CHAPTER 43 (FIRST MISSION : PART THREE)

230 26 6
                                        

Jujur saja Moa sedikit kesulitan menjaga keseimbangan di atas truk. Ditambah diriya harus menangkis serangan musuh. Bagaimana tidak, sedari tadi Yeonjun menyetir dengan zig-zag dan tidak tenang. Bahkan sudah beberapa kali Moa hampir terlempar dari truk.

DUAGH!

Sial! Moa lengah sesaat sehingga musuh bisa mengambil kesempatan untuk menendang rahangnya. Membuat Mia terlempar ke depan kepala truk. Bahkan kaki Moa yang menggantung kini menutupi penglihatan Yeonjun yang tengah menyetir.

"Hei, Moa! Menyingkirlah!", teriak Yeonjun.

"Kau pikir karena siapa aku begini, hah?!", Moa segera memperbaiki posisinya. Saat dirinya hendak berdiri, ekor matanya melihat sebuah plang dan segera menunduk. Dalam hitungan detik plang jalan itu menghantam musuh itu hingga terpental jatuh dari truk.

Melihat musuh tidak mengejar dengan segera Moa langsung masuk ke dalam truk dan duduk di sebelah kursi penumpang sebelah Yeonjun.

"Sudah selesai?", pertanyaan yang keluar dari mulut Yeonjun membuat Moa mengumpat.

"Sialan kau, Yeonjun! Kau hampir saja membunuhku sejak tadi!"

"Hei, itu salahmu! Kenapa kau menyuruhku menyetir?!"

"Sudahlah, sebaiknya kau fokus menyetir. Aku ingin cepat menyelesaikan misi ini. Aku merindukan kasurku.", kata Moa yang kemudian memejamkan matanya dengan kedua tangannya menyilang di depan dada.

"Hyung... bisakah kau berhenti sebentar aku rasa...ughhh...hmkk!!", Hueningkai menyembulkan kepalanya di sela truk yang menghubungkan dengan kursi depan. Tangannya membungkam mulutnya agar tidak memuntahkan isi perutnya.

"Kai?!! Apa yang terjadi denganmu?!", Yeonjun terkejut melihat wajah Hueningkai yang sangat pucat.

"Dia mabuk karena kau menyetir tidak becus.", kata Moa dan langsung menyerahkan paperbag coklat yang ada di dashboard truk itu. Dengan segera Hueningkai menerima itu dan detik berikutnya terdengar suara muntahan dari belakang.

"Maafkan aku, Kai.", Yeonjung meringis mendengar Hueningkai memuntahkan seluruh isi perutnya.

"Darimana kau mendapatkan paperbag itu?", tanya Yeonjun melirik Moa.

"Dashboard."

Suasana menjadi hening beberapa saat. Hanya terdengar suara angin dan mesin truk. Tiba-tiba Yeonjun teringat barang pemberian Hongjoong

"Hei, Moa. Tadi uniquer tanah itu memberikan ini. Aku tidak tahu apa itu.", Yeonjun menyerahkan sebuah benda berbentuk heksagonal.

Moa membuka benda itu. Seketika matanya membola dan segera menghubungi Mia. Terdapat foto Mia di sana, dan wajahnya dilingkari dengan spidol merah. Di bagian bawah foto itu terdapat tulisan "Miss me?", tak lupa dengan sebuah simbol yang tidak asing bagi Moa. Simbol yang mengingatkannya akan orang di masa lalu.

"Yeonjun kita harus menyusul Mia! Dia dalam bahaya!"

"Ta-tapi bagaimana dengan para uniquer?"

"Nyawa saudari kembarku lebih penting!", mendengar suara rendah Mia membuat Yeonjun langsung mengikuti perintah gadis itu.

WUSSHHH!!

Hempasan angin melewati truk yang mereka tumpangi, bisa Moa lihat bahwa itu adalah pria bertopeng dengan sayap besi yang baru saja dia lawan. Dengan segera Moa langsung menghubungi Mia. Tapi sialnya saudarinya itu sulit dihubungi. Butuh 15 menit Moa berhasil menghubungi Mia.

"Mia, berhati-hatilah ada musuh yang mendekat ke lokasimu! Pria bertopeng dengan sayap besinya menuju ke arahmu. Aku sedang mengejarnya sekarang!", Moa memperingati saudara kembarnya melalui earpiece-nya.

UNIQUERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang