CHAPTER XLVII—Mood Meter: Tired to More Than Average
Aku keluar gedung setelah hampir semua populasi yang ada di dalamnya pulang. Kegiatan training Rea memakan waktu, jadi mau tidak mau aku mengerjakan pekerjaannya seharian ini setelah pekerjaanku selesai. Besok hari sabtu, yeay~ aku akan berleha-leha seharian untuk mengembalikan energiku yang hampir habis.
Aku berlari kecil ketika mendapati Rama sedang menungguku dengan jas lengkapnya yang rapi. Dia baru saja pulang bekerja dan langsung menjemputku. Sebenarnya, aku merasa tidak enak karena dia harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh hanya untuk menjemputku, tapi dia tetap dengan tegas mengatakan kalau dia melakukannya karena keinginannya sendiri.
"How are you feeling after today?" tanyanya. Tanpa menunggu jawabanku, dia meraihku untuk masuk ke dalam pelukan, sebuah kecupan lembut mendarat di puncak kepalaku, membuat segala lelah yang aku rasakan perlahan menguap.
Aku mendongakkan kepala, menatap matanya yang penuh perhatian di balik kacamatanya, mencari kehangatan di sana. Dia menundukkan kepalanya untuk menatapku lebih dekat, membuat jarak di antara kami hampir tak terasa. Senyum kecil terbit di bibirku, "pretty exhausted, honestly." Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan rasa lelah yang masih tersisa. "How about you?" lanjutku, ingin tahu bagaimana harinya juga.
Dia mengangkat alisnya sedikit, senyum lembut menghiasi wajahnya. "I'm better now that i'm with you."
Aku melepaskan pelukannya dan mencebikkan bibir seolah tidak puas dengan jawaban yang manis itu. "Ck, you always know the right thing to say, don't you?" godaku. Meski begitu, aku tidak bisa menahan senyum di bibirku.
Dia tertawa, kemudian kami bergerak untuk ke dalam mobil. Dia membukakan pintu untukku membuatku menyipitkan mata, "oke aku nyerah," ucapku, "kamu mau apa sebenernya?" tanyaku curiga.
"Nothing." Katanya, "mood kamu perlu diperbaiki sedikit malam ini. Aku dengan senang hati akan membuatnya jadi lebih baik"
Aku mengangkat alisku, tapi tetap menurut dengan duduk di kursi penumpang dan membiarkannya menutup pintu mobil dengan senyuman manis di wajahnya. Dia terlihat sedikit... bersemangat? Perasaan hangat menjalar dalam dadaku mengingat aku tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Ada sesuatu yang membuatku merasa istimewa dan diterima dengan hangat.
Dia segera mengambil tempat di balik kemudi dan mengedipkan sebelah matanya ke arahku dengan usil sebelum mulai fokus menyetir. Saat mobil bergerak, aku bisa merasakan getaran semangatnya menular kepadaku.
"Keberatan kalau kita belanja dulu?" tanyanya, suaranya ceria dan penuh antusias.
"Belanja apa?"
"Aruna sama Kala lagi nunggu di rumah, aku ajak mereka untuk bakar-bakaran."
"Bakar?"
"Bakar rumah." celetuknya dengan raut datar, "ya kali kan? Bakar daging, Ayleen."
Aku tak bisa menahan tawa kecil yang keluar dari bibirku, merasa lega dengan energi yang dia kirimkan kepadaku saat ini. "Astaga, kamu gitu aja ngambek."
Dia melajukan mobil menuju supermarket terdekat, aku memperhatikan bagaimana semangatnya semakin jelas terlihat. Sesampainya di parkir, dia memarkirkan mobil.
"Jangan turun." Katanya, sebelum keluar dari mobil. Aku terdiam dan mengikuti pergerakannya yang berjalan ke sisi pintu yang lain.
Dia membukakan pintu untukku dan mempersilahkan aku untuk keluar, "kamu gak perlu lakuin ini, Rama." Ucapku.
"You deserve to be treated like this."
***
"Steak, sosis, sayuran buat grill udah," jelasnya sambil memeruksa beberapa paket daging yang sudah dia masukkan ke troli belanja. Aku mengambil beberapa sayuran segar dari rak sampingnya dan memasukannya ke dalam keranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
