CHAPTER 2 (THE CHOI BROTHERS)

1K 123 4
                                        

"Hei, Taehyun.", panggil Hueningkai Ketika mereka sudah Kembali ke ruangan di mana dirinya membuka mata.

"Hm?"

"Apa yang akan terjadi pada perempuan tadi?", tanya Hueningkai penasaran.

"Mati. Mungkin?"

"Bagaimana kau bisa bicara kematian semudah itu?"

"Karena siapa saja yang melawan di sini tidak pernah terlihat di ruang makan lagi.", dan jawaban Taehyun membuat Hueningkai diam seribu Bahasa.

"Tidak mungkin. Dokter Raul bilang padaku orang seperti kita akan aman di sini. Karena di tempat inilah aku bisa mengendalikan kekuatanku agar tidak menyakiti orang lain lagi.", perkataan postif Hueningkai membuat Taehyun mendengus.

"Dokter Raul? Siapa dia?", tanya Taehyun penasaran karena dari tadi Hueningkai menyebut Namanya berkali-kali.

"Dia adalah orang pertama yang aku lihat saat aku membuka mataku di sini. Dan dia juga sangat baik padaku, dia berjanji akan membantuku."

"Sepertinya dokter itu tidak menyakitimu saat membuka mata. Berbeda dengan Kim Nam Joon itu.", kata Taeyun sambil memainkan rubik.

"Apa maksudmu, Taehyun?"

"Tidak apa-apa."

"Kau... baik-baik saja?", tanya Hueningkai mendekat ke arah Taehyun.

"Apa aku terlihat baik-baik saja?"

"Euh, yeah?", Taehyun hanya memutar bola matanya dan membanting tubuhnya ke Kasur membelakangi Hueningkai.

"Baiklah, jika kau ingin beristirahat.", kata Hueningkai pasrah. Dan sepertinya dia akan mencoba melakukan aktivitas lainnya untuk membunuh kebosanan.

.

.

.

"AAARRGHH!!!", teriakan kesakitan terdengar di seluruh ruangan serba putih. Terlihat seorang dokter terus memantau seorang anak laki-laki berambut merah yang ada di balik kaca pembatas.

"Bagaimana statusnya?", tanya dokter bernam-tag Kim Nam Joon.

"Adrenaline yang disuntikan sudah bekerja, dan dia mampu mengendalikan kekuatannya dokter. Hanya saja.... Syaraf dan otaknya tidak bekerja sama dengan baik. Lihatlah grafik ini. Garis merah ini menunjukkan bahwa syarafnya bergerak sesuai dengan keinginan adrenalinenya. Dan otaknya berhasil menahan pergerakan itu.", jelas salah seorang ilmuwan.

"Bagus, tingkatkan adrenalinenya."

"Tapi dokter, jika kita melakukannya otaknya tidak akan mampu menahan pergerakan syarafnya. Itu bisa membuatnya lepas kendali.", ilmuwan bernam-tag Louise.

"Bukankah itu yang sedang kita teliti?", tanya dokter Kim Nam Joon pada bawahannya sambil melihat berkas anak laki-laki yang Bernama Choi Beomgyu. Dan dengan terpaksa ilmuwan Bernama Louise itu menaikkan dosis adrenalinenya.

"AAAGGHH!!! HENTIKAN!!! INI MENYAKITKAN SIALAN!!!", Choi Beomgyu laki-laki berambut merah itu berteriak kesakitan, namun tidak ada satupun yang mengindahkan perkataannya. Seluruh tubuhnya seakan-akan terasa putus dari tubuhnya, tidak hanya itu panas di sekujur tubuhnya juga menambah rasa sakitnya saat ini. Beomgyu merasakan kekuatannya memaksa untuk keluar, ingin rasanya dia menghancurkan tempat ini, tapi otaknya menghentikan seluruh pergerakannya. Dan itu membuat kepalanya terasa ingin meledak.

Tiba-tiba seluruh benda yang ada di ruangan tersebut melayang dan menyerang semua orang yang ada di dalam sana, disusul dengan gempa yang bahkan membuat beberapa ilmuwan jatuh tersungkur. Ruangan yang awalnya rapih menjadi berantakan layaknya kapal pecah.

UNIQUERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang