CHAPTER IX—Aroma And Tales At The Warm Lights Cafe
"Lo yakin mau ketemu dia?" Sara bertanya sembari meraih gelas yang tersaji di atas meja. Kami sedang duduk di kafe yang sering kami kunjungi ketika aku masih belum pindah ke apartemen. Di sudut kafe, lampu-lampu berwarna hangat bergantung di setiap meja kayu yang dipenuhi dengan berbagai jenis buku tua. Tertata sapi, kursi-kursi yang nyaman dan lembut memeluk setiap pengunjung yang duduk. Aroma harum kopi segar dan aroma rempah menyambut setiap kedatangan, menciptakan sensai hangat yang merayapi ruangan. Musik jazz yang lembut menyusup ke telinga, menambah kehangatan suasana. Dinding-dinding kafe dihiasi dengan lukisan-lukisan lokal yang menambah sentuhan artistik. Sudah lama sekali aku tidak ke sini, suasananya mengingatkanku pada beberapa tahun yang lalu.
Aku menyeruput kopiku, mencoba menemukan jawaban atas petanyaan Sara. "Menurut lo, gue ini kenapa?" tanyaku sambil menatap ke dalam gelasku yang berembun.
Sara menyeka bibirnya yang basah kemudian menatapku dengan intens. "Do you still like him?" tanya Sara.
Seketika, ruangan terasa terdiam dalam ketidakpastian. Aku merenung sejenak, mencoba menjelajahi palung-palung hatiku yang terkadang rumit. "Mungkin masih," aku menggeleng perlahan, "mungkin juga enggak."
"You make sure of it." Desisnya sambil meneguk minumannya.
"Gue balik sebelum dia datang," ujarnya.
Setelah Daniel mengutarakan keinginannya untuk bertemu, aku memutuskan untuk menerima ajakannya tiga hari kemudian. Kafe ini, sebuah saksi bisu dari sejuta emosi yang pernah melanda di masa lalu, kembali menjadi tempat pertemuan yang dipilih. Di sinilah banyak kenangan manis tercipta, yang terus mengusik hatiku merki kejadian pahit itu tak pernah terlupakan.
Saat aku berbalik, ternyata Sara sudah melangkah pergi, wanita itu telah menjadi sandaran selama setengah jam terakhir, menemani keraguanku yang tak pernah usai. Pandanganku tertuju pada meja kayu tempat kami duduk terakhir kali. Aku masih ingat betul saat kami duduk berbincang banyak hal di sana, meluapkan emosi, saling melemparkan lelucon. Efek kupu-kupuku selalu menyala ketika bersamanya.
Diam-diam aku membandingkan perasaanku saat bersama pria lain dengan saat berada di dekatnya. seakaran ada jurang emosi yang sulit ditaklukan, membuatku terombang-ambing antara kenangan manis dan ketidakjelasan akan pernasaan yang kini memenuhi hatiku. Aku menjadi seperti remaja yang baru mengenal cinta, tak mampu membedakan antara suka, cinta atau mungkin hanya kerinduan yang tak terpendam.
"Hai, udah lama?" Suara Daniel menyapa telingaku, dia menarik kursi dan duduk di hadapanku.
Aku sibuk dengan pikiranku sendiri sehingga tidak menyadari kalau pria yang ku tunggu itu sudah datang.
"Eh, hai,"sapaku, mencoba menyamakan situasi, "enggak kok, aku juga baru dateng." Lanjutku.
Matanya merayapi dua gelas kosong di meja, sebuah kebohongan terbongkar.
Kehadiran Daniel, suaranya yang dikenal, sejenak meredakan kekacauan batin yang sedang kurasakan. Memberikan sedikit hentian dari pusaran emosi yang mengaburkan pikiranku.
"Kamu kenapa pergi gitu aja malem itu?" tanyanya, membuka percakapan. "Sara bilang, kamu gak enak badan," sambungnya memberi tahu.
"O-oh iya aku waktu itu emang kurang enak badan, jadi pamitan by chat aja." Jawabku tergagap.
Dia menganggukkan kepalanya, "aku pesan dulu minum." Ujarnya sambil berdiri, matanya kembali menyelusuri gelas kosong yang ada di depankuku. "kamu mau pesan minum lagi?" tanyanya menekankan setiap kata seolah mengejek kebohonganku.
Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah melanjutkan, "oke, hot chocolate seperti biasa."
Aku terdiam, dia masih mengingatnya. Minuman kesukaanku yang selalu ku pesan di tempat ini, tapi sayang sekali aku sudah tidak menyukainya. Kini, kecintaanku telah bergeser pada kafein ketimbang rasa coklat. Hampir membenci hal itu karena selalu mengingatkanku padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
