CHAPTER XXVIII-Heart Struggle: Rama's Pov

1.3K 65 2
                                        

CHAPTER XXVIII—Heart Struggle: Rama's Pov

Telinga gue menangkap suara Hera yang sedang berteriak, tapi bukan itu yang membuat gue menoleh ke arahnya. Namun, nama yang dipanggil Hera, gue yakin itu Ayleen. gue melirik ke arah pintu dan benar saja, gue mendapati Ayleen berjalan keluar dengan wajahnya yang sedih. Bagaimana dia bisa ada di sini? Jantung gue berdegup kencang, berusaha mencerna situasi yang tiba-tiba berbalik menjadi mimpi buruk.

"Poor you." Suara Hera terdengar mengejek di telinga gue. Dia berjalan melewati gue dengan santainya, seolah-olah tidak ada yang salah. Sialan! Gue harusnya tau kalau dia itu memang menyebalkan. Ingatkan gue untuk tidak merestui dia kalau sampai dia balikan lagi sama Rian. Gue menahan diri untuk tidak mengumpat, mencoba untuk teteap fokus menyelesaikan urusan ini dan pergi dari sini secepat mungkin.

Dengan perlahan, gue melepaskan kaitan tangan Kinara di lengan gue, membuat dia memasang wajah bertanya-tanya, "sebentar," pamit gue dengan suara yang mencoba terdengar tenang. Setelah itu gue keluar dengan langkah cepat untuk menghampiti Hera.

Sekilas gue melihat ke arah Ayleen yang sedang menghentikkan taksi, wajahnya terlihat penuh dengan kesedihan dan kekecewaan. Hati gue terasa mencelos, tapi gue harus tetap fokus pada Hera. Gue melihat Hera menekuk tangannya dan memainkan kukunya dengan santai, seolah dia tahu keberadaan gue. dia mengangkat kepalanya dan menatap gue dengan tatapan yang dingin dan pentuh tantangan. "Maksud lo apa?" tanya gue dengan nada rendah, berusaha menahan amarah yang mendidih.

Hera mengangkat bahunya dengan santai, tanpa sedikitpun rasa bersalah di wajahnya. "Dia peru tahu, Rama. lo gak bisa terus-terusan sembunyiin ini dari dia." Katanya.

"Ini bukan urusan lo," gue menggeram, menahan amarah gue yang hampir meledak kalau saja gue tidak melihat sekeliling, "gue yang akan nentuin kapan dan gimana dia akan tahu."

Hera menatap gue dengan raut meremehkan, "lo pikir lo bisa ngatur segalanya?" tanyanya, dia kemudian bersandar pada dinding kafe dengan santainya, "kadang-kadang kebenaran itu perlu keluar dengan cara yang kasar," lanjutnya yang membuat gue merasa tertusuk.

Gue menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Jangan pernah ikut campur dalam masalah gue," gue memperingatkan dengan suara yang lebih keras dari yang gue maksudkan.

Dia menyeringai, bibirnya melengkung dengan kejam. "Lo pikir lo bisa kontrol semuanya? Hidup ini gak sehitam-putih itu, Rama." katanya sambil menatap gue dengan tatapan yang membuat darah gue mendidih.

Gue harusnya tahu kalau Hera bukan orang yang bisa dipercaya. Dari ciuman waktu itu sampai insiden hari ini, gue harusnya udah tahu kalau Hera memiliki niat lain yang sedang dia rencanakan. Dengan langkah berat, gue meninggalkan Hera dan kembali ke dalam ruangan, berusaha mencari cara untuk memperbaiki ini semua. Tapi, rasanya sangat berat. Gue gak tahu harus mulai ini dari mana, cara memperbaikinya bagaimana, gue merasa sangat buntu hari ini.

***

Gue masuk ke dalam mobil, dengan Kinara di sebelah gue. Suara mesin yang menyala seolah menjadi sinyal untuk melepaskan diri dari kekacauan ini. Tanpa banyak bicara, gue akhirnya memutus kaitan tangannya di lengan gue membuat dia akhirnya memasang wajah cemberutnya, mungkin berharap gue akan bersandiwara lebih lama. tapi, gue udah muak sama dia. Udara di dalam mobil terasa tegang, dan gue mencoba untuk fokus pada jalan di depan, meskipun pikiran gue berkecamuk.

"Mama minta kita untuk meresmikan pertunangan kita, Papa kamu juga udah nyetujuin." Ucapnya, suaranya terdengar seperti retorika yang sudah dihafalkan.

Gue udah tahu tentang hal ini, Bastian, Kakak gue udah membicarakan hal ini sebelumnya, jadi gue gak kaget mendapat kabar yang tiba-tiba begini.

Butterfly EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang