CHAPTER V—Echoes of Silence: Unraveling Nighttime Tensions
Pertengkaran Mbak Hera berakhir dengan bantingan pintu yang keras, aku yang baru tiba di depan apartemenku tersentak kaget. Di sana ada Mas Rian yang memasang wajah muramnya, rautnya terlihat frustasi yang menandakan kalau mereka belum baik-baik saja. Malamku pasti akan terganggu lagi, kenapa mereka berdua tidak pernah membiarkanku menikmati tenangnya malam? Tapi, sedikitnya aku merasa bersyukur karena Mbak Hera selalu lari kepadaku, dibandingkan dengan pergi ke hiburan malam untuk memabukkan kepalanya. Ya.. meskipun aku harus mengorbankan malamku yang indah ini, tapi tidak apa, aku akan menjadi sahabat yang dengan senang hati menampung segala kegelisahan dan kegundahan hatinya.
"Wi, sorry ya." Ujar Mas Rian pelan, "gue titip Hera ya." Lanjutnya.
Aku mengangguk pelan, "Is everything okay?" tanyaku kepadanya.
Mas Rian terlihat menyugar rambutnya lalu kembali membuka mulut, "kali ini kayanya butuh waktu." Ungkapnya, "maaf ya Wi, gue malah ribut di sini."
Aku tidak menjawab, melihatnya seperti ini bukan sekali dua kali. Aku sedikit kasihan melihatnya seperti orang kebingungan dan putus asa seperti ini. Tapi, tentu saja aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan mereka menyelesaikan urusannya. Aku kira ini lebih dari hanya sekedar bertemu dengan mantan, Mbak Hera tipe yang mudah luluh dan memaafkan hanya dengan dirayu sedikit oleh Mas Rian.
"Rama masih di bawah, Wi?" tanyanya.
"Dia udah pergi Mas." Jawabku.
"Sialan." Umpatnya.
Aku sempat menawarkannya untuk pesan taksi online karena dia kelihatannya tidak membawa ponsel, aku bisa mengetahuinya ketika dia menggerakkan tangannya untuk merogoh segala saku yang berada di baju dan di celananya. Mas Rian menolak tawaranku, dia pamit dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Sebenarnya ada apa ini?
Aku masuk ke dalam apartemenku dan mendapati Mbak Hera tengah duduk di pinggiran kasur dengan wajah bengkaknya. Dia terlihat sedih, dia menatapku sebentar sebelum menghamburkan dirinya untuk memelukku dan kembali menangis.
Aku tidak bertanya, aku hanya membiarkannya menangis sepuas mungkin. Aku menepuk punggungnya pelan, mencoba menenangkan dirinya yang tentu saja itu tidak berpengaruh.
"We've decided to break up." Dia berucap dengan nafas yang tersendat-sendat.
Aku meregangkan pelukanku dan menatapnya dengan tak percaya. Putus tidak ada di kamus Mbak Hera, aku tahu bagaimana besarnya cinta dia kepada Mas Rian. Dia tidak mungkin semudah itu untuk memutuskan hubungan, sebesar apa masalahnya?
"Kok bisa?" tanyaku.
Mbak Hera mengatur nafasnya, "gue capek, Wi."
Ternyata dia sudah berada di titik itu. Sepertinya ini masalah serius.
"He didn't say anything when I said that." Ungkapnya. Aku tidak menjawab dan terus mendengarkan segala keluh kesahnya, rasa gundah gulananya yang ia rasakan beberapa hari terakhir ini. Jelas ini bukan masalah kecil, entah ini hanya kesalahpahaman saja atau memang benar adanya. Entahlah, aku juga tidak tahu.
Mas Rian yang katanya tidak ingin menikah, pertemuan pria itu dengan mantannya, tuntutan keluarganya yang menyuruh Mbak Hera untuk menikah. Permasalahan lama dan tidak pernah mereka permasalahkan malah menjadi boomerang untuk hubungan mereka yang terlihat adem ayem. Permasalahan yang mereka anggap kecil itu menumpuk menjadi gumpalan bom waktu yang akhirnya meledak saat semuanya sudah tidak bisa ditahan.
***
Mbak Hera tidak masuk, setelah menginap di rumahku semalam dia memutuskan untuk pulang dan cuti kerja. Dia bilang ingin sendiri dan memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Mas Rian tadi sempat menghampiri mejaku dan menanyakan keberadaan Mbak Hera, dia terlihat khawatir dan meminta tolong kepadaku untuk mampir ke tempat Mbak Hera untuk memastikan keadaannya. Aku iyakan saja karena sifat Mas Rian tak ada bedanya dari Mbak Hera yang selalu memaksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
Roman d'amourDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
