CHAPTER XLVI—It's Over, Ayleen (Rama's Pov)
"Saya rasa kita bisa mempercepat pertunangannya, Pa," suara gue terdengar tenang, namun tegas, saat kalimat itu keluar dari mulut gue, mengisi ruangan baca bokap yang biasanya sunyi. Ruangan itu dipenuhi aroma khas kayu mahoni dan buku-buku tua yang berjajar rapi di rak, memberikan suasana klasik yang selalu menenangkan—setidaknya biasanya begitu.
Nyokap duduk di seberang gue, menatap gue dengan wajah yang sulit diartikan—campuran kaget, cemas dan entah apalagi. Gue bisa melihat alisnya yang tipis sedikit terangkat, dan bibirnya sedikit terbuka, seakan ingin mengatakan sesuatu namun tertahan oleh kebingungan yang mendadak.
"Mau bulan depan, minggu depan, besok, bahkan hari ini saya tidak masalah, Pa." Gue melanjutkan dengan nada tegas, menekankan setiap kata dengan kepastian yang sengaja gue tampilkan.
"Kamu mulai sadar kalau Papa melakukan yang terbaik untuk kamu?" tanya bokap dengan penuh keyakinan, seolah dia sudah menang dalam percakapan ini.
Gue mengangguk mantap. "Tentu, Pa." Jawaban gue singkat, tapi penuh arti. Gue memberikan apa yang bokap ingin dengar.
"Tapi sebelum itu, syarat Tante Resa datang masih berlaku, Pa." Ucap gue.
Bokap mengerutkan keningnya, "bukannya dia sudah dipastikan gak akan bisa pulang?"
Gue mencebikkan bibir, berpura-pura tidak tahu masalah yang sebenarnya. "Lebih baik Papa sendiri yang tanya sama orangnya." Gue memutar laptop yang ada di depan gue dan mulai menyerahkannya kepada bokap. di sana sudah menampilkan wajah Tante Resa yang tersambung dalam bentuk video call.
Nyokap mengalihkan pandangannya ke arah gue, sebelum akhirnya matanya melirik ke arah laptop. Gue tahu ini adalah langkah yang berani, tapi gue juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana gue.
"Apa kabar?" Gue bisa mendengar Tante Resa menyapa, suaranya begitu tenang namun gue bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam di balik sapaan itu. "Sepertinya, anak saya mulai merepotkan kalian ya."
Gue melihat bokap gue menggeleng cepat, mencoba menenangkan situasi. "Nggak sama sekali, Resa. Dia sudah kami anggap sebagai anak kandung kami sendiri." Katanya, "jadi, kamu bisa datang kesini di hari pertunangan?"
"Kalian mau menerima orang yang sudah mencelakakan anak kalian?" pertanyaan dari Tante Resa membuat kening nyokap gue berkerut tajam, kebingungan mulai merambat di wajah mereka.
"Sebentar, maksud kamu apa?" kini giliran nyokap yang bertanya.
Tante Resa menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Anak itu—maaf, maksud saya Kinara, dia yang sudah menyabotase mobil Rama malam itu, dia yang membuat kembarannya sendiri meninggal." Kata-kata itu jatuh seperti bom, membuat raut wajah bokap dan nyokap mulai tegang.
"Rama sudah menceritakan semuanya, nomor lama saya sudah tidak pernah saya pakai lagi, kami kesini tanpa membawa apapun yang ada di Indonesia." Tuturnya, "semua kami tinggalkan di rumah lama kami, kami tidak mau membawa semua kenangan menyakitkan di sana. Kami sudah memutus semua komunikasi kami dengan orang-orang di sana."
Bokap tampak semakin bingung, mencoba menghubungkan semua informasi ini. "Ada kemungkinan memang Kinara yang memakainya, kami sudah lama tidak berkomunikasi karena Papanya terlalu marah atas kejadian tak termaafkan itu." Tambah Tante Resa, suaranya kini lebih pelan, hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh orang yang benar-benar memperhatikannya.
"Maaf karena saya tidak sopan menyampaikan ini hanya lewat panggilan," gue bisa mendengar suara Tante Resa penuh penyesalan. "Saya tidak bisa kesana, Rama kebetulan menghubungi saya dan memberitahukan semuanya, mau tidak mau saya harus memberi tahu perihal ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
Roman d'amourDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
