CHAPTER VIII—Secrets of Jakarta Night: Butterflies and Mas Rama's Encounter
Efek kupu-kupuku tidak menyala, hanya naik sedikit saat aku mendengarnya menyebut namaku, setelah itu menghilang begitu saja. Bukan karena aku masih menyukainya, aku hanya sedikit gugup karena bertemu dengannya setelah sekian lama. Efeknya hanya ada sedikit, bahkan hampir hilang. Aku ini sebenarnya kenapa?
Karena merindukan kupu-kupu aku jadi salah paham dengan perasaanku sendiri, bertemu dengannya ternyata tidak membuatku kembali mendapatkan perasaan itu, alarm perutku tidak menyala sepenuhnya. Astaga, aku harus memastikan lagi.
"Kamu lagi melamun atau merenung?" Pertanyaan itu membuat pikiranku buyar, aku menoleh ke arah Mas Rama yang duduk dibalik kemudi, matanya menatapku sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan.
Beberapa saat yang lalu dia menawarkanku untuk mengantarkan pulang, padahal aku sudah menolaknya dengan mengatakan akan naik taksi saja. Tapi dia memaksaku dan mengatakan itu terlalu berbahaya, aku yang malas berdebat akhirnya mengiyakan meskipun sedikit tidak enak.
"Kenapa?" tanyaku.
"Pertanyaan itu ada untuk dijawab Ayleen," ucapnya memprotes diriku yang malah balik bertanya. Mendengarnya menyebutkan kembali namaku seperti itu membuat dadaku kembali berdesir.
"Bedanya merenung dan melamun itu apa?" tanyaku, "bukannya itu sama aja?" lanjutku yang malah kembali bertanya.
"Merenung itu lebih cenderung pada refleksi yang terfokus pada satu hal yang mendalam," ucapnya, dia kemudian menjeda ucapannya sebelum kembali membuka suaranya. "Kalau melamun itu lebih ke arah imajinatif dimana kamu berpikiran bebas tak berarah, kalau bahasa mudahnya itu berkhayal." Lanjutnya.
Aku baru mendengarnya mengucapkan kalimat panjang seperti ini, kalau dilihat dari caranya menjelaskan dia terlihat seperti Ensiklopedia bergerak. Aku menyunggingkan senyum ketika dia membenarkan letak kacamatanya.
"Kalau Mas Rama sendiri lebih suka melamun atau merenung?" tanyaku.
Setelah mendengar pertanyaanku Mas Rama terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan jawabannya. Kemudian, matanya kembali fokus pada jalanan yang ramai, seakan mencari kata-kata yang tepat.
Aku memandang gemerlapnya Jakarta malam, menahan getaran dalam dadaku yang terus memuncak sejak nama Ayleen disebutkan. Pikiranku melayang jauh, mencoba menangkap esensi dari kedua kata yang kubilang tadi.
Saat kami melaju melewati jalan yang semakin sepi, cahaya lampu jalan hanya menjadi latar belakang bagi perenunganku yang mendalam. Sesekali, aroma hujan ringan menusuk hidungku, menambah suasana hening yang ada.
"Saya merenung," jawabku mengingat pertanyaannya tadi.
Pandangan kami bertemu untuk beberapa saat sebelum Mas Rama mengalihkan fokusnya kembali ke jalan.
"Nanti setelah lampu merah di depan, belok kiri ya, Mas." Ucapku, mencoba menunjukkan arah
"Saya anter kamu sampai depan apartemen," tawarnya.
"Saya udah gak tinggal di sana, Mas," kataku sambil merogoh tas untuk mengambil ponsel yang bergetar di pangkuanku.
"Kamu diusir?" tanyanya dengan nada heran.
"Gak gitu konsepnya, Mas. Saya udah pindah," jawabku, mencoba menjelaskan situasinya.
Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan, lalu menjalankan mobilnya sesuai arahanku. Hening terasa menyelimuti, tanpa adanya percakapan. Suasana sunyi terus berlangsung hingga akhirnya, di belokan terakhir, dia kembali membuka suaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
