***
Rumor cepat sekali beredar. Lee Soohyuk dicurigai sebagai kaki tangan Jang Joon, yang artinya mereka setuju kalau Jang Joon terlibat dalam gembong narkoba itu. Selain itu, orang-orang juga terkejut, setelah mereka tahu kalau Kwon Jiyong pernah menikah bahkan punya seorang putri.
Sejak beberapa tahun lalu ia dipindahkan ke sana, pria itu tidak pernah terlihat bersama wanita. Tidak pernah juga terlihat bersama putrinya. Tidak pernah ia ceritakan kehidupannya pada rekan-rekannya. Di saat rekan-rekannya bicara tentang keluarga mereka, mengeluh tentang biaya sekolah dan bimbel yang semakin mahal, Jiyong tidak pernah berkomentar, tidak juga mengatakan kalau ia harus membayar semua itu. Selain pekerjaan, hampir tidak ada topik lain yang pria itu bicarakan di tempat kerjanya.
"Detektif Kwon Jiyong suamimu, Detektif Lisa?" karena rumor yang sepekan ini beredar, Jennie akhirnya bertanya. Pagi ini hanya ia yang ada di kantor, sedang Lisa baru saja datang dengan segelas kopi yang sudah setengah ia minum, dalam perjalanan tadi. Mereka sempat berbasa-basi sebelumnya, namun Jennie sepertinya memang sudah menunggu-nunggu kesempatannya untuk bertanya.
Dari meja kerjanya, ia mendongak menatap Lisa yang ada di depannya. Meja kerja gadis itu ada di depannya. Hanya sebuah meja dengan laptop dan gelas kopi. Tidak seperti orang lain, sepertinya Lisa tidak suka menaruh berkas-berkasnya di atas meja. Setiap sore, ia selalu merapikan berkas-berkas itu, menaruhnya di dalam kotak, di bawah mejanya.
"Mantan suami. Kami sudah bercerai beberapa tahun lalu," kata Lisa, mengatakan hal yang sama pada semua orang yang bertanya padanya-Bobby dan Hani, hanya mereka.
Jennie orang ketiga yang bertanya padanya, sejak Senin lalu ia bilang kalau Jiyong adalah mantan suaminya, di ruang interogasi. Hanya tiga orang yang menanyainya, sedang orang-orang lainnya memilih untuk berbisik-bisik di belakangnya. Menebak-nebak dan menyebar rumor tentangnya. Karena pekerjaannya, ia jadi sosok yang bersalah di sana.
"Detektif Kwon pasti menceraikannya," begitu bisikan yang sering ia dengar.
"Siapa yang tahan tinggal bersama musuh? Dia memenjarakan polisi-polisi lain, mana mungkin Detektif Kwon tahan? Mereka pasti sering bertengkar di rumah," sesekali itu juga yang ia dengar, saat dirinya berjalan menuju ruang kerjanya.
Tentu wanita itu kesal mendengarnya. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Kata-kata itu terlontar karena pekerjaannya. Ini resiko pekerjaan-begitu caranya meyakinkan dirinya sendiri. Lepas menjawab pertanyaan Jennie, Lisa menarik kursinya. Ia duduk di sana sembari menyesap kopinya, namun ucapan gadis di sebelahnya justru membuatnya tersedak.
"Aku minta maaf karena mengatakan ini," begitu awal Jennie memulai pengakuannya. "Aku beberapa kali menemuinya diluar jam kerja, dan aku mulai menyukainya," akunya, yang berhasil membuat Lisa tersedak karenanya.
"Maaf," singkat Lisa, masih terbatuk-batuk karena tersedak kopinya sendiri. Sebelah tangannya sekarang menutup mulutnya yang terus batuk. Sedang tangan lainnya meraih tisu di meja Bobby, di sebelahnya. Ia memakai tisu itu untuk membersihkan meja serta bagian atas laptopnya, mengusap sisa-sisa kopi yang tadi keluar lewat mulutnya.
"Aku tidak pernah menduga akan mendengar pengakuan seperti ini," kata gadis itu kemudian, setelah ia selesai dengan batuk dan tenggorokannya yang gatal. "Aku juga tidak tahu kalau kalian dekat," susulnya. "Setelah bercerai kami tidak saling bicara lagi. Selain untuk mengurus anak-"
"Kalian punya anak?"
"Hm..." Lisa mengangguk. "Perempuan, delapan tahun," katanya. Mereka tidak seberapa dekat, kalau Jennie tidak tahu Jiyong punya anak-begitu penilaian Lisa. "Namanya Alice, selain untuk mengurus Alice, kami tidak bicara. Kau tidak perlu minta maaf padaku kalau menyukainya. Tapi... Membicarakan mantan suamiku pada orang lain, juga kurang nyaman bagiku," susulnya.
Lisa mengulas senyumnya sekarang. Lantas ia menoleh pada pintu ruangan yang baru saja terbuka. Bobby berdiri di sana, dengan USB di tangan kanannya dan laptop di tangannya yang lain. "Aku menemukannya, apa yang terjadi pada uang lima puluh juta itu," katanya kemudian.
Tanpa menunggu Lee Hani yang hari ini terlambat datang ke kantor-karena suaminya sakit-Bobby membicarakan penemuannya. "Benar kata Kwon Jiyong minggu lalu. Uang lima puluh juta yang diberikan pada Lee Soohyuk, dipakai untuk biaya berobat Song Mino. Dua hari sebelumnya, Song Mino terlibat kecelakaan-"
"Tidak... Biaya rumah sakit Song Mino ditanggung asuransi," potong Jennie. "Aku sudah mengeceknya," susulnya. "Memang awalnya Lee Soohyuk yang membayar biaya rumah sakitnya, tapi pihak asuransi mengganti uangnya. Song Mino terluka saat bekerja, biaya berobatnya ditanggung asuransi," katanya.
"Kenapa minggu lalu kau tidak mengatakannya?" tanya Lisa, kali ini menoleh pada Jennie, dengan alisnya yang sedikit terangkat. "Kenapa kau hanya menulis, Jang Joon mengirim uang pada Lee Soohyuk di laporannya? Kenapa kau tidak memberitahu kami tentang biaya rumah sakit ini?" heran gadis itu, pada gadis lain yang sepantaran dengannya, tapi punya pangkat jauh di bawahnya.
"Apa itu penting? Intinya dia menerima uang dari Jang Joon, bukan begitu?" bingung Jennie. "Dia memang memakai uangnya untuk biaya berobat tapi setelah itu pihak asuransi mengganti uangnya. Saat ini uang itu ada padanya. Apa pun yang terjadi selama prosesnya, uang itu tetap ada padanya, sekarang," ucapnya, menjelaskan alasannya tidak menulis tentang biaya rumah sakit dalam laporannya.
Lisa menghela nafasnya. Lantas ia bertanya pada Bobby, dimana uang itu sekarang. Pria yang ia tanya menaikan bahunya. Bilang kalau Soohyuk memang menerima uang lima puluh juga itu dari pihak asuransi, tapi setelah itu, kemana uangnya pergi, Bobby tidak bisa melacaknya. Pihak bank tidak bisa memberikan daftar transaksi yang Lee Soohyuk lakukan dengan rekeningnya tanpa surat perintah.
Sementara Lisa sibuk bekerja, di jalan antar kota, antara Allamanda dan Bellis, Jiyong tengah mengemudikan mobilnya. Hari ini ia mengantar putrinya ke sekolah lagi. Di hari Senin, sama seperti pekan lalu. Bedanya, hari ini Alice tidak membawa bonekanya. Gadis itu duduk di kursi depan, di sebelah Jiyong sembari bermain dengan game di handphonenya. Lisa tidak akan membiarkan putrinya melakukan itu, namun Alice boleh melakukan apapun bersama ayahnya.
"Alice, sayang," Jiyong memanggil, maka gadis kecil di sebelahnya menoleh dan menatap padanya.
"Ya, appa?"
"Kau tidak di rumah sendirian selama satu minggu ini, kan?" tanyanya, penasaran sejak Senin lalu, mantan istrinya mulai datang ke Allamanda, setiap hari. Bahkan di hari Jumat, gadis itu yang membawa Alice ke sana.
"Tidak, ada eomma di rumah," ucapnya. "Tapi minggu depan aku libur dan eomma bilang kami akan berlibur ke luar kota," susulnya.
"Kemana?"
"Tidak tahu," geleng cepat gadis kecil itu.
"Eomma tidak bekerja?"
"Eomma bilang dia harus bekerja di luar kota selama beberapa minggu, jadi selama liburan aku diajak ikut bersamanya."
"Eomma akan mengajakmu pergi kerja?"
"Tidak tahu," gadis kecil itu menggeleng lagi. "Tapi appa... Teman-temanku pergi kemping saat liburan, katanya mereka akan berkemah di dekat danau," katanya kemudian.
"Kau juga ingin pergi berkemah?"
"Hm... Tapi, kalau aku pergi berkemah, aku tidak bisa bermain denganmu. Jadi tidak, aku akan menemani appa saja saat libur, tidak perlu pergi berkemah," gelengnya kemudian.
"Kita bisa pergi berkemah, kalau kau mau. Akhir pekan selanjutnya, bagaimana?" tawar Jiyong, dan mata gadis kecil itu otomatis berbinar. Alice menginginkannya, ia menyukai ide itu.
"Dengan eomma juga, ya?" pinta Alice, langsung membuat Jiyong membisu. Permintaan Alice kali ini, jelas sulit untuk Jiyong kabulkan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Ex-
FanfictionAwalnya semua sempurna. Ia kagumi wanita itu, dan wanita itu pun sama. Awalnya semua sempurna. Ia jatuh hati pada pria itu, dan pria itu pun sama. Awalnya semua sempurna. Kencan pertama mereka. Awalnya semua sempurna. Bisa ia pahami isi kepala pr...
