CHAPTER XXVI—The Bridge: A Minor Dispute
"Dongengnya lo jadian sama Mas Rama, emang iya, Wi?" Rio menarik kursi milik Mbak Hera yang masih kosong meskipun jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Suaranya mengandung nada penasaran yang tidak bisa disembunyikan, seakan ada sesuatu yang penting yang harus dia ketahui.
Aku menatap Rio dengan malas sambil membereskan arsip-arsip pekerjaan yang sudah kuselesaikan. Sebenarnya, aku tidak ingin menyembunyikan hubungan ini, tapi juga tidak merasa perlu mengumumkannya. Namun, mendengar pertanyaan Rio membuatku mengernyitkan dahi.
"Dongengnya?" tanyaku, menatap Rio yang kini sedang memainkan kursi Mbak Hera dengan tidak sabar, seolah kursi itu adalah mainan baru yang sangat menarik.
"Di bawah lagi rame banget ngomongin lo," jawabnya sambil mengangkat bahu, "tapi, tenang aja, gue langsung klarifikasi."
Rio mendekatkan kursinya ke arahku, "gue tahu lo bukan selera Mas Rama banget," lanjutnya dengan nada yakin. Jujur saja, aku agak tersinggung dengan ucapannya itu, sialan dia! "gue juga punya bukti kuat, Wi," tambahnya.
"Emangnya ada yang salah sama Tiwi?" tiba-tiba terdengar suara dari belakang, membuatku terkejut. Tangan yang harum dengan parfum yang sangat ku kenal itu menarik kepalaku mendekat ke wajah Rio dengan lembut namun tegas. Itu Mbak Hera, orang yang beberapa minggu belakangan ini tidak menyapaku dan jarang sekali berkomunikasi denganku.
"Lo lihat baik-baik," katanya kepada Rio dengan nada memerintah. "Apa yang salah sama dia? Matanya cantik meskipun agak sipit, bulu matanya gak lentik, tapi tetep manis, lo liat alis tebelnya," lanjutnya sambil mengabsen detail di wajahku, "meskipun hidungnya gak mancung banget, tapi itu ciri khasnya, lo perhatiin juga bibirnya, mukanya yang bulet—"
"Mbak, yang lo sebutin kekurangan gue semua." Ujarku tak terima, nadaku terdengar canggung karena kami belum berbincang kembali setelah percekcokan hari itu, sampai saat ini kami hanya mengobrol seperlunya saja, jadi aku agak sedikit kaget mendengar Mbak Hera berbicara seperti itu barusan.
Rio menggoyangkan jari telunjuknya di udara dengan dramatis, "bukan karena itu," katanya, "gue pernah gak sengaja papasan sama Mas Rama di Mall, buset Mbak, kalo lo liat dia cantik banget!" cerocosnya, "bahkan Kendal Jenner aj—" ucapan Rio terpotong karena mulutnya dibungkam oleh tangan Mbak Hera. Mata Rio menatap Mbak Hera dengan protes sementara pria itu berusaha melepaskan tangannya
"Gue mau kerja, udah lo pergi sana." Usir Mbak Hera dengan tegas.
fair enough. Tapi yang perlu kamu tahu, aku ada di sini sekarang, sama kamu.
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku. Apa aku harus menahan rasa penasaranku? Atau aku harus menanyakan hal ini kepadanya? bisa jadi, Rio salah lihat kan? Bisa saja orang yang dia lihat itu adalah orang lain. Pikiran ini terus mengganggu, membuatku gelisah.
"Wi?"
"Hah? Kenapa, Mbak?" astaga, aku tidak sadar aku melamun.
"Sialan! Lo gak denger gue ngomong apa?" tanyanya, raut wajahnya terlihat kesal, tapi meskipun begitu aku bisa melihat sekilas ekspresinya sudah lebih bersahabat daripada sebelumnya. Mungkin, ini pertanda bahwa kami sudah akur kembali.
Aku meringis, "maaf, Mbak."
Dia memutar bola matanya dengan sebal, "lo lupain aja apa yang diomongin Rio tadi."
Aku terdiam sebentar sebelum memilih untuk kembali berkutat dengan keyboard dan mouseku, mencoba mengalihkan pikiran dari perasaan yang campur aduk. Aku menyadari betapa sulitnya fokus dengan semua perasaan ini yang terus mengganggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
