CHAPTER XVII—Morning Drama: Office Buzz
Pagi itu, matahari baru saja menyembul di ufuk timur ketika aku melangkah keluar dari pintu rumahku. Udara masih segar, dan embun masih melekat di daun-daun di sepanjang jalan. Namun, hatiku tidak secercah suasana pagi itu. Ada beban yang berat merangkak di dalam dada, mengganggu ketenangan pikiranku.
Semalam, semuanya terasa seperti dalam mimpiku. Saat Mas Rama, pria itu, menyentuh bibirku dengan lembut. Aku masih bisa merasakan getaran-getarannya, getaran yang terasa begitu nyata dan begitu memabukkan, aku bahkan bisa merasakan kupu-kupu di perutku seakan menyala dengan intensitas yang tak terbayangkan. Ini yang aku cari bukan? Kupu-kupu itu naik kembali untuk berterbangan setelah sekian lama, reaksi yang hanya bisa ku rasakan bersama Daniel kini bisa ku rasakan dengan Mas Rama, tapi kenapa aku gelisah sekali.
Aku harus berhadapan lagi dengan Mas Rama. Namun, aku tidak siap untuk itu, aku tidak siap menghadapi tatapan matanya, yang mungkin penuh dengan pertanyaan yang sulit aku jawab. Mungkin dia ingin membicarakannya, mungkin tidak. Aku tahu satu hal;aku tidak bisa bertemu dengannya sekarang. Tidak ketika aku masih merasa bingung dan terkejut oleh ciuman itu. Jadi, aku membuat keputusan untuk berangkat lebih pagi dari biasanya, berharap aku bisa menghindarinya.
Hati kecilku berdebar-debar, sial sekali karena Mas Rama sudah berada di depan gerbang rumahku, menunggu dengan senyuman lembut di wajahnya. Segala usahaku untuk menghindarinya pagi ini seakan sirna dalam sekejap. Aku berdiri di tempat, tidak yakin apa yang seharusnya ku lakukan.
"Selamat pagi, Ayleen," sapanya ramah sambil melangkah mendekatiku.
Aku tersentak, tidak siap untuk bertemu dengannya. Bodohnya aku, kita bertetangga, tentu saja akan selalu bertemu. "S-selamat pagi, Mas," balasku dengan suara yang terdengar gemetar.
Dia mendekatiku dengan langkah-langkah yang mantap, seolah-olah tidak menyadari kebingunganku. "Kamu sakit?" dia menyentuh dahiku dengan tiba-tiba.
Aku melangkah mundur, menghindarinya dan bertepatan dengan itu pintu di belakangku terbuka membuatku berhenti, di sana Aruna keluar dari rumah dengan roti yang berada di mulutnya, matanya menatap heran ke arah kami sebelum dia menyapa Mas Rama dengan sopan.
"Hai, Om." Sapanya riang, aku belum pernah melihat senyumnya selebar itu saat berinteraksi denganku. Kenapa dengan Mas Rama dia terlihat sangat senang sekali? Aku mendengus kecil, pelet apa yang digunakan Mas Rama sampai gadis ini terlihat menjadi gadis yang berbeda.
"Mau berangkat?" tanya Mas Rama, Aruna terlihat mengangguk, "oh, ternyata mau berangkat bareng ya, pantesan Owi udah siap pagi-pagi." Celetuk Aruna.
Aku mengerutkan keningku bingung, aku harus berbicara dengan Aruna nanti. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan kepadanya. Tak lama setelah itu, Aruna pamit kepadaku dan Mas Rama lalu menghilang di balik gerbang rumah, aku menyipitkan mataku melihat tingkah aneh dari Aruna yang tak seperti biasanya. Langkah gadis itu terlihat ringan, seperti seorang remaja yang gembira karena akan pergi ke sekolah.
"Ayo berangkat," ajak Mas Rama menarik lenganku, aku dengan spontan mundur dan melepaskan tangannya.
"A-aku... Maaf, Mas, aku udah berencana untuk berangkat lebih awal. Ada urusan yang harus aku beresin di kantor." Tolakku.
Mas Rama tersenyum geli ke arahku."Kalo kamu lupa, kita ini satu kantor, Ayleen."
Bodoh Tiwi, kamu bodoh. Batinku berteriak.
Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. aku merasa seperti aku terjebak dalam kebingungan. Namun, tidak ada jalan keluar selain mengikuti saja. Dengan hati yang berat, aku mengangguk dan bersiap-siap untuk berjalan bersamanya. Meskipun aku mencoba untuk menjaga jarak dan menahan diri, tetapi ketika langkah kami beriringan, aku merasakan kehangatan tubuhnya yang begitu dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomansaDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
