***
Karena mantan istrinya, Jiyong tidak bisa tidur semalaman. Ia berbaring di sebelah Lisa, namun sama sekali tidak bisa terlelap di sana. Dadanya berdebar-debar, dan ia tidak menyukainya. Lalu dengan bahu lesu, pria itu datang ke kantor polisi pagi ini. Lisa masih harus mengantar Alice ke sekolah barunya, mereka berpisah di tempat parkir pagi ini.
Tiba di ruang kerjanya, Song Mino menghampiri Jiyong, "Ketua Tim, mantan istrimu dipecat, kau mengetahuinya?" tanya Mino, membuat Jiyong lantas mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu?" heran Jiyong, yang tiba-tiba diserang pertanyaan sensitif itu.
Mino lantas menunjukan layar laptop yang ia buka pada Jiyong, setelah mengajak Ketua Timnya itu ke meja kerjanya. Ada sebuah pemberitahuan untuk seluruh petugas kepolisian dengan pangkat tertentu, kalau Detektif Lisa diberhentikan mulai hari ini.
"Aku baru saja menyalakan laptopmu karena kau memintanya, dan pengumumannya muncul," kata Mino kemudian. "Di posting lima menit yang lalu, bagaimana ini?" tanyanya kemudian, sedang Jiyong sama sekali tidak memahami situasinya. Apa yang Lisa lakukan sampai dipecat pun, ia tidak tahu.
Bagian paling menyebalkan dari berita ini adalah Jiyong yang tidak bisa menelepon Lisa. Nomor teleponnya masih di blokir. "Wanita gila ini benar-benar menjengkelkan!" kesal Jiyong, yang selanjutnya meraih telepon di atas meja Mino, untuk menelepon Lisa. "Telepon aku sekarang!" bentak Jiyong, begitu Lisa menjawab teleponnya.
"Bagaimana dia bisa tahu kau yang meneleponnya, hyung?" Mino bertanya, sebab pria di depannya sekarang telah menutup teleponnya. Jiyong hanya membentak Lisa, tanpa menunggu gadis itu bicara.
Ditanya begitu Jiyong sempat terdiam. Menebak-nebak bagaimana Lisa bisa meneleponnya, kalau ia tidak tahu siapa yang menelepon. Alisnya terangkat, tentu sembari berharap kalau Lisa akan mengenali suaranya. Atau setidaknya, gadis itu akan mengenali caranya bicara, caranya membentak.
"Ah? Benar-" Jiyong akan menelepon Lisa lagi, karena gadis itu tidak kunjung meneleponnya. Padahal baru dua menit sejak ia mengakhiri teleponnya tadi, tapi rasanya sudah lama sekali dan Lisa baru meneleponnya sekarang. "Dia mengenaliku," susulnya kemudian, menunjukan nama Lalisa di handphonenya pada Mino.
Jiyong melangkah keluar sekarang, sembari menjawab teleponnya. "Kau yang meneleponku tadi?" tanya Lisa, tepat setelah Jiyong menjawab panggilannya.
"Hm," ia menggumam untuk mengiyakannya. "Kalau kau sedang dalam perjalanan ke kantor, menepilah sekarang," suruh Jiyong kemudian.
"Aku masih di sekolah Alice, ada apa? Kenapa oppa tiba-tiba meneriakiku? Menyebalkan sekali," gerutu Lisa.
"Tetap di sana, atau datang lah ke sini dengan taksi. Jangan menyetir," lagi-lagi Jiyong memberinya perintah. Ia buat mantan istrinya sedikit kesal sekarang.
Sama seperti Jiyong yang tidak bisa tidur semalaman, Lisa pun begitu. Ia terjaga karena gugup, hingga suasana hatinya sedikit buruk hari ini. Dan jadi lebih buruk lagi karena suara mantan suaminya. Lalu sebentar lagi, suasana hati itu, akan jauh lebih buruk lagi karena berita pemecatannya yang tiba-tiba.
"Ada apa? Kenapa aku tidak boleh menyetir?" Lisa bertanya, namun tetap duduk di mobilnya, masih menyalakan mesin mobil itu.
"Kau dipecat," pelan pria itu. Berdiri tepat di depan tempat parkir, mengingat-ingat dimana ia memarkir mobilnya pagi ini.
Mendengar ucapan Jiyong, Lisa hanya menghela nafasnya. Gadis itu bersandar ke kursinya, berusaha menenangkan dirinya. Menahan amarah yang tiba-tiba saja meledak di dalam dirinya. Lama keduanya diam, sampai Jiyong menemukan mobilnya dan masuk ke dalamnya. Akan ia temui Lisa di tempat parkir sekolah putrinya, memastikan gadis itu tidak terlalu marah dan melakukan sesuatu berbahaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ex-
FanfictionAwalnya semua sempurna. Ia kagumi wanita itu, dan wanita itu pun sama. Awalnya semua sempurna. Ia jatuh hati pada pria itu, dan pria itu pun sama. Awalnya semua sempurna. Kencan pertama mereka. Awalnya semua sempurna. Bisa ia pahami isi kepala pr...
