***
Mereka tiba di rumah Jiyong. Sama seperti Lisa yang tinggal di apartemen, Jiyong pun tinggal di apartemen. Tempatnya tidak seberapa dekat dari kantor polisi, Jiyong tetap perlu kendaraan untuk sampai ke tempat kerjanya. Lokasinya kira-kira lima kilometer dari kantor polisi. Pria itu tinggal di sebuah apartemen sederhana. Jauh lebih sederhana dibanding tempat Lisa tinggal. Tidak ada pintu otomatis di lantai dasarnya, tidak ada juga tempat parkir gedung atau basement. Tempat parkirnya berada di depan gedung, dengan berbagai mobil biasa di sana. Tidak ada orang kaya raya yang mau memarkir mobil mewahnya di sana.
Menaiki lift, mereka pergi ke lantai lima. Lorong menuju unit apartemen Jiyong penuh dengan perabot penghuni lain. Sepeda anak, kotak-kotak kardus, pot keramik dengan bunga yang sudah kering, sepatu-sepatu bekas, galon air kosong, banyak barang di lorong itu namun Alice melangkah dengan santai sembari memegangi tangan ayahnya.
"Appa, Jiyul sudah punya pacar," kata Alice kemudian, menunjuk sebuah sepeda merah muda di lorong itu.
"Siapa?" tanya Jiyong, sedang Lisa mengerutkan dahinya—heran karena putrinya punya teman di sana. Alice hanya berkunjung sekali dalam sepekan, bagaimana bisa dia punya teman di sana?
"Woojin dari lantai sembilan. Katanya mereka sudah berpegangan tangan," cerita Alice, yang juga dengan santai membuka pintu rumah ayahnya. Gadis kecil itu sudah hafal kode pintu ayahnya.
"Alice, kau tahu kode pintunya?" heran Lisa akhirnya bersuara, setelah sedari tadi ia sibuk melihat-lihat. Ini kali pertama Lisa berkunjung ke sana, seumur hidupnya.
"Tentu saja," angguk gadis kecil itu, lantas menarik ibunya untuk masuk ke dalam rumah mantan suaminya.
Lisa mengekor, sedang Jiyong masih menahan pintu untuk dua perempuan itu. Begitu masuk, Lisa hampir jatuh karena terkejut, juga karena tersandung sepeda biru di dekat pintu. Tidak pernah ia duga akan ada sepeda anak-anak di sana, terlebih di dekat pintu.
"Oh! Sepedaku!" seru Alice kemudian. "Appa sudah memperbaikinya? Yey! Aku bisa bermain dengan Jiyul lagi!" katanya, juga terkejut melihat sepeda itu.
"Ah iya... Sepedanya selesai diperbaiki kemarin, appa belum bilang?" balas Jiyong, yang hanya menaikan bahunya untuk menjawab ketidak percayaan yang Lisa gambarkan di wajahnya.
Mereka kemudian masuk dan sekali lagi Lisa berseru. "Apa-apaan ini?!" katanya, tidak percaya dengan kekacauan yang ada di depannya. Dibanding dengan rumah yang ia dan Alice tinggali, rumah Jiyong yang justru terlihat lebih seperti rumah dengan tujuh anak-anak. "Selama ini, kau tinggal di tempat seperti ini?!" seru gadis itu, masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Apa?" santai Jiyong. Pria itu lantas duduk di sofa, setengah berbaring sementara Alice berlari ke lemari es untuk memberi ibunya minum. Di tempat parkir tadi, Lisa bilang kalau dirinya haus.
"Apa?" ulang Lisa, merasa kalau dirinya tidak akan bisa duduk di sana.
Sofa di rumah itu sudah penuh dengan Jiyong dan boneka-boneka, boneka yang bahkan tidak Lisa tahu kalau Alice memilikinya. Meja di depan sofanya penuh dengan kertas dan krayon, pensil warna bahkan kuas dan cat. Jangan tanya bagaimana keadaan karpetnya, tentu sudah kotor dengan banyak bercak cat. Di beberapa sisi, bulu karpetnya bahkan menggumpal karena akrilik yang mengering dan tidak pernah dibersihkan.
Di lantai berserakan banyak mainan, lego sampai mobil-mobilan dan figure-figure kecil hadiah dari menu makanan anak-anak di restoran cepat saji. Lisa menggunakan kakinya untuk menggeser beberapa mainan itu, agar tidak terinjak olehnya. "Kau tidak pernah merapikan rumah?! Bagaimana kalau mainannya terinjak?!" omel Lisa, tepat setelah datang.
"Rusak," jawab Alice, lantas mengulurkan tangannya untuk memberikan sekaleng soda pada ibunya.
"Kau tidak boleh minum soda," katanya kemudian, memperingatkan putrinya.
"Eomma minum soda, kenapa aku tidak boleh?"
"Kalau begitu eomma akan minum yang lain."
"Sodanya sudah ku buka... Eomma akan membuangnya? Katanya kita tidak boleh membuang-buang makanan?" kata Alice, sembari tersenyum, jelas ia akan menggunakan seribu satu cara untuk bisa minum soda sekarang.
Dari sofa, Jiyong hanya menonton. Mengagumi hasil karyanya—Alice dan kemampuan gadis kecil itu membantah ucapan ibunya. Melihat putrinya bertukar tatap dengan Jiyong, Lisa lantas menoleh pada mantan suaminya, menatap kesal pada Jiyong yang sekarang berpaling.
Dengan kesal, Lisa lantas menarik lengan kemejanya. Menggulung lengan kemejanya dan melihat sekeliling. Gadis itu tidak tahan melihat kekacauan di sana. Membayangkan putrinya tidur di tengah-tengah kekacauan itu tiap akhir pekan, membuat Lisa bergidik.
Sebelum melahirkan Lisa pun bukan seorang yang rapi. Justru saat itu, Jiyong lah yang sering mengeluh karena pakaiannya berserakan di lantai. Sepertinya sekarang dunia berputar, sepertinya sekarang kepribadian mereka yang tertukar.
"Alice! Rapikan mainanmu!" suruh Lisa, sembari menoleh pada Jiyong. "Dimana alat bersih-bersihnya?!" kesalnya pada Jiyong.
Tanpa berkomentar, Jiyong menunjuk pintu kayu di sebelah lemari esnya. Memberitahu Lisa kalau semua yang gadis itu butuhkan akan ada di sana, hanya dengan gerak tangannya. Seolah rumah itu adalah tempat tinggalnya sendiri, Lisa berkeliling. Setidaknya kamar utama di rumah itu rapi, persis seperi kamar tidur Kwon Jiyong yang ia ingat. Kamar lainnya, yang lebih kecil pun rapi, dengan seprei kuning bergambar pasir pantai dan kerang-kerangnya.
Ada tiga kamar di rumah itu, namun satu kamarnya terkunci. "Ruang apa ini?" tanya Lisa, yang tidak bisa membuka pintu ruangan di sebelah kamar utama.
"Tempat appa kerja, banyak foto mengerikan di sana, jadi aku tidak boleh masuk," jawab Alice, sedang pemilik rumah itu tetap duduk di sofa, setengah berbaring dengan kaki yang dinaikan ke atas meja. Jiyong menutup wajahnya dengan sebuah boneka, memejamkan matanya. Seketika kepalanya jadi pening mendengar Lisa mengomel di rumahnya, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Kalau Alice tidak di sana, mungkin Lisa sudah diusir sekarang.
Setidaknya satu jam, Lisa mengomel sembari menyuruh-nyuruh putrinya merapikan mainannya. Menyuruh Alice membuang mainan-mainannya yang sudah rusak terinjak, juga menyuruh Alice memilah-milah mainannya. Sebagian mainan gadis itu perlu disumbangkan karena rumah Jiyong sudah terlalu penuh dengan semua mainan itu.
Dan satu jam juga Jiyong berada di posisi yang sama. Memaksakan dirinya untuk tidur agar tidak perlu mendengarkan omelan Lisa. Agar tidak perlu ikut bekerja juga. Lisa akan menyedot debu di karpet, setelah Alice selesai memilah mainannya. Diwaktu yang sama, gadis kecil itu pun naik ke sofa, menghampiri ayahnya yang tetap memejamkan matanya. Kini sofanya sudah kosong, sebab boneka-boneka Alice dimasukan ke dalam beberapa kotak kardus bekas, berjajar di depan TV.
"Appa!" gadis itu berseru, lantas melompat naik ke perut ayahnya. Lupa kalau perut pria itu sedang terluka.
Alih-alih mendapatkan pelukan seperti biasanya, sore ini Alice justru diteriaki oleh ibunya. Jiyong tetap memeluknya, namun pria itu mengerang kesakitan, bukannya tertawa seperti biasanya. Buru-buru Lisa meninggalkan penyedot debunya, lantas menarik Alice dari perut Jiyong.
"Ya! Sudah eomma bilang appa sedang sakit!" seru Lisa, sedang Jiyong meringkuk di sofa sembari memegangi perutnya.
"Luar biasa," kata Jiyong, sembari menahan nyeri di lukanya yang baru semalam. "Kau menginjak di tempat paling menyakitkan, sayang," susulnya sembari pelan-pelan bangun dan menegakan punggungnya.
Luka yang semalam pendarahannya sudah berhenti, sekarang berdarah lagi. "Kau baik-baik saja?" tanya Lisa, sembari memegangi bahu putrinya, menahan Alice agar tidak mendekati ayahnya lagi.
"Mana mungkin?" balas Jiyong. Sembari membungkuk, pria itu berjalan ke arah kamar utama, lalu mengajak Alice untuk ikut bersamanya, menjadikan gadis kecilnya sebagai tongkat untuk berjalan ke kamar.
***
Aku ulangtahun loh hari ini~~~
Happy birthday to me~~ sebelum nanti happy birthday to ayang GD ehehe 😂
KAMU SEDANG MEMBACA
Ex-
FanfictionAwalnya semua sempurna. Ia kagumi wanita itu, dan wanita itu pun sama. Awalnya semua sempurna. Ia jatuh hati pada pria itu, dan pria itu pun sama. Awalnya semua sempurna. Kencan pertama mereka. Awalnya semua sempurna. Bisa ia pahami isi kepala pr...
