CHAPTER XXXIV—Surprise Part 2: The Mystery of the Big Canvas Painting
Aku merasa canggung saat Kinara mengajakku masuk ke sebuah rumah mewah yang berdiri di atas tanah yang luas, rumah itu memiliki desain arsitektur yang elegan dan modern. Kinara mengajakku masuk melalui pintu utama yang terbuat dari kayu cendana dengan ukiran rumit. Di dalam, ruangan luas yang dipenuhi furnitur mewah dan lampu kristal yang berkilauan menyambut kami. Langit-langitnya tinggi dengan chandelier besar yang menggantung di tengah ruangan, memancarkan cahaya lembut ke seluruh area.
Aku berjalan melewati dinding yang dihiasi dengan beberapa foro keluarga terpajang dengan dapi dalam bingkai besar. Tapi, yang membuatku terkejut ketika aku melihat ada sebuah foto yang menonjol, menampilkan sosok Rama di dalamnya. Rama tersenyum lebar, berdiri di tengah-tengah dengan toganya, dengan wajah penuh kebahagiaan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
"Ayo, duduk." Ujar Kinara, memecah keheningan. "Kamu pasti bingung kan, di sini banyak banget foto Rama."
Aku melirik foto-foto di dinding, merasa seolah aku memandang ke dalam dunia yang sangat asing. Gambaran kebahagiaan dan keharmonisan foto itu kontras dengan perasaanku saat ini. Kalau diingat-ingat, aku dan Rama tidak pernah membahas perihal keluarganya. Dia, sangat tertutup.
"Ini rumah Rama yang sebenarnya," lanjut Kinara dengan tenang. "Aku tinggal di sini juga."
Kalimat itu mengalir dengan mudah dari mulutnya, namun dampaknya cukup mengejutkan bagiku. Ternyata sudah sejauh itu hubungan mereka. Ada sesuatu yang bergetar di dalam diriku saat menyadari kenyataan ini.
"Kayanya, saya gak perlu kasih tau apa-apa lagi." ujarnya, dia menyilangkan kakinya dengan anggun. "Kamu udah tau semua ceritanya dari Hera kan?"
"Saya udah gak ada hubungan apa-apa lagi," kataku, berusaha mengendalikan emosi. "Rama dan saya sudah selesai."
Kinara tersenyum, dengan suara lembut dia melanjutkan, "ya, sudah seharusnya." Ucapnya.
"Sebenarnya, ini ada apa ya? kenapa saya dibawa kesini?" tanyaku, sudah cukup basa-basinya.
Kinara tersenyum tipis mendengar pertanyaanku, lalu melirik ke arah foto Rama yang terpajang di dinding, seolah memikirkan sesuatu. Dia mengambil napas dalam sebelum akhirnya menjawab, "Kamu benar. Sudah saatnya kita berhenti bermain teka-teki." Ucapnya, dia kemudian bangkit dari duduknya dan kembali mengajakku pada suatu ruangan. "Ikut saya."
Aku berjalan di belakang Kinara, dengan rasa penasaran yang terus bertambah. Akhirnya, kami tiba di depan sebuah pintu kayu yang terlihat sederhana namun tetap elegan, berbeda dari pintu lainnya yang berukir rumit.
Kinara membuka pintu dan masuk, mengundangku untuk ikut masuk ke dalam. Itu adalah sebuah kamar yang besar dan rapi, dengan jendela besar yang memungkinkan cahaya matahari masuk, memberikan nuansa hangat dan nyaman. Di satu sudut ruangan, terdapat meja dan beberapa buku dan kertas yang tersusun rapi. Tempat tidur terletak di bagian tengah kamar, dengan sprei berwarna netral dan bantal yang sedikit berantakan, seperti baru saja ditempati oleh si penghuni.
Ada satu lagi yang menarik perhatianku, sebuah pintu kecil di sudut kamar dimana letaknya berada di dekat meja. Kinara berjalan menuju pintu kecil itu dan membukanya perlahan. "Ada sesuatu yang Rama sembunyikan di sini, mungkin ini bisa menjawab semua pertanyaan kamu."
Dengan hati-hati, aku melangkah mendekat dan melihat ke dalam ruangan kecil yang tersembunyi di balik pintu. Di dalamnya, ruangan itu dipenuhi dengan lukisan-lukisan yang tergantung di dinding dan lukisan-lukisan yang berjejer rapi di sana. Aku melihat sebuah kanvas besar di tengah-tengah dengan kain putih yang menutupinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
Storie d'amoreDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
