tumpah, saat ikan di pegang tama kaget karena itu sangat panas bahkan melebihi daging bakar, hampir saja dia akan melempar ikan nya jika tak di hentikan Lintang
akhirnya Lintang menyuapi Tama dengan sumpit kayu yang di buatnya agar tak panas mana mungkin dia bisa buat sendok dan bambu jika bahannya saja hanya ada kayu
sementara Boba makan jeroan ikan yang di beri Lintang
saat suapan pertama Tama terkejut dengan rasanya sunguh ini sangat enak, sekarang giliran Lintang yang kaget melihat Tama menangis
'reaksinya sama seperti Amber dan Candra dulu' Lintang membatin dalam hati
"hehehe apa se enak itu?"
Tama mengangguk sebagai jawaban karena mulutnya tak bisa berkata apapun, seumur hidupnya baru kali ini ada rasa seperti ini, Lintang tersenyum melihatnya jadi tanpa perlu di perintah Lintang terus saja meyuapi Tama dengan ikan goreng sampai habis
...
saat malam hari tiba, setelah makan kentang dan ubi rebus, karena Lintang tau suaminya pasti sedan kelelahan jadi tak bisa berburu daging, tak apa lagi pula daging buruan Tama sangat besar dan dagingnya keras entah hewan apa yang di buru suaminya itu
bahkan dulu gusinya pernah sakit saat makan daging pemberian Tama di tempat suku air
tapi yang membuat Lintang tertawa adalah Tama menangis lagi saat pertama kali makan ubi dan kentang, apakah se enak itu?
katika akan pergi tidur Tama mengenggam tangan mungil Lintang dan menyerahkan sebuah kantung pada Lintang
"Tama apa ini?"
"buah merah"
Lintang mengangguk dan membuka kantung itu, ternyata isinya buah strawberry, jadi ini buah yang mempertaruhkan nyawa sampai harus pergi ke laut?, Lintang agak bingung, bagaimana buah asam manis ini masih tetap segar meski sudah berlayar selama berhari--hari atau mungkin berbulan-bulan?
Lintang melihat di kantung ada sekitar sepuluh buah dan semuanya masih sangat segar seperti baru di petik kemarin
tapi apa buah ini manjur?
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak di Waktu yang berbeda
Science Fictionawalnya aku hanya orang yang depresi mencoba untuk bunuh diri dengan tenggelam di kolam renang dekat sekolah, sambil terus berdo'a agar tak terlahir di waktu ini sampai tak sadrkan diri. tapi saat ku membuka mata aku melihat sekeliling dan banyak pe...
