37

7.4K 316 34
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Riana rasanya benar-benar tidak percaya ada perempuan yang mau menikah dengan Rama. Mengorbankan seumur hidupnya untuk lelaki yang sering ia labeli orang gila. Sangking herannya dengan perempuan yang telah memutuskan untuk menikah dengan orang gila itu, Riana sampai memaksa Rama, ingin bertemu dengan perempuan tak beruntung itu. Ingin memastikan keputusan yang akan perempuan itu ambil.

Sebenarnya ini terlalu ikut campur terhadap urusan orang lain, tetapi rasa penasaran dalam dirinya tak bisa redup, sehingga ia akan melakukan permohonan apa pun untuk bisa melihat rupa perempuan yang akan Rama nikahi secara langsung.

Rama dan calonnya itu akhirnya menyetujui keinginan Riana untuk bertemu. Mereka memutuskan bertemu di salah satu kafe sesuai keinginan perempuan yang akan Rama nikahi, kebetulan sekali dia sedang berlibur di Bandung minggu ini.

Namun, setibanya di kafe tersebut, tidak ada Rama dan calonnya di sana. Faiz dan Riana memilih duduk di salah satu tempat yang berada di dekat jendela, meminum jus stroberi dan alpukat selagi menunggu kedatangan mereka.

Riana memandangi kendaraan yang berlalu lalang melalui jendela di sampingnya, tangannya sesekali mengambil kentang goreng pesanannya. "Mereka lagi di mana sekarang?"

Faiz yang duduk di seberang Riana itu menjawab, "Masih di jalan katanya."

Riana beralih menatap Faiz. "Mereka berangkat bareng?"

Faiz menggeleng pelan. "Nggak, berangkat masing-masing."

"Gue kira berangkat bar— eh tuh orangnya," tunjuk Riana kepada Rama yang sudah pulang ke rumahnya dari beberapa hari lalu. Patut ia syukuri sekali kini ndalem kembali terasa menenangkan setelah orang gila itu pulang ke rumahnya.

Faiz melambaikan tangan kepada Rama di saat lelaki itu celingukan mencari keberadaannya.

Rama mendekati mereka, lalu duduk di samping Faiz. "Calon bini gue belum nyampe?"

"Belum, mungkin," sahut Riana.

Rama menatap Riana heran. "Kok, ragu sih jawabnya?"

"Kan, gue nggak tau cewenya yang mana, terus cewenya juga pasti nggak tau muka gue, jadi kalau nyampe pun mustahil bakal nyamperin ke sini."

"Iya juga." Rama menggut-manggut. "Bentar gue tanya dulu dia masih di mana." Rama langsung mengambil ponselnya yang sebelumnya diletakkan di atas meja, lalu mengirimi pesan kepada perempuan itu.

Selagi menunggu balasan dari calon istrinya, netra Rama menangkap dua minuman di atas meja. "Kalian nggak pesenin gue minum juga?" tanyanya dengan cepat.

Riana menggeleng. "Ngapain? Emangnya lo penting sampe harus dipesenin juga?"

"Diem lo, Nenek Lampir," ketus Rama, sebelum beralih menatap Faiz yang dengan santainya meminum minumannya seolah-olah ucapan Rama hanya angin lalu. "Heh, lo!"

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang