CHAPTER XXXI—A Decision: Leaving Everything Behind (Rama's Pov)
"Tiwi pulang ke Bandung," Rian membuka suara ketika gue lagi asik membuat sketsa xpemandangan yang ada di depan gue.
Gue berhenti sejenak, mengalihkan pandangan dari sketchbook ke wajah Rian kemudian kembali menggoreskan tinta pensil pada kertas tanpa menjawab perkataannya tadi, "gue mutusin buat nyebur kesini, Yan." Ucap gue, menunjuk sketsa air mancur taman yang sedang gue tempati ini.
Seolah paham kalau ini bukan tentang air mancur, Rian menatap gue dengan ragu, "lo yakin?"
Kami duduk di sebuah taman kota yang kadang gue kunjungi sesekali, tempat dimana gue waktu itu bertemu Aruna yang sedang memasang wajah sebalnya di bangku ini karena bukunya jatuh ke air mancur. Dia anak yang sulit didekati, tapi kalo sudah ngobrolin perihal tokoh film kesukaannya atau tentang buku dia akan berbicara dengan antusias—ya, begitulah kira-kira gue bisa kenal dengan Aruna.
Taman ini memiliki jalan setapak yang dikelilingi bunga-bunga, dengan bangku kayu yang diletakkan di bawah pohon-pohon rindang. Suara gemericik dari air mancur di tengah taman menciptakan suasana yang tenang. Di kejauhan, gue melihat anak-anak berlari riang, sementara pasangan-pasangan menikmati sore yang cerah. Matahari mulai terbenam, memancarkan sinar keemasan yang menyelimuti taman, membuat suasana semakin syahdu. Angin semilir membawa aroma bunga yang segar, menambahkan kedamaian di sore yang indah ini.
Gue melihat ke arah sketsa gue yang setengah jadi, sketsa itu menggambarkan keadaan taman sore ini dengan air mancur sebagai pusatnya. Gue berusaha menangkap setiap detail—cahaya matahari yang memantul di permukaan air, bayangan pohon yang jatuh di jalan setapak, dan ekspresi bahagia di wajah anak-anak yang bermain.
"Dengan lo nyebur, lo tau resikonya kalo lo bakal basah kuyup." Lanjut Rian.
Gue mencebikkan bibir, "emang dari awal gue lahir, gue ditakdirkan jadi pion Papa."
Rian menunjuk sketsa air mancur yang gue gambar, "lo bisa memilih untuk nggak nyebur di sini,"
Helaan napas lelah keluar dari mulut gue, "i have no choice."
"Dengan mengorbankan semua yang udah lewati? Termasuk Tiwi?"
Mendengar nama itu gue jadi merasa bersalah, seharusnya sejak awal gue tidak pernah melibatkan dirinya dalam hidup gue. Kini, semuanya jadi terasa berat karena gue harus meninggalkan Ayleen dengan tanda tanya besar di dalam benaknya. Demi Tuhan, gue mencintainya sampai gak mampu buat bikin dia lebih sakit dari ini.
"She's the hardest thing i've ever left behind." Ucap gue.
***
Gue menemui nyokap setelah memastikan kalo bokap gue dan Kinara gak ada di rumah, bukannya gue menghindar, cuma gue lagi males buat adu mulut sama Papa. Jadi, gue mengiyakan saja karena gue juga udah terlalu malas untuk menentang.
Malam itu, langit sudah gelap dan bintang-bintang mulai bermunculan, memberikan kilauan lembut di langit yang pekat. Gue melangkah pelan memasuki rumah, suasana sepi dan tenang terasa kontras dengan keributan yang mungkin akan terjadi jika bokap ada di sini. Setiap langkah gue di lantai marmer yang mengkilap menambah kesunyian malam.
Rumah ini memiliki desain modern dan sentuhan klasik—langit-langit tinggi, lampu gantung kristal dan perabotan yang elegan. Gue bisa merasakan betapa rumah ini mencerminkan keberhasilan bisnis keluarga kami. Dinding-dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan dan foto keluarga dalam bingkai, yang menggambarkan keluarga yang begitu harmonis, hanya kelihatannya saja.
Sesampainya di ruang tamu, gue mendapati nyokap yang sudah duduk di sofa besar yang nyaman, dengan lampu meja yang temaram memancarkan suasana hangat dan mewah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomansaDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
