CHAPTER XXVII-One Last Hug: An Indirect Answer

1.4K 78 1
                                        

CHAPTER XXVII—One Last Hug: An Indirect Answer

Kami duduk dengan canggung di sofa ruang tengah, film Titanic masih berputar menampilkan Jack dan Rose yang tengah berusaha menyelamatkan diri dari kapal yang akan tenggelam. Di sekeliling kami, suasana hening, hanya dipecahkan oleh suara ombak dari film yang diputar. Ruangan ini sepi, dengan pencahayaan redup yang membuat bayangan panjang di dinding.

"Want some coffee?" tanyaku, mencoba memecahkan keheningan. Dia tampak kacau meski sudah berganti pakaian; rambutnya berantakan, matanya yang berada di balik kacamata terlihat sulit dibaca. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya, seolah ada beban berat yang dia pikul.

Dia menggeleng, "aku kesini bukan untuk itu," jawabnya dengan suara rendah namun tegas. Ada nada putus asa di suaranya yang membuat dadaku terasa sesak.

Aku menyipitkan mataku, mencoba memahami amarahnya yang tampak berlebihan, "kamu terlalu berlebihan untuk ukuran orang yang cuma gak dibales chat-nya." Kataku pelan, tidak ingin memperparah situasi namun juga ingin dia menyadari betapa kecil masalah ini.

Dia menatap lurus ke arah layar tanpa benar-benar melihat, "bisa kita fokus ke topik yang mau dibahas?" tanyanya. Pertanyaannya membuatku terdiam. Aku menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar pesan yang tidak dibalas. Namun, aku ragu untuk membahas hal ini dengannya.

Aku menunduk, merasa terpojok. "Aku cuma lagi gak mau pegang HP," kataku akhirnya, mencari alasan tanpa berpikir panjang.

Dia menatapku tak percaya, "dari banyaknya alasan kamu pilih buat ngasih alasan itu ke aku?" ucapnya frustasi. Matanya yang lelah menunjukkan betapa banyak yang sudah dia pikirkan.

Aku menutup mataku sebentar sebelum menatap matanya yang kini mulai melihatku dengan serius, "kamu sekarang lagi cape, bisa kita bahas ini nanti?" aku tidak akan bisa menampung emosinya saat ini, yang ada aku juga akan meledak-ledak.

"Kamu ini emang tipe yang suka kabur ya?" tanyanya tajam, "apa yang udah kamu denger dari Hera?"

Aku menatapnya dengan bingung, "maksud kamu apa?"

"Sejauh mana dia udah cerita sama kamu? Gara-gara dia kan kamu gak bales chat aku?" desaknya. Suaranya mulai meninggi, dan aku bisa merasakan getaran emosinya yang kuat.

"Kenapa kamu bisa berasumsi kaya gitu?"

Aku mulai mencurigainya, apa yang dia maksud dari pertanyaannya barusan? Apa saja yang Mbak Hera ketahui? Kenapa dia terlihat sangat gusar saat ini? aku sudah tahu tentang tunangannya, perihal tunangannya yang meninggal saat bersamanya, bahkan aku juga sudah mengetahui kalau tunangannya meninggal dalam keadaan hamil. Mana dari semua itu yang membuatnya gusar seperti ini?

"Sejauh apa yang kamu tahu, Ayleen?" dia mulai meninggikan nada bicaranya.

Dia belum siap membaginya kepadaku, aku bisa melihat itu dari wajahnya. Dia terlihat khawatir dan takut tentang apa yang aku tahu tentangnya.

"Aku udah bilang kalo wanita di kafe itu kakaknya tunanganku, aku udah jelasin itu ke kamu, Ayleen." Ucapnya pelan, "apalagi yang mau kamu tau?"

Aku menunduk, merasa bingung dan tersakiti "kamu tau bukan itu maksud aku," aku menginginkan penjelasan, tentang kenapa kakak dari tunangannya bersikap seperti itu kepadanya waktu itu.

"Aku masih mikirin mau cerita ini darimana," ujarnya, suaranya melembut sedikit. "Bisa kamu kasih aku waktu?"

"Berapa lama?" tanyaku, "berapa lama waktu yang kamu butuhin?" Dia terdiam, dan keheningan itu terasa menyakitkan.

"Kamu gak bisa ngasih aku sesuatu yang jelas."

"Ayleen—"

"Aku gak suka perasaan kaya gini, aku khawatir, aku takut, aku bertanya-tanya posisi aku untuk kamu itu apa?" aku mulai meledak, "kenapa Mbak Hera tau, kenapa aku gak boleh tau?"

Butterfly EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang