CHAPTER X—Disillusionment Moments: The Bitter Cafe Encounter
Flashback
Gadis dengan seragam putih abu-abu itu berjalan cepat, kakinya yang riang dengan senyum di bibirnya menjadi sebuah tanda bahwa ia sedang bahagia. Ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya; jarum sudah menunjukkan pukul 2 siang, harusnya Daniel sudah ada di tempat tujuan. Namun, detik demi detik terasa panjang, sementara hatinya berdebar tak karuan.
Mendekati kafe, Tiwi merapikan rambutnya dengan gemetar. Aroma kopi yang menggoda mulai merayapi hidungnya, mencampur dengan kegelisahan yang memenuhi pikirannya, ia berlangkah menuju sudut kafe, dimana seorang pria sudah duduk dengan senyum tipis di bibirnya. Dia datang, itu berarti laki-laki itu menerima suratnya.
Tiwi duduk di hadapan Daniel, menoba menahan kecemasannya. "Aku udah pesen cokelat panas buat kamu." Ucap Daniel sambil tersenyum, sorot maanya menyiratkan sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Tiwi membalas senyuman Daniel, tangannya kini bergerak menurunkan tas gendongnya, ia meraih sesuatu di dalam sana dengan dada yang berdebar. Ini hari ulang tahunnya, di hari ini juga dia ingin mencetak kenangan yang akan ia ingat sampai nanti. Daniel harus mengetahui bahwa ia selama ini menyukainya.
Belum sempat benda itu naik ke permukaan, ucapan Daniel membuat ia menghentikannya, "Ayleen, aku mau ngomong sesuatu." Ujarnya, nadanya terdengar tidak mengenakkan, terkesan hati-hati, mendengar nama depannya disebut, dada Tiwi berdesir.
"Aku dan Jia.. kami berpacaran." Ucapnya membiarkan kata-katanya menggantung di udara sejenak.
Jia? Gadis yang selama ini membantunya mendekati Daniel. Tiwi merasa seakan dunianya hancur, ketika kebenaran yang menyakitkan itu menghantamnya. Dalam hatinya, kehampaan menyergap saat menyadari bahwa Daniel berpacaran dengan sahabatnya, Jia. Seperti kafe yang tiba-tiba terasa lebih gelap meski dihiasi lampu hangat, hati Tiwi terasa hampa walau senyumnya masih bertahan.
Tiwi menundukkan kepalanya, berusaha mengekang kekecewaannya. Namun, getaran di tangannya memperlihatkan betapa runtuhnya dia di dalam. Mengingat bagaimana Jia telah membantunya secara diam-diam untuk mendekati Daniel, membuatnya merasakan pahitnya penolakan ini. kenapa harus begini?
Ketika dia mengangkat wajahnya, mencoba tersenyum meski hatinya berkecamuk, "aku ikut seneng dengernya, Dan." Jawabnya, tetapi hatinya berteriak dalam kehampaan yang tak terucapkan.
"Jia gak suka sama kedekatan kita, semoga kamu ngerti ya." ucap Daniel lagi, kata-kata itu menusuk Tiwi seperti pisau tajam. Apa katanya? Jia tidak menyukai kedekatan mereka? Apa Tiwi salah dengar? Apa patah hatinya kali ini kehilangan fungsi pendengarannya?
Tiwi mencengkeram benda yang masih berada di tangannya itu, bagaimana bisa Jia melakukan ini semua ketika gadis itu selama ini mendukungnya dengan Daniel?
***
"Lo tuh terlalu terpaku sama Daniel, apa-apa tentang Daniel selalu buat lo kalut kaya gini." Ucapan Sara membuatku terdiam, aku menahan diri untuk tidak merobek undangan yang berada di tanganku itu.
Ruangan di sekitar kami sepi, hanya terdengar hembusan angin dari jendela yang terbuka, membawa aroma bunga-bunga dari taman di luar. Aku sudah hampir satu jam bercerita dengan berderai air mata, Sara menemaniku dengan setia tanpa menyela. Posisinya yang tenang dan penuh perhatian, sesekali mengusap punggungku untuk menenangkan, memberiku keberanian untuk melanjutkan.
Aku menceritakan segala kejadian sore tadi; pertemuan dengan Daniel, percakapan dengan Daniel, bahkan sampai pertengkaran Mas Rama dengan perempuan yang tidak aku ketahui itu, astaga aku bahkan sampai melibatkan diri tanpa berpikir panjang. Setiap detil terasa begitu hidup, setiap emosi terurai dengan jelas dalam percakapan kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomansaDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
