***
Lisa akan pergi berbelanja, dan Jiyong akan pergi ke rumah sakit. Di tempat parkir, Alice menolak untuk melangkah. Lisa menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya, namun gadis itu ingin pergi bersama ayahnya. "Aku ingin bersama appa!" serunya, menolak untuk bergerak.
"Jangan nakal, cepat masuk," kata Lisa, yang sudah membuka pintu mobilnya untuk gadis kecil itu.
"Tapi aku ingin pergi dengan appa!" anak itu merengek, meski Jiyong sudah bilang kalau ia akan pergi ke rumah sakit, bukan bermain.
"Appa akan pergi ke rumah sakit, sayang, kau tidak bisa ikut ke sana," Lisa berusaha menahan emosinya. Alice jadi semakin menyebalkan kalau ada Jiyong di sana. Gadis kecil itu tahu kalau ayahnya tidak akan menolak keinginannya, karenanya ia bersikap semaunya.
Sembari menatap kesal pada putrinya, Lisa melangkah menghampiri Alice. Akan ia paksa putrinya itu untuk masuk ke dalam mobil, namun Alice sudah lebih dulu berlari. Ia hindari ibunya dan pergi pada Jiyong di mobil lain. Ia tarik tangan Jiyong, membujuk agar dirinya diizinkan ikut bersamanya.
"Begini saja," Jiyong menggendong putrinya sekarang, tanpa menutup pintu mobilnya, pria itu membawa Alice ke mobil ibunya. "Sekarang, Alice pergi berbelanja dengan eomma... Lalu nanti siang, kita pergi mencari tenda. Kau masih ingin pergi camping kan?" tawar lembut pria itu. Kwon Alice kelihatan tengah berpikir sekarang, namun selama gadis itu berpikir, Jiyong bisa memasukannya ke dalam mobil Lisa.
Pria itu tersenyum sementara putrinya duduk di mobil, mau tidak mau mengangguk dan mengacungkan kelingkingnya. Meminta Jiyong berjanji untuk membawanya pergi berkemah. Tentu Jiyong balas mengaitkan kelingkingnya, setuju untuk membuat janji dengan putrinya.
Lisa berdecak, heran karena putrinya berubah jadi seperti bayi kecil lagi jika bersama dengan ayahnya. Heran karena Alice jadi sangat manja dan menyebalkan jika ada Jiyong di sana. Lepas menutup pintu mobil mantan istrinya, Jiyong berbalik, hampir menabrak Lisa yang ada di belakangnya.
"Pergilah, aku akan menjemputnya nanti siang," kata Jiyong kemudian, sedang Lisa membuka pintu mobilnya, di sebelah kursi pengemudi.
"Ya, aku akan menghubungimu nanti," pelan Lisa, sebelum ia masuk ke dalam mobilnya, sebelum ia pergi meninggalkan tempat parkir gedung apartemen itu.
Mobil Lisa melaju pelan, lalu Alice membuka kaca di sebelahnya, melambai sembari tersenyum lebar pada ayahnya. Sama seperti gadis kecil itu, Jiyong pun melakukan hal yang sama. Ia tersenyum dan melambai pada putrinya. Ia ikuti semua detail-detail kecil yang membuat putrinya itu senang.
Ini hari Sabtu, namun bagaimana Jiyong bisa berlibur kalau anak buahnya baru saja dicelakai? Pria itu pergi ke rumah sakit, melihat keadaan Mino juga Yoon, mengusahakan apapun yang bisa ia lakukan, untuk mencari penjahatnya.
Pukul dua belas, handphonenya bergetar. Alarmnya baru saja berbunyi. Dari meja kerjanya di kantor polisi, Jiyong bangkit. "Aku akan datang lagi nanti malam," ucapnya, pada Soohyuk juga Toil yang ada di depannya. Mereka tengah memindai berkas sekarang, mencari petunjuk lewat informasi yang sudah ada.
Dua anak buahnya menoleh, melepaskan fokus mereka dari berkas untuk menatap Jiyong. Tahu kalau Jiyong akan pergi menemui Alice, keduanya mengangguk. Membiarkan Jiyong melakukan tugasnya sebagai seorang ayah. "Hubungi aku, kalau sesuatu terjadi. Jika aku tidak bisa dihubungi, telepon Detektif Lisa," suruh Jiyong, lantas memasukan handphone serta kunci mobilnya ke dalam saku celananya, sebelum ia melangkah pergi.
"Ketua Tim Penyidik Internal?" tanya Toil dan Jiyong menganggukan kepalanya.
"Dia memang menyebalkan, tapi bisa berguna," angguk Jiyong. "Hanya hubungi dia kalau kalian tidak bisa menghubungiku," susulnya kemudian, meyakinkan dua rekannya kalau ia tidak akan membiarkan mereka punya kesempatan menghubungi Lisa.
Dari kantor polisi, Jiyong mengemudi ke arah pusat perbelanjaan. Di tengah perjalanannya Lisa menelepon. Bertanya dimana dirinya sekarang, karena Alice sudah mencarinya.
"Di jalan," kata Jiyong. "Dimana kalian?" susulnya.
"Di food court, Alice tidak mau makan, oppa tidak perlu ke sini," lapor Lisa, membuat gadis yang duduk di depannya langsung membulatkan matanya. Kesal karena ibunya mengadu.
"Aku mau makan kalau appa ke sini!" seru Alice, kesal karena Lisa tidak menyampaikan pesannya.
"Berikan teleponnya pada Alice," suruh Jiyong namun Lisa menolak.
"Tidak," kata Lisa, enggan memberikan telepon itu pada putrinya. "Hari ini Alice nakal, dia terus membantahku. Oppa tidak perlu ke sini," susulnya, mengancam gadis kecil yang masih cemberut itu.
Jiyong menghela nafasnya. Tidak ingin ia terlibat diantara pertengkaran dua wanita itu, namun apa yang bisa dilakukannya? Pria itu hanya diam, membiarkan Lisa mengancam putrinya, membiarkan Alice merengek semakin keras. Hanya ia dengarkan debat kusir dua wanita keras kepala itu, sampai akhirnya mobilnya tiba di pusat perbelanjaan.
Tiba di food court, Jiyong lihat di sudut dekat westafel, putrinya duduk sembari menangis. Alice menangis, dengan tangan yang gemetar mengangkat sendok, memasukan makan siangnya ke mulut. Di depan gadis itu—memunggunginya—Lisa duduk dengan tangan yang dilipat di depan dadanya. Bahkan dari belakang, gadis itu terlihat marah.
Sesekali Alice mengusap matanya yang berair. Mulutnya bergerak pelan mengunyah makan siangnya. Bibirnya ditekuk, cemberut karena kesal pada ibunya. Kedua orang itu tidak menyadari kedatangan Jiyong, ia mendekat lalu Alice melihatnya dan melepaskan sendoknya. Alice rentangkan tangannya, memanggil ayahnya yang dipikir akan menyelamatkannya.
Jiyong mendekat dan Lisa menoleh, melihatnya dengan tatapan kesal khasnya. "Apa yang terjadi di sini?" tanya Jiyong, memeluk putrinya kemudian duduk di sebelahnya. "Kenapa putri cantikku tidak mau makan, hm?" tanyanya, kali ini pada Alice, yang bersandar manja padanya, memeluk lengannya sembari menyembunyikan setengah wajahnya di lengan Jiyong.
Dengan sinis, Alice melirik Lisa. Ia peluk ayahnya, seolah ingin mengatakan kalau pria itu miliknya, kalau Jiyong akan membelanya dan Lisa akan berada dalam masalah sekarang. Sang ibu yang masih kelihatan marah, mendengus. Lisa raih es kopinya, menyesap minuman itu sementara Alice berbisik pada Jiyong, mengadukan ibunya yang jahat—"eomma tidak mau membelikanku skuter, pelit," adu Alice.
"Kau sudah punya sepeda," kata Lisa, yang bisa mendengar dengan jelas bisikan itu.
"Memang sepeda dan skuter sama?! Aku mau skuter! Appa! Aku mau skuter!" seru Alice, merengek sembari menarik-narik tangan ayahnya.
"Tidak!" bentak Lisa, membuat Alice semakin erat memeluk ayahnya. Meringkuk seolah ketakutan.
Mau tidak mau, Jiyong harus jadi penengah sekarang. Ia hentikan pertengkaran itu, menyuruh keduanya berhenti. "Habiskan dulu makan siangmu, nanti kita lihat seperti apa skuternya," kata Jiyong, membujuk putrinya yang kini menempel padanya. Begitu erat bak enggan dipisahkan.
Lisa menghela nafasnya. Tentu ia tahu kalau Jiyong akan mengabulkan permintaan putri mereka itu. Tahu kalau omelannya selama hampir satu setengah jam, tidak akan berarti apa-apa. Gadis itu berpaling, kemudian mengatakan kalau ia sudah lelah membujuk Alice yang nakal.
"Eomma pulang saja, aku akan membeli skuternya dengan appa," balas Alice, seolah tengah mencibir ibunya sendiri.
"Astaga! Kwon Alice! Kenapa kau nakal sekali hari ini?!" sebal Lisa, sedang putrinya tetap berlindung pada ayahnya.
"Hentikan," tahan Jiyong. "Kalian berdua berhenti bicara. Lisa-ya, kau pulang saja, beristirahat lah di rumah, biar aku yang mengurus Alice sekarang," pelan Jiyong, ia harus cepat-cepat menyingkirkan salah satu dari dua orang itu, sebelum dirinya ikut tersulut emosi.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Ex-
FanfictionAwalnya semua sempurna. Ia kagumi wanita itu, dan wanita itu pun sama. Awalnya semua sempurna. Ia jatuh hati pada pria itu, dan pria itu pun sama. Awalnya semua sempurna. Kencan pertama mereka. Awalnya semua sempurna. Bisa ia pahami isi kepala pr...
