CHAPTER XIII-Trapped in the Daily Cycle: Between Monotony and Boredom

1.9K 104 5
                                        

CHAPTER XIII—Trapped in the Daily Cycle: Between Monotony and Boredom

Setiap hari adalah salinan yang membosankan dari kemarin. Aku terperangkap dalam siklus rutinitas yang tak ada habisnya. Setiap pagi aku harus bangun dan bersiap-siap untuk menghadapi lalu lintas kota yang padat dan meresapi rutinitas kantor yang monoton.

Meskipun pekerjaanku memberikan keamanan finansial, namun aku merasa seperti mesin yang menjalankan tugas-tugas tanpa jiwa. Kehidupanku terasa seperti lanskap yang tidak berubah dan aku merasa perlu mencari kegiatan baru untuk mengisi waktu luang.

"Mbak, minggu ini lo ada acara apa?" tanyaku pada Mbak Hera yang tengah melahap makan siangnya, aku menyesap segelas teh di kantin. Kehidupan kami seperti deja vu, duduk berhadapan dengan menu makan siang yang sama setiap minggunya.

"Minggu ini gue diajak buat kelas yoga sama tante, kenapa emangnya?" tanya Mbak Hera, "lo mau ikut?" lanjutnya.

Aku menggeleng dengan cepat, aku memang ingin mencari kegiatan baru, tapi kelas yoga bersama Mbak Hera sepertinya bukan ide yang menarik bagiku.

"Tumben banget lo nanya kaya gitu." Ujar Mbak Hera dengan ekspresi heran.

Aku menghela napas kecil, menyimpan sendok dan garpu setelah menghabiskan suapan terakhirku, "gue ngerasa hidup gue tuh monoton." Ucapku, "gue pengen melakukan sesuatu tapi gue males, tapi kalo diem aja di rumah gue bosan."

Mbak Hera memutar kedua bola matanya, ia menatapku dengan jengah dan membuka mulutnya, "ya terus lo maunya apa?"

Aku mengangkat bahuku, "gue juga bingung, kira-kira gue harus ngapain ya, mbak?" ucapku balik bertanya.

"Ya lo olahraga kek, lari, renang atau liburan kemana gitu," saran Mbak Hera, "ikut kelas merajut, buat kerajinan tangan, atau pergi ke galeri, banyak banget pilihannya, Tiwi." Lanjutnya.

Iya, banyak pilihannya. Masalahnya aku selalu malas, suka rebahan dan berdiam diri di kamar, menghabiskan waktu seharian dengan tidur-makan, tidur-makan saja.

"Lo kalo suka lukisan atau fotografi bisa tuh minta Rama," sarannya, "kalian tetangga kan." Mbak Hera terdiam sebentar, kemudian melanjutkan ucapannya, "omong-omong tentang Rama, gue kayanya harus ngomong sama dia."

Aku mengerutkan keningku, "masalah kalian bertiga belum beres?" tanyaku.

Mbak Hera menggeleng, "genre hidup gue gini amat ya Wi." Ucapnya, "padahal sebenernya simple aja, gue pengen hubungan gue sama Mas Rian tuh lancar, dari PDKT, pacaran sampe dia ngelamar gue, abis itu nikah, kita punya anak dan cucu." Mbak Hera mengusap wajahnya dengan kedua tangan, "udah gitu aja sebenernya."

"Tunangan Mas Rama tau masalah kalian?" tanyaku sedikit berbisik, mencondongkan badanku ke depan untuk lebih dekat dengan Mbak Hera.

"Rama gak punya tunangan, Wi." Ucapnya, "lo gak tau tunangannya udah meninggal?"

Kalimat terakhir dari Mbak Hera membuatku menegang, apa katanya? lalu yang kulihat di kafe waktu itu siapa, aku ingat dengan jelas kalau wajah wanita di kafe itu dengan yang ada di lukisan Mas Rama adalah orang yang sama.

"Lo yakin, Mbak?" tanyaku mencoba meyakinkan, apa aku melihat hantu waktu itu?

"Mas Rian pernah cerita tentang tunangan Rama yang udah meninggal sekitar dua tahun yang lalu, sebelum lo masuk kesini." Jelasnya, "dulu kabarnya nyebar banget, gue juga denger kalo Rama mau resign,"

Aku terdiam, tidak menjawab apa-apa dan menunggu Mbak Hera kembali melanjutkan ceritanya. Aku melihatnya tengah mengotak-atik ponselnya, mencari sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. sampai akhirnya benda pipih itu disodorkan kepadaku dan aku melihat potret bahagia enam orang yang tengah tersenyum bahagia ke arah kamera dengan memakai baju formal. Aku bisa melihat wajah Mas Rama yang tersenyum dengan wanita cantik di sampingnya, di samping mereka berdiri dua pasangan paruh baya yang tidak kalah bahagianya.

Butterfly EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang