CHAPTER XVIII—Melody of Love: Blank Canvas and Story Filled In
Aku duduk di kursi penumpang mobil dengan hati yang masih terasa berat. Hari ini adalah hari yang melelahkan di kantor, tapi apa yang membuatku bahkan lebih kesal adalah sikap Mas Rama. Dia menggodaku, dan menikmati setiap ekspresi kesalku ketika aku mendengar orang-orang membicarakan tentangku dengannya.
Kuhirup napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak meledak dalam kemarahan. Mas Rama masih setia dengan senyum gelinya di balik kemudi, tapi aku memilih untuk diam. Aku tidak ingin membalasnya atau memberinya kepuasan dengan reaksi m arahku.
Tapi, di dalam hatiku, aku merasa semakin kesal. Dia bahkan tidak menyadari betapa menyebalkan sikapnya. Dan sekarang, dia berbicara tentang rencana 'kencan' yang dia punya. Sejujurnya, aku tidak ingin pergi dengan dia, bahkan saat pulang pun aku sengaja pulang lebih cepat agar aku tidak bertemu dengannya, lagi-lagi sialnya dia sudah siap sedia menungguku. Dia bahkan mengungkit hutang yang harus aku bayar untuk perlakuannya yang tak pernah aku minta itu.
"Kamu marah?" tanyanya memecahkan keheningan di antara kami.
Aku menoleh sekilas sebelum kembali melemparkan pandanganku ke arah jendela, aku memilih tidak menjawab. Biarkan saja dia berasumsi sendiri, aku tidak peduli.
"Maaf, saya cuma seneng liat muka kamu merah kaya tadi." Lanjutnya membuatku semakin kesal, apa katanya? apa aku hanya lelucon baginya?
"Ayleen—"
"Mas, aku masih gak ngerti." Aku memotong ucapannya, aku ingin sekali membicarakan hal ini dari tadi, "sebenernya Mas Rama ini kenapa tiba-tiba kaya gini?" tanyaku berusaha mencari alasan atas sikap Mas Rama yang tiba-tiba menjadi dekat denganku seperti ini.
"Kamu gak bodoh untuk mengartikan semuanya, Ayleen." katanya, membuatku semakin tidak mengerti. Aku hanya jawaban yang jelas.
Aku menatap wajahnya yang sedang fokus pada jalanan, "a-aku rasa ini—"aku menjeda ucapanku sampai dia akhirnya menoleh ke arahku bertepatan dengan mobil yang berhenti di depan lampu merah.
"—terlalu tiba-tiba." Lanjutku,
Mas Rama tersenyum, aku merasakan pipiku yang dingin disentuh oleh telapak tangannya yang besar dan hangat, "tetap seperti ini, gunakan kata 'aku', bukan 'saya' lagi." ujarnya keluar dari konteks pembicaraan, dia bahkan tidak membalas kalimatku barusan.
"Saya jadi ngerasa deket sama kamu kalo kaya gini." Lanjutnya, mengelus pipiku dengan lembut. Aku tidak bisa menolak perlakuannya seperti ini, perutku mulai terasa mulas dan jantungku mulai berpacu kencang.
Lampu hijau mulai menyala, mobil yang kami tumpangi melaju kembali. Aku tidak tahu kemana Mas Rama akan membawaku pergi, yang jelas aku merasakan sesuatu aneh yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, aku bahkan merasa jiwaku tidak ada di dalam mobil, aku kebingungan, aku merasa asing dengan perasaan seperti ini. Tapi, di satu sisi aku juga senang.
Suara musik mulai mengalun memecah keheningan, Mas Rama baru saja menyalakan musik, mungkin pria itu juga mulai merasa bosan karena aku tidak lagi berbicara. Alunan lagu ini, lirik ini, aku mengenalnya.
Take me home and don't spare the horses
Away to the silence i need
Take me home and don't spare the horses
Away to gossamer brezee
I don't need to build a house of stone
Whereever you are's where i call home
Suara Bruno Major mengalun begitu lembut dan menggetarkan jiwa saat ia mulai menyanyikan penggalan lagu "Home". Diiringi oleh melodi yang mengalir seperti aliran sungai yang tenang, lagu ini membawa pendengarnya dalam perjalanan emosional yang mendalam. Aku adalah salah satu penikmat lagu-lagunya, tak pernah absen untuk kuputar ketika aku tengah membaca buku atau bersantai di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
