CHAPTER 6 (THIS IS CRAZY!)

749 86 4
                                        

Ketiga petugas yang sedang bercanda tawa terdiam seketika setelah Yeonjun masuk.

"Hei! apa yang kau lakukan di sini??!!", ujar salah satu petugas.

"Cepat tangkap dia!", teriak petugas lainnya.

Ketiga petugas itu berusaha menangkap Yeonjun. Beruntung Yeonjun memiliki reflek yang baik, dan dia cukup mahir dalam bela diri. Laki-laki itu melakukan perlawanan, tangan kanannya menangkis pukulan petugas. Sedangkan tangan kirinya memukul wajah petugas itu hingga membentur wastafel.

"Sialan kau!", temannya yang tidak terima berusaha memukul Yeonjun. Walaupun begitu, Yeonjun bisa menghindarinya dengan gesit. Oke, sekarang Yeonjun merasa kuwalahan menghadapi 2 petugas secara bersamaan. Ditambah ruangan sempit yang membuatnya tidak bisa leluasa menghindar.

Yeonjun merasa waktunya tidak banyak, dengan segera menggunakan kekuatannya. Tangan kanannya mencekik leher salah satu petugas, dan kakinya yang bebas menendang petugas lainnya hingga membentur dinding cukup keras, bahkan membuat dindingnya retak. Yeonjun juga melemparkan bola api yang keluar dari tangannya kepada petugas itu, sehingga membuatnya pingsan.

"AAAKKHHH!!!!", Yeonjun menaikkan suhu tangan kanannya, hal itu membuat leher petugas tesebut melepuh. Yeonjun merasakan pegangan petugas itu melemah. Matanya melihat salah satu petugas mencoba berdiri dengan berpegangan pada wastafel. Dengan segera dia melempar tubuh petugas itu ke dinding, hingga menabrak petugas yang hampir bangun tadi.

"Haish! Aku bahkan belum melakukan penyamaran dan sudah ketahun terlebih dahulu!", Yeonjun mengatur nafasnya. Ternyata melawan 3 petugas yang tubuhnya jauh lebih besar darinya membuatnya Lelah dengan cepat.

Tanpa membuang waktu, Yeonjun mendobrak kamar mandi bilik 3 dan menggunakan seragam yang sudah disiapkan Soobin. Hanya untuk berjaga-jaga Yeonjun mengambil beberapa pistol kecil dari petugas yang ia lawan tadi, lalu keluar dari kamar mandi meninggalkan ketiga petugas yang tidak sadarkan diri.

.

.

.

Soobin berjalan menyusuri lorong dengan rasa gugup yang luar biasa. Saat tiba di ujung lorong, Soobin dikejutkan dengan 2 orang petugas yang berjalan mengarah padanya. Soobin berusaha senatural mungkin, beruntung seragam petugas menggunakan helm. Sehingga tidak menampakkan wajahnya.

"Hei, kau kemarilah!", tiba-tiba salah satu petugas mencegatnya saat dirinya hampir hilang dari persimpangan Lorong.

"Y-ya? Anda memanggil saya?", tanya Soobin takut-takut.

"Bukannya kau petugas yang baru saja masuk tadi pagi ya?"

"Hah? I-iya.", Soobin bahkan tidak tahu seragam yang dia ambil secara acak itu seragam petugas yang baru. Untuk pertama kalinya dia mengumpat walau hanya dalam hati.

"Ambilkan sample darah di kamar 111. Kau tinggal naik saja ke lantai 5 kemudian berikan ke lab lantai 1 dekat pintu utama.", dan detik berikutnya Soobin bersorak dalam hati setelah petugas itu berkata 'lab dekat pintu utama'.

"Baik!", setelah memberi hormat dengan segera Soobin menaiki lift hingga lantai 5.

Ketika Soobin sudah sampai di lantai 5, dengan segera dia mencari pintu yang bertulisakan angka 111. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Soobin menemukan pintu itu. Tangannya membuka pintu itu perlahan, sebelum membuka sepenuhnya Soobin mengintip sedikit dari cela pintu.

Hampir saja Soobin berteriak saat melihat seorang pria dengan badan yang besar digantung terbalik tak bernyawa. Dengan ragu Soobin masuk ke ruangan itu, dan mendekati mayat pria itu. Matanya bisa melihat dengan jelas keadaan pria di hadapannya ini sangat mengenaskan. Mata dan mulutnya yang terbuka, hingga lidahnya keluar dari mulutnya. Tidak hanya itu banyak darah yang keluar dari hidung dan telinganya.

UNIQUERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang