CHAPTER XII—Game Of Time: Between Letters and the Sketches of Destiny
Dalam keheningan yang terbentang aku memandang Daniel. Siang tadi, permintaannya untuk bertemu di kafe biasa telah menjadi pertanda besar bagi langkahku yang sudah direncanakan untuk mengakhiri semuanya. Semuanya telah kujalani dengan matang, mengingat saran-saran Sara bahkan dan merefleksian percakapan-percakapan yang sering kulakukan dengan diriku sendiri. Terlalu lelah untuk terus menghadapi getaran perasaan yang telah menghantui sejak lama.
Setelah ungkapan terakhirku, Daniel masih terdiam. Tak ada ekspresi kebingungan atau terkejut di wajahnya menyambut kata-kataku yang tiba-tiba itu. Pria itu hanya terdiam, menundukkan bkepalanya dan melihat kedua tangannya yang bertaut di atas meja. Bahkan dia belum memesan minuman apapun, aku pun tidak berbasa-basi untuk menanyakan niatnya bertemu denganku itu apa.
"Maaf," akhirnya ia berkata setelah beberapa menit, "aku ternyata nyakitin kamu sedalam itu." Lanjutnya pelan.
Sambil menyeruput kopiku, mataku kembali tertuju ke luar jendela, seolah menatap sesuatu yang tak terlihat, "itu resiko yang harus aku kuterima, Dan."
Aku menghela napas, kemudian berdiri. Urusanku sudah selesai, aku harus segera pergi dari sini sebelum perasaanku berubah. Aku menahan diriku untuk tidak menangis saat ini, sikapnya yang seperti itu membuatku sakit.
"Aku pamit dulu, Dan." Ucapku sambil hendak berbalik. Namun, tangan Daniel menahan langkahu.
"Sebentar," kataya pelan, aku melirik ke arah Daniel yang kini tengah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kertas coklat yang sudah usang, bahkan hanya sekilas pun aku sudah bisa mengenal dengan jelas itu apa. Surat itu, kenapa dia masih menyimpannya? Aku tidak bisa berkata-kata, dengan tangan gemetar aku meraih surat itu.
"Maaf, karena aku telat nemuin surat itu." Ucap Daniel, "maaf karena aku telat sadar sama perasaan kamu."
Apa maksud dari kata telat yang ia ucapkan? Apaka itu artinya selama ini dia tidak mengetahui surat yang aku berikan itu? Jadi, selama ini dia tidak mengetahui perasaanku padanya? Lalu, dulu bagaimana dia bisa ke kafe ini menemuiku? Bukankah surat itu yang menyampaikannya? Atau... tunggu, Jia?
Ya, aku memberikan surat itu kepada Jia untuk diberikan kepada Daniel. Jadi, perempuan itu tidak pernah memberikannya. Astaga, jadi selama ini aku kira Daniel sudah mengetahui semuanya, nyatanya pria itu tidak mengetahui apa-apa.
"Waktu terakhir kita ketemu, selain mau kasih undangan, aku juga mau kasih surat itu." Ucap Daniel.
Aku menatap Daniel sambil tersenyum, "Daniel, itu udah jadi masa lalu. Aku bahkan udah lupa isi suratnya apa." bohong, aku masih mengingat dengan jelas isi surat itu.
"Ayleen aku—"
Aku merobek surat itu tanpa ragu, "see? Ini bukan apa-apa. Jangan merasa terbebani hanya karena selembar kertas lama ini."
Sebelum dia membuka suara aku kembali membuka mulut, "aku doakan yang terbaik untuk kalian, semoga bahagia." ucapku tulus.
Aku merasa lega bukan main setelah mengatakan kalimat itu, ini yang seharusnya ku lakukan sejak dulu, aku tak perlu bersusah payah memikirkan semuanya yang sudah sangat jelas akhirnya seperti apa ini.
Doaku bukan hanya sekedar ucapan belaka, aku tulus mengucapkannya sebagai teman baiknya selama ini. ya, semoga kalian bahagia, begitu juga aku.
***
Aku memainkan pena di tanganku, mencoba menyibukkan diri dengan menulis di tengah malam yang sunyi. Rasa kantuk tampaknya enggan mendatangi, meskipun aku sudah mencoba meredakannya dengan menonton beberapa video satisfying bahkan lagu nina bobo, akan tetapi sulit sekali rasanya untuk tertidur. Pikiranku melayang, pada kejadian sore tadi bersama Daniel. Sebuah rasa penyesalan menyelinap, kenapa tidak aku saja yang waktu itu memberikan secara langsung surat itu? Kenapa aku malah menitipkannya kepada Jia? Tapi terlepas dari semua itu aku sadar akan satu hal. Kalau sesuatu yang bukan milikmu, mau dipaksa bagaimanapun keadaannya tidak akan pernah bisa dimiliki. Bukan karena timing-nya yang tidak pas, hanya saja memang sudah takdirnya dia bukan untukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomansDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
