43 | Askara

50 8 6
                                    

"Hello, boy!"

Arkasa yang pertama menyapa kembali. Pria itu melebarkan kedua tangan, menyambut lelaki yang kini berjalan kearahnya.

"Halo, Uncle."

"Bagaimana penerbanganmu? Jetlag?" Arkasa membawa anak berusia lima tahun itu pada pangkuannya.

"Nein," (tidak)

"Bersama dengan Ayahmu?"

Anak kecil bernama Askara itu menoleh ke belakang dan memicingkan matanya.

"Nathaniel Miles," sambung Arkasa memperbaiki.

"Nein, papa is too busy."

Arkasa tertawa kecil, ia mendekat berniat membisiki anak berambut cokelat itu. "Itu sebabnya payah menjadi anak orang kaya."

"Yeah, tak ada bedanya jika itu menjadi anak Uncle."

"Kamu ini sudah berani menjawabku, ya?" kesal Arkas dan semakin memeluk Askara gemas, membuat anak lelaki itu tertawa.

Javas, Nazeem, dan Saqeel menatap Orchidea penuh pertanyaan. Satu-dua kali mereka memang sempat menyinggung nama Askara. Namun mereka kira sosok itu adalah suami Orchidea yang masih berada di Swiss. Nathaniel A. Miles, huruf tengah pada namanya itulah yang mereka sangka sebagai Askara.

"Apa aku gak pernah bilang kalau aku memiliki anak?" Orchid sedikit mengernyitkan keningnya.

Ketiganya menggeleng serempak. Bahkan Javas tidak mengetahuinya. Hanya Raskal yang tidak melakukan hal yang sama. Mata pria itu tertuju pada wajah bule Askara.

Sang dara terkekeh. "Tak ada yang perlu diceritakan. Sepertinya hal wajar jika aku memiliki anak."

"Dan kayaknya manusia ini akrab banget??" ujar Nazeem menoleh pada dua sejoli yang masih bersenda gurau.

"Eh?" kaget Arkas sebab menjadi sumber perhatian. Ia memperbaiki duduk Askara pada pangkuannya. "Eum... Hal wajar kan, jika berkunjung ke rumah sahabat lama?"

"Swiss - Indonesia?" kata Saqeel tak percaya dan menggeleng. "Macam Balikpapan-Samarinda aja gue liat-liat."

"Dengan siapa dia datang?" tanya Javas pada akhirnya. Ia cukup mengenal sosok Nathaniel. "Ayahnya?"

Orchid menggeleng sekali. "Nathan hanya menitip salam, dan hadiah. Pekerjaannya sangat banyak. Bisa kacau Rumah Sakit jika dua dokternya menghilang dalam satu waktu."

"Lalu?"

"Daddy!" tunjuk Askara memecah perhatian.

Jemari mungil itu menunjuk seseorang yang baru saja datang. Ia turun dari pangkuan Arkasa, dan segera memeluk kembali sosok tersebut. Berlindung dibelakangnya.

"Easy, boy!" kekeh Dewata menahan tubuh Askara. "And, hello."

Rasa-rasanya ingin jatuh sekali lagi rahang Sagaras dibuatnya. Kini Dewata Nawa Sanga, sosok kakak kelas mereka, sekaligus mantan pacar Orchidea saat masa SMA hadir di acara Javas.

Tidak, sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Sebab Javas memang mengundang pria itu. Namun, yang menjadi sumber adalah mengapa Dewata juga terlihat akrab dengan Askara, bahkan hingga anak itu memanggilnya Daddy?

Nazeem memutar tubuhnya mengarah pada Orchid. "Jadi sebenarnya, berapa suami yang kamu punya, Dey?"

"Berhentilah berbicara yang aneh-aneh!" tegur Orchid, tapi tak urung tertawa jua.

"Clarina akrab sama Askara. Waktu itu gue sempat tinggal di Swiss sekitar dua bulan karena pekerjaan, dan mereka ketemu," jelas Dewata meluruskan. "Karena Clarina terus ngikutin Askara manggil gue Uncle, akhirnya Askara manggil Dad supaya Clarina juga ikut."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 02, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

[Sweet] RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang