CHAPTER VII—Umbrella of Emotions: Unexpected Reunion Suprises
Sudah hampir satu minggu aku pindah ke rumah, dibantu dengan Mama dan Papa serta Sara yang membenahi segala perabotan di rumah. Aku sudah mengurus semua keperluan Aruna, aku juga sudah mendaftarkannya di sekolah SMA-ku dulu dimana jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Semuanya sudah beres, aku hanya perlu beradaptasi lagi dengan lingkungannya dan tentu saja dengan Aruna. Aruna tampak sedikit pendiam untuk ukuran gadis seumurannya. Gadis itu tak terlalu banyak bicara dan asik membaca buku atau komik yang dia rental dari toko buku di seberang jalan raya. Aku harus sedikit mengeluarkan pesonaku agar dia mau terbuka denganku, tapi sepertinya membutuhkan waktu.
Aku meregangkan tanganku yang terasa pegal, aku butuh asupan kafein agar mataku mau bekerja sama untuk melotot seharian ini. Aku melirik ke arah Mbak Hera yang terlihat sibuk menata dokumen, dari samping aku bisa melihat betapa sembabnya mata wanita itu. Aku yakin dia masih bertengkar dengan Mas Rian. Aku sedikit kasihan dengannya, karena sekarang dia tidak punya tempat untuk berlari. Aku sudah tidak tinggal di apartemen lagi, rumahku jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal Mbak Hera, jadi dia tidak bisa seenaknya datang malam-malam seperti biasanya.
"Mbak,"panggilku."Mau kopi gak?" tanyaku.
Dia menoleh sebentar dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, aku memilih untuk tidak mengganggunya. Mbak Hera yang seperti ini selalu membuatku tidak nyaman, dia muram dan tak memiliki warna di wajahnya. Bibirnya yang berisik kini diam seribu bahasa, tidak ada lagi bahan pembicaraan yang biasa ia lakukan di sela-sela pekerjaan.
Aku memundurkan kursiku, memberi celah untuk aku bergerak dan berdiri untuk pergi menuju pantry. Secangkir kopi akan membuka mataku lebar-lebar, menyegarkan otakku yang mulai lelah karena sedari tadi diajak bekerja tanpa jeda.
Setelah menyeduh kopi aku memutuskan untuk berjalan mendekati jendela, melihat bagaimana gumpalan awan yang hitam menampakkan dirinya, bersiap mengeluarkan serangan air ke bumi yang siap menampungnya. Aku tertegun beberapa saat, perasaan aneh menyeruak dalam benakku ketika desiran hujan terdengar.
Masih terekam jelas bagaimana waktu itu seseorang datang menghampiriku dengan berlari kecil, kaki panjangnya tampak kotor karena terkena cipratan hujan, tangannya menggenggam sebuah payung berwarna biru tua dan aku juga tidak akan pernah lupa dengan senyumnya yang sehangat mentari. Kejadiannya sudah lama, tapi aku masih bisa merasakannya sampai saat ini. Klise, sebuah kisah klasik seorang gadis putih abu yang tidak pernah mendapatkan balasan dari cinta pertamanya.
Aku menghela nafas kecil, aku berharap hujan tidak berhenti sampai nanti malam. Aku malas sekali harus keluar hanya untuk menghadiri reuni sekolah. Aku bisa saja beralasan tak jadi datang, tapi kondisi Mbak Hera membuatku jadi tidak tega, aku harus mengabulkan permintaannya waktu itu meskipun katanya mereka sudah putus.
***
"Tiwiii!" Panggilan dari luar rumah diiringi suara klakson membuatku menyahut dengan suara keras.
"IYA BENTAR!" teriakku.
Sara dan Reno datang untuk menjemputku, iya kalau sudah begini itu artiya hujan sudah reda dan aku harus berangkat untuk menghadiri acara reuni yang diadakan lima tahun sekali itu. Sering mendengar kata ajang pamer berkedok temu kangen ? itu benar adanya, aku mengetahui itu dari Sara saat dia menghadiri acara reuni SMA pertama kalinya, tentu saja waktu itu aku tidak ikut. Aku terlalu malas untuk bertemu dengan banyak orang dan berbasa-basi.
Sebelum keluar dari rumah aku menghampiri Aruna yang tengah berada di ruang tengah, gadis itu sedang duduk dengan laptop di pangkuannya. By the way, dia sekarang menguasai kamarku yang lama dengan alasan dia tidak mau kamarnya terlalu luas dan aku dengan sangat terpaksa memilih untuk tidur di kamar bekas Teh Fira yang bisa dibilang dua kali lipat lebih luas dari kamarku yang ditempati Aruna yang berada di lantai atas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
Storie d'amoreDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
