CHAPTER XIX-Unanswered Queries: Where is him?

1.6K 95 0
                                        

CHAPTER XIX—Unanswered Queries: Where is him?

Suasana di dalam galeri Mas Rama terasa begitu tenang, hampir magis. Aku masih berdiri di depan lukisan potret Mas Rama yang begitu besar, tetapi pikiranku tidak sepenuhnya terfokus pada lukisan itu. Hatiku berdebar-debar, mencoba menangkap apa yang baru saja diungkapkan oleh Mas Rama.

Aku berdiri di sampingnya, tetapi pikiranku tidak sepenuhnya terfokus pada keindahan lukisan-lukisan itu lagi. Darahku berdesir, jantungku berdegup kencang seolah-olah memukul drum yang terus-menerus. Semua perhatianku tertuju pada Mas Rama yang berdiri dengan ekspresi lembutnya.

Dia baru saja mengatakan kalimat yang tak pernah ku sangka-sangka, bagaimana bisa dia mengucapkan kalimat sedalam itu kepadaku yang sebenarnya kedekatan kita pun masih dipertanyakan. Mas Rama menatapku dengan penuh harapan, menunggu dengan sabar atas jawabanku, aku merasakan kehangatan dari sorot matanya dan aku tahu aku harus memberinya respon.

Aku menatapnya, mencari keberanian dalam diriku. "Aku...," ucapku pelan, tapi suaraku terputus saat aku merasa keraguan melanda diriku. Apa yang akan aku katakan? Apakah ini benar-benar yang aku inginkan? Bagaimana mungkin aku bisa melangkah maju ketika aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku?

Namun, saat aku melihat Mas Rama tersenyum ke arahku, sesuatu dalam hatiku berdesir. Ada kehangatan yang memancar dari sorot matanya yang lembut, membelai hatiku dengan kelembutan yang tak terungkapkan.

"Jangan terbebani, kamu bisa jawab kapan aja," katanya, menyentuh kepalaku dengan lembut. Getaran listrik melewati tubuhku, menyadarkan aku akan kedekatan yang baru saja tercipta di antara kami. Sentuhan kecil yang membuatku merasa dilindungi.

Aku tersenyum padanya, merasa terhanyut dalam aliran emosi yang bergejolak di dalam diriku. Perasaan ini adalah sesuatu yang aku nanti sejak lama, getaran yang hanya ku rasakan dengan Daniel dapat kurasakan dengan Mas Rama. Apakah ini benar-benar cinta yang kurasakan? Ataukah hanya hasrat sesaat?

Dalam sekejap, aku merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta, perasaan itu menggelitik di dalam dada, memberiku rasa bahagia yang tak terkira. Namun, bersamaan dengan itu, ada juga ketakutan yang menghantui pikiranku.

Aku berjalan di belakang Mas Rama mencoba menenangkan diri. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui, aku ingin jujur dengan perasaanku kali ini tapi aku masih meragukan itu, di sisi lain aku juga takut Mas Rama terlalu lama menungguku hingga membuat dia akhirnya menyerah. Meskipun aku belum bisa memberi jawaban yang pasti, satu hal yang aku tahu adalahm, aku tidak bisa menghindari perasaan yang menggelora dalam hatiku.

"Ayleen," panggilan itu membuat pikiranku yang asyik berkelana kembali pada realita.

Mas Rama sudah membalikkan badannya, pria itu kini berdiri menghadap ke arahku, tangan pria itu terangkat, menyentil kecil dahiku membuatku mengaduh sebal.

"Mas!" tegurku sembari mengusap dahiku.

"Jangan terlalu dipikirin, pelan-pelan, Ayleen." katanya lagi. Aku berdecak sebal, sentilannya tidak sakit sama sekali, itu tidak berefek besar pada dahiku. Tapi, sentilan itu berefek besar pada hatiku yang kembali berdegup kencang.

Kami hendak berjalan kembali, tapi Mas Rama menghentikkan langkahku, "satu lagi," ujarnya, "Rama, just Rama without Mas." Lanjutnya.

***

"Iya, Ma. Udah dulu ya, nanti Tiwi telepon lagi." ucapku, kepada Mama yang berada di seberang sana.

Aku baru saja memutuskan telepon setelah berbincang selama satu jam dengan Mama, dia memintaku untuk membujuk Aruna agar mau pulang ke Bandung selama libur semester. Teh Fira juga mengirimkan pesan singkat dengan permintaan yang sama dengan Mama. Akan sedikit sulit membujuknya, karena aku tahu kalau dia tidak ingin bertemu dengan Ibunya, dalam waktu dekat ini aku mendengarkan dia sedang bertengkar dengan Teh Fira, ibunya, di telepon. Aku yakin, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.

Butterfly EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang