CHAPTER I—Uncharted Hearts: Decisions In The Maze of Love
"Kan gue bilang juga apa." Oke, aku akan diomeli habis-habisan oleh sahabatku yang satu ini. Si wanita dengan rambut ikal panjang yang sudah menjadi partner-ku sejak aku duduk di bangku putih-abu. Dia adalah teman, sahabat, kakak, dan pendengar serta penasihat terbaikku, meskipun kebanyakan dia mengomeliku, tapi dia adalah orang yang selalu berada di pihakku.
Aku mencebikkan bibir, "peringatan lo tuh kurang keras tau." Ketusku kepadanya.
Sara, wanita yang berusia sebaya denganku itu kini memasang ekspresi tak terima. Matanya yang bulat menyipit dengan penuh drama, seolah ucapanku adalah sebilah pisau yang menusuk hatinya dengan perlahan.
"Gue gak menyangka lo kaya begitu," ucapnya mendramatisir. "Lo anggap wejangan gue kemarin itu apa hah?" tanyanya.
Aku memutar kedua bola mataku sebal. Benar, aku kesal karena dia benar. Dia sudah memperingatiku untuk tidak berurusan dengan Ares, teman yang merangkap menjadi mantan kekasihku itu. Sara adalah orang yang paling mengenalku, dia juga tahu betapa mati rasanya aku kepada lawan jenis. Oh kalo kalian pikir aku tidak normal tentu saja itu tidak benar. Aku masih normal, aku masih ingin merasakan jatuh cinta lagi kepada seorang pria. Aku merindukan debaran jantung yang berdetak berkali lipat saat merasakan sentuhan kecil dari pria, aku juga merindukan getaran kupu-kupu di perut hanya karena mendengarkan kalimat-kalimat manis dari mulut seseorang. Pada intinya, aku hanya belum menemukan orangnya.
"Jujur deh sama gue," Sara merubah posisi duduknya untuk meringsut lebih dekat dengan dinding kamarku, kakinya ia selonjorkan di atas kasur dengan begitu kurang ajarnya sehingga telapak kakinya jelas berada di depan wajahku.
"Lo tuh kenapa bisa main mau-mau aja nerima dia?" tanyanya penasaran.
Aku menyingkirkan kakinya ke samping dan menegakkan tubuhku, "ya lo tau sendiri kan gue gak pernah berhasil sama orang baru, jadi ya apa salahnya gue coba sama temen gue sendiri?" ujarku.
"Gila ya lo, mainin hati orang begitu aja." Cerocosnya, "lo gak tau apa rasa dia ke lo tuh udah segede apa?" lanjutnya.
"Lo kalo ngomong gitu terus nanti gue bakal terus ngerasa bersalah, padahal lo sendiri yang nyuruh gue buat putus sama dia."
Dia menggaruk kepalanya, "ya bener juga sih." Jawabnya. "lo kalo begini terus gimana mau dapet suami, Wi?" tanya Sara.
Aku terdiam sebentar sebelum melemparkan bantal tepat di wajahnya, "halah lo aja belum dilamar-lamar sama cowok lo."cibirku.
Tidak apa, mungkin belum waktunya. Umur 25 masih terlalu muda kan untuk dicap sebagai perawan tua? Iya kan?
***
"Kamu tuh udah 25 Wi, emang gak mau cepet-cepet nikah?" Suara wanita paruh baya di seberang sana membuatku menghela napas pelan, entah sudah keberapa kalinya Mama mengucapkan kalimat yang hampir sama setiap menghubungiku lewat telepon.
Aku menyandarkan kepalaku di punggung kasur, mendengarkan Mama yang sedari tadi mengoceh tentang anak tetangga yang sudah memiliki dua anak di usiaku yang sekarang. Bahasannya masih seputar pernikahan dan memiliki anak, topik yang sering diangkat yang bahkan kalimatnya saja sudah bisa aku hafal di luar kepala.
"Si Lastri loh Wi, dia dua tahun di bawah kamu baru aja nikah." Nah, Mama itu tidak akan pernah habis bahasannya kalau sudah membicarakan anak tetangga.
"Ma, nasib orang tuh beda-beda." Ujarku, "ada yang emang cepet dapet jodoh, ada yang memang jodohnya masih jauh. Gak bisa loh Mama paksa Tiwi cepet nikah kaya gitu."
"Lagian kamu gak pernah bawa laki-laki ke rumah, kamu normal kan, Wi?" mendengar pertanyaan Mama barusan membuatku langsung tersentak kaget, spontan aku mengucapkan istighfar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
