gais, ada sedikit perubahan ya. disini kan tadinya Ayleen a.k.a Tiwi sama Mbak Hera itu kan admin marketing, nah aku revisi mereka jadi admin finance yaaaaa. takutnya kalian bingung waktu baca chapter ini hehehe. Happy reading gaiiis loplop
CHAPTER XVI—Under the Gazebo: Rainy Kiss Unveiling Hidden Feelings
Aku melangkah masuk ke gedung kantor dengan langkah ringan. Udara di lobi dipenuhi dengan bunyi ramah dan sapaan dari rekan-rekan sejawat yang sudah tiba lebih awal. Suasana ceria dan bersemangat begitu menyambut, menciptakan atmosfer yang penuh energi positif.
Ketika aku naik ke lantai empat tempat kantorku berada, aroma kopi segar menyamputku dari arah pantry. Sejumlah karyawan yang sudah mulai sibuk ngobrol dan tertawa menandakan bahwa kegiatan hari ini sudah dimulai. Papan pengumuman di dinding penuh dengan informasi terkini dan pengumuman acara kantor.
Setibanya di ruangan kerja, aku dikelilingi oleh deretan meja dan layar komputer yang sudah hidup. Bunyi ringan dari papan ketik dan obrolan santai menciptakan latar belakag harmonis, mereka tampaknya sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Aku menarik kursiku dan mulai duduk, tanganku mulai menyalakan CPU dan sibuk menata pekerjaan yang akan kugeluti hari ini. Aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan lalu menatap Mbak Hera yang tampak muram. Mood-ku saat ini sangat bagus, tapi melihat Mbak Hera yang seperti itu, senyumku jadi turun kembali.
"Mbak, is everything okay?" tanyaku mencoba menanyakan keberadaannya.
Mbak Hera menoleh, aku melihat wajahnya yang muram dan mata yang sembab menciptakan kontras yang mencolok di tengah-tengah aktivitas kantor yang berjalan normal.
"Kita udah resmi putus, Wi." Katanya dengan nada yang lemas.
Ketidakpercayaan melingkupiku, "Kok bisa, Mbak? Bukannya kejadian waktu itu hanya salah paham aja?" tanyaku lagi, aku melihat bahu Mbak Hera yang turun dengan lemas.
Mbak Hera mengangguk dengan penuh kekecewaan. "Dia udah tau kalo itu cuma salah paham, kayanya dia emang cari alasan buat putus sama gue, Wi." Tuturnya.
"Gak mungkin, Mbak." Ujarku yakin, dengan fakta Mas Rian yang berniat melamar Mbak Hera tentu saja yang dikatakan Mbak Hera itu dirasa tidak mungkin.
"Terus kenapa dia nyembunyiin fakta kalo gue sama Rama ciuman karena unsur ketidaksengajaan? Meskipun gue gak inget gimana kronologinya, tapi harusnya dia ngomong dong sama gue, Wi." Keluh Mbak Hera, wajahnya memancarkan kekecewaan yang begitu kentara.
Setelah menarik napas, Mbak Hera kembali membuka suara,"gue paham kalo dia marah, tapi kalo sampe dia minta putus kaya gini ya gue patut mempertanyakan dong masalah sebenernya apa." tambahnya.
Aku hanya bisa mengangguk dalam diam, merasakan kebingungan dan kekhawatiran yang merayap dalam pikiranku. Meskipun ingin membantu, namun aku juga tidak tahu keadaan sebenarnya bagaimana. Terlepas dari semua ini, satu hal yang aku yakini, mereka butuh waktu dan pemahaman lebih dalam untuk mengatasi permasalahan ini.
"Halo, Ibu Tiwi." Suara seorang perempuan menyapa telingaku, menghentikkan alur pembicaraanku bersama Mbak Hera.
Dia adalah Mbak Nia, Staff finance di bagian pelunasan. Seperti biasa, kalau dia sudah datang itu berarti ada revisi dari pekerjaan yang kukerjakan minggu sebelumnya. Wajahnya yang memancarkan senyum khas membuatku merasa seperti ada masalah yang menanti.
"Wi, ada revisi," ujarnya sambil tersenyum manis, nah kan aku bilang juga apa. Dia menyodorkan sebuah dokumen kepadaku.
"Loh? Ini yang minggu kemarin lo bilang lolosin aja kan?" tanyaku, sedikit kesal karena aku sudah mendapat persetujuan darinya untuk mengirimkan dokumen itu kepada pihak buyer.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomansaDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
