CHAPTER XXIV-Summit: The Crest of Emotions

1.6K 69 1
                                        

CHAPTER XXIV—Summit: The Crest of Emotions

Aku merasa seperti ditarik ke dalam pusaran kelelahan yang tak terbendung. Suara gemuruh angin dan hiruk pikuk hutan menjadi latar belakang ketika aku berusaha menghirup napas dalam-dalam, berharap bisa mengumpulkan tenaga yang tersisa. Cahaya matahari yang merayap di antara pepohonan menjadikan setiap langkahku semakin berat. Namun, di antara rasa lelah dan penyesalan, aku tak bisa menyalahkan Mas Rama sepenuhnya. Dia telah berusaha sebaik mungkin untuk membantuku menaklukan tantangan ini.

Aku, yang biasanya menghabiskan waktu di depan layar komputer, berleha-leha di kamar sambil menikmati film lama seperti Titanic dan Harry Potter, kini aku mendapati diriku menjejakkan kaki di jalur pendakian. Kalau Mbak Hera tahu, dia pasti akan standing applause melihat perubahan drastis ini.

Setitik keringat mengalir di pelipisku, membasahi pakaian olahraga yang seakan menempel erat pada tubuhku. Batuan-batuan tajam di sepanjang jalur pedakian seakan menyuruhku untuk lebih berhati-hati. Setiap kali kakiku terkantuk batu atau tersandung akar pohon yang mencuat, rasa sakit yang menjalar membuatku meringis dan mengumpat dalam hati.

Di sela-sela napas yang terengah-engah, aku merenung,"ck, dia harusnya tahu kalo gue bukan tipe orang yang rutin olahraga," gumamku dalam hati, sambil menatap punggung Mas Rama yang terus bergerak mendahuluiku. Entah bagaimana caranya, dia masih tetap bergerak energik dan semangat meski kita telah berjalan cukup jauh.

Sesekali, aku mencoba membangkitkan semangat di dalam diriku sendiri. "Oke, Tiwi, ini baik buat kesehatan." bisikku pada diri sendiri, "kata Mas Rama gak akan nyesel kalo udah sampe puncak." Tapi, meski aku mencoba menenangkan diri, setiap langkan ke atas terasa seperti beban yang semakin berat menindih pundakku. Bayangan puncak gunung yang dijanjikan indah oleh Mas Rama seakan menjauh setiap kali aku mengangkat kaki.

Hingga pada suatu titik. Aku tak bisa lagi menyembunyikan kelelahan ini. "Mas?" panggilku, suara pelan terbawa angin.

Aku berhenti sejenak, menatap Mas Rama dengan tatapan berudaha meminta pengertian. Dia berbalik, wajahnya terpancar kehangatan.

"Capek ya?" tanyanya lembut, "kamu masih sanggup atau mau istirahat dulu?"

Aku menggeleng, aku tahu kapasitas tenaga tubuhku, kalau dilanjutkan aku hanya akan merepotkan Mas Rama, "aku boleh balik lagi gak, Mas?" Aku merengek, untuk pengalamannya membawaku mendaki gunung, sepertinya akan menjadi mimpi buruk baginya.

"Aku kayaknya bisa turun sendiri kok, belum terlalu jauh kan? kamu bisa naik ke atas," ucapku, tak mau sampai dia harus menghentikkan perjalanannya karena aku.

Mas Rama tidak menjawab, yang dia lakukan selama beberapa saat adalah menatapku. Mungkin, dia kecewa? Tatapannya yang biasa lembut kini terlihat lebih tegas. Tapi, aku tidak akan kuat untuk melanjutkannya lagi.

"Sini," Mas Rama mengulurkan tangannya kepadaku, tangan besarnya dengan ragu-ragu kusambut sehingga dengan bantuannya aku bisa menaiki pijakan selanjutnya.

"Kamu meringis," ujarnya, aku bahkan tidak sadar.

Dia menundukkan tubuhnya, kini dengan secepat kilat dia sudah berada di bawah, melepas tali sepatuku dengan sigap. Aku tidak berkata apa-apa sampai dia melepas kaus kakiku, menatap luka yang tergores akibat sepatuku yang kekecilan. Sebenarnya, sepatu ini milik Aruna, aku merasa ini cukup tapi ternyata lumayan membuatku sakit dan pegal. Aku tidak memberitahuhya karena aku tidak mau merengek sejak awal, meskipun pada akhirnya aku tetap merengek

Aku menggigit bibirku ketika aku melihat punggungnya yang menunduk terlihat menghela napas berat. Dia marah?

"Kita turun," ucapnya, nadanya terdengar menahan amarah.

Butterfly EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang