CHAPTER XXXIII-Surprise: Something Totally Expected

1.3K 63 2
                                        

CHAPTER XXXIII—Surprise: Something Totally Expected

Malam sebelumnya...

"Kayaknya, kawinan lo harus diundur lagi sampe nyari calon yang baru." Ejekan dari Sara membuatku mendelik sebal, aku melemparkan bantal kepadanya sebagai balasan untuk pernyataannya yang menyebalkan itu.

Aku menekuk bibirku, dan beringsut duduk di sampingnya yang kini sedang merapatkan tubuhnya di dinding kamarku, "gue gak mau ditinggal nikah sama lo," kataku dengan nada yang penuh kekecewaan.

Dia tertawa lalu mengangkat tangannya yang jari manisnya kini sudah dihiasi dengan cincin perak dengan berlian yang begitu indah di tengahnya, "i love him so much, Wi."

Melihat cincin itu, aku tidak bisa menahan diri. Aku tersenyum lebar dan meraih tangannya, bereaksi berlebihan. "Astaga, Reno! Ini berlian gak kurang gede apa?!"

Sara memandangi cincinnya dengan penuh kebanggaan. "Iya, kan? Reno emang tahu caranya bikin gue terkesima." Sara kini menatap gue, tatapannya berubah menjadi sendu. "gue ikut sedih ya, belum sempet lo kenalin dia ke gue, kalian malah udah selesai duluan."

Aku mengangkat bahuku acuh tak acuh, "hidup emang gak ada yang tahu." Ucapku, "i'm happy for you, Sar."

Sara memelukku dari samping, dia terkikik geli ketika aku lagi-lagi membicarakan tentang rencana pernikahannya dengan Reno. "Gue penasaran deh, proses dia ngelamar lo kaya gimana." Ungkapku.

"Panjaaaaang banget, gue gak tahu harus mulai dari mana," kekehnya, "eh, Papa lo sekarang keadaannya gimana?" tanya Sara.

Mengingat Papa, hatiku menjadi berat. Aku sebenarnya ingin diam di Bandung lebih lama sampai benar-benar memastikan kalau Papa baik-baik saja. Akan tetapi, Teh Fira menenangkanku dan menyuruhku untuk pulang ke Jakarta karena urusan pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan lebih lama. Alhasil, aku kembali ke Jakarta dan membawa Aruna turut serta karena masa liburnya juga waktu itu sudah hampir habis.

"Sejauh ini udah mendingan sih, sekarang dia dijaga ketat sama Teh Fira." Jawabku.

Sara mengangguk, "Papa lo bakal baik-baik aja, kok." Ucapnya menenangkan.

"Ya, pasti." Ujarku yakin.

"Kapan terakhir kali lo ketemu dia?" mendengar Sara meyebutkan kata 'dia' sebagai kata pengganti 'Rama' membuatku merasa deja vu, dulu waktu aku melewati hari-hari pahit bersama Daniel, Sara juga tidak berani menyebut namanya.

"I don't know, i just don't want to think about him right now." Jawabku, berusaha menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.

Kami terdiam sejenak, menikmati keheningan yang penuh makna. Lalu, Sara kembali membuka suaranya, "lo... oke?"

Aku menarik ujung bibirku dan mengangguk, "gue oke." Namun, ucapan itu terasa sangat kosong dan palsu di mulutku. Rasanya seperti ada beban berat yang tak tertahankan menekan dadaku. Berbanding terbalik dengan apa yang kukatakan, air mata justru mengalir deras tanpa bisa kutahan. Aku berusaha keras untuk tetap tenang, tapi emosi yang tertahan terlalu lama akhirnya pecah juga.

"He's getting engaged. What should i do, Sara?" tangisku pecah, terisak-isak. Kata-kata itu keluar dengan rasa sakit yang mendalam, seolah menembus jantungku. Setiap kali aku mengingatnya, rasa sakit itu seperti berdenyut tanpa henti, semakin membesar dan sulit untuk diatasi.

Sara memelukku erat, berusaha menenangkan. Aku bisa merasakan ketulusan dalam pelukannya, dan itu sedikit menghibur di tengah kekacauan perasaanku. "Gue cuma... nggak tahu harus gimana," ucapku, dengan suara yang hampir tak terdengar. "Rama... dia sudah memutuskan jalannya, dan gue cuma bisa berdiri di sini, merasa kehilangan."

Butterfly EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang