CHAPTER XXIX—Before We Say Goodbye: One Last Kiss (Rama's Pov)
"Di sini mulu lo, Nyet." Gue mendengar suara Rian dari arah tangga diiringi dengan ketukan sepatunya. Dia memakai jas lengkap dengan rambut yang sedikit berantakan, di tangannya terdapat sebuah botol dengan cairan bening yang sangat gue kenal.
Gue lagi merebahkan diri di atas bangku rotan panjang yang ada di atap studio kecil sambil meresapi udara malam yang sejuk, sementara lampu-lampu kota berkelap-kelip di kejauhan. Belakangan ini, tempat ini jadi semacam pelarian gue—karena rumah gue yang ada di sebelah Ayleen udah diketahui lokasinya sama Kinara, jadi gue memutuskan untuk lari ke sini.
Omong-omong soal rumah itu, gue jadi kangen sama penghuninya. Satu tahun yang lalu, sebelum rumah itu di jual ke gue, pemilik sebelumnya merupakan pasangan lanjut usia yang sangat gue kenal, terutama Ranaya. Mereka adalah sepasang kakek nenek yang tidak memiliki anak ataupun cucu. Gue gak tahu jelas gimana pertemuan mereka bertiga sampai akhirnya bisa saling mengenal, yang gue tahu Nek Harti dan Kek Hasim sudah menganggap Ranaya seperti cucunya sendiri. Informasi yang terakhir gue dapat dari mereka, sekarang mereka tinggal di desanya yang ada di Surabaya.
"Emang nyusahin banget lo," dia merutuk dan duduk di samping gue, "kenapa harus gue satu-satunya orang yang tau tempat ini?" tanyanya mendramatisir. Wajahnya tapak lelah, tetapi mata Rian selalu punya kilatan humor yang membuat suasana sedikit lebih ringan.
Gue tersenyum tipis mendengar keluhannya, "sekarang udah bukan cuma lo aja yang tau tempat ini," ujar gue, nyaris berbisik.
"Ayleen? lo ajak dia kesini?" Rian mengangkat alis, setengah heran. "Lo beneran suka sama dia?" tanyanya.
Ya, sekarang Ayleen juga sudah tahu tempat ini. Galeri kecil yang tidak pernah orang ketahui selain gue, Rian, Ranaya dan Ayleen. Sebelum perdebatan terakhir terjadi, sebenarnya gue berniat membawa Ayleen kesini, mengingat dia beberapa kali ada di atap gedung kantor, gue juga yakin dia akan menyukai atap studio ini.
Gue membenarkan letak kacamata gue dan memejamkan mata sejenak, "more than you know."
"She's a good person." Ucap Rian, menyadarkan gue kalau gue bersamanya akan banyak momen menyakitkan untuknya.
Gue mengangguk, "ever." Ujar gue menambahkan.
"Handle your stuff first, i don't want to a lose her performance cause of a jerk like you." Ucapnya, gue bisa mendengar nada humor pada kalimatnya.
"Sialan lo."
***
Gue duduk di ruang tamu mewah, dinding marmer dan lampu gantung kristal di atas kepala. Bastian duduk di seberang meja, menikmati kopi hitamnya dengan perlahan. Wajahnya serius seperti biasa, dan gue tahu obrolan kali ini nggak akan mudah.
"Lo tahu, Ram," Bastian memulai, suara beratnya mengisi ruang yang elegan ini, "bisnis properti ini nggak akan jalan sendiri. Papa udah kasih kepercayaan penuh ke gue, dan gue butuh seseorang yang bisa diandalkan untuk bantu ngelola semuanya."
Gue mengangkat pandangan, menatap mata Bastian yang penuh harap. "Semenjak gue keluar dari rumah, lo tahu kalo gue gak mau terlibat lagi di perusahaan Papa, Bas."
Bastian menghela napas panjang, menatap gue dengan campuran rasa kecewa dan pengertian. "Gue paham yang lo alami di sini, Ram. Tapi, sekali aja lo gak bisa turutin Papa?"
"Tunangan sama Kinara adalah syarat Papa kalo gue mau balik, Bas," ucap gue, mencoba menahan suara yang bergetar."Dan lo tahu gue gak pernah menginginkan hal ini."
Bastian menggoyang-goyangkan kopinya dengan lembut, seolah mencoba mencari jawaban di dalam cangkirnya. "Papa ngelakuin ini karena dia peduli sama lo, dia cuma pengen yang terbaik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomantikDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
