CHAPTER XLIII—Rage: Out of Control
Aku benar-benar lelah! Seharian ini, kabar-kabar buruk tentangku tersebar luas. Entah dari mana asalnya, tapi rasanya seperti seluruh orang di kantor membicarakanku. Setiap kali aku lewat, aku bisa merasakan tatapan-tatapan sinis dan bisikan-bisikan di belakangku. Mereka bilang aku adalah penyebab kematian tunangan Rama, seolah-olah aku secara tidak langsung membunuhnya. Kini, aku dianggap sebagai perebut tunangan baru Rama dan juga sebagai penyebab Rama resign dari kantor. Aku dikatakan menggodanya, menyebalkan, dan segala macam tuduhan lainnya. Rasanya hari seperti tidak ada habisnya. Rasanya seperti hari ini tidak berakhir, dan setiap detik berlalu terasa seperti beban.
"Mereka tukang gosip paling buruk yang pernah gue denger." Mbak Hera baru saja masuk pantry saat aku mengambil secangkir kopi, aku melihatnya sekilas dengan tatapan tajam, dengan terburu-buru dia kembali berbicara, "kalo lo nyangka yang nyebarin gosip itu gue, lo salah sangka." Katanya. Mengingat Kinara adalah sepupunya, prasangka itu juga muncul di kepalaku.
Dia berjalan meraih gelas dan mulai mengisinya dengan air putih, "lo tahu gue suka menggosip tapi gak suka bikin gosip, Wi." Ujarnya.
Apa bedanya? Batinku.
Tapi aku memilih untuk tidak menjawab, menyesap kopiku dengan perlahan, merasa hangatnya menyebar di tenggorokan dan memberikan sedikit kenyamanan di tengah segala ketidaknyamanan. Dalam hati, aku berniat untuk meninggalkannya dan menjauhi pembicaraan seperti ini.
Namun, sebelum aku beranjak, Mbak Hera menambahkan dengan suara yang penuh rasa ingin tahu. "Lo masih ada hubungan sama Rama?" tanyanya.
Aku membalikkan badanku, "bukan urusan lo, Mbak." Jawabku, mencoba menahan emosi.
Mbak Hera mengangkat alisnya, seolah-olah mempertimbangan jawabanku dengan seksama. "Menjadi sepupu Kinara bukan berarti gue musuh lo, Wi." Katanya, ada sedikit empati dalam suaranya, seolah-olah dia ingin memastikan bahwa dia tidak dianggap sebagai ancaman dalam situasi yang sudah cukup rumit ini.
Aku mengamati ekspresinya, mencoba mencari tahu apakah dia benar-benar tulus atau hanya mencoba menyelamatkan situasi. Aku hanya mengangguk kecil dan memutuskan untuk tidak memperpanjang pembicaraan.
"Lo bisa berhenti sekarang sebelum terlalu jauh, Wi." Ucapnya, dia melanjutkan, "gue begini bukan karena nggak mendukung kebahagiaan lo, atau karena Kinara sepupu gue."
Aku meneguk ludah, merasa tenggorokanku kering seiring dengan emosi yang mulai membara, "gue perlu bilang berapa kali sih, Mbak, biar lo ngerti?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar karena menahan amarah yang mulai naik ke permukaan. "Ini bukan urusan lo."
Mbak Hera tetap tenang, tatapannya tidak menunjukkan tanda-tanda terpengaruh oleh kemarahan yang jelas-jelas terlihat di wajahku. "Dengar, Wi," katanya pelan namun tegas, "sebelum ini, ada pasangan yang juga sama-sama memperjuangkan cintanya seperti lo." Dia mengambil napas sejenak seolah sedang mempersiapkan kalimat berikutnya, "tapi mereka nggak pernah berhasil."
Kata-katanya membuatku terdiam, seperti ada yang menghentikan detak jantungku sejenak. Mataku tertuju padanya, mencari-cari penjelasan lebih lanjut, tapi yang aku temukan hanya keseriusan yang dingin di wajahnya.
"Lo bisa tebak apa yang terjadi?" tanyanya retoris, tatapannya kini lebih tajam. "Salah satu dari mereka meninggal."
Selain status Mbak Hera yang merupakan sepupu Kinara, siapa dia sebenarnya? Kenapa dia mengetahui perihal kisah Rama sebegitu dalamnya?
"Kenapa lo tahu tentang semua ini?" Aku bertanya.
"Ada banyak yang lo nggak tahu, Wi." Suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan. "Kadang, semakin sedikit lo tahu, semakin baik buat lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
