CHAPTER II—Homecoming Harmony: Aruna and the Layers of a New Life
Hari mingguku terasa cepat berlalu, hanya kuhabiskan dengan rebahan di kasur, menonton film, membaca buku, jalan-jalan sore sebentar untuk membeli bahan makanan di supermarket dan setelah itu tidur. Tidak ada yang spesial, kalau tidak pulang ke rumah untuk mengunjungi orang tua di Bandung, aku hanya menghabiskan waktu sendirian di apartemen.
Tidak ada kegiatan produktif yang ku lakukan, aku terlalu malas untuk berpikir setelah lelahnya bekerja. Rasanya bermalas-malasan dan rebahan seharian di kasur adalah surga dunia untukku. Rasa penat, pusing, dan rasa kesal terbayarkan hanya dengan satu hari rebahan di kasur. Itu sudah cukup untukku. Tenaga yang kuhabiskan dengan bertemu orang-orang, proses isi ulang energinya ku lakukan dengan bermalas-malasan.
Aku menyalakan komputer setelah membawa beberapa dokumen di tanganku yang ku dapat dari Supervisor. Aku menggerakkan tanganku yang mengepal ke atas, sebuah gerakan penyemangat untuk diriku sendiri yang menyedihkan ini.
"Buset Wi, banyak banget kerjaan lo." Celetukan dari Mbak Hera membuat semangatku menjadi turun. Melihat tumpukan nota ini membuatku mual.
Aku melengkungkan bibirku ke bawah, "besok gue cuti aja deh."
Mbak Hera mengibaskan rambutnya ke belakang dengan penuh tenaga, "tenang Wi, gue siap membantu." Ucapnya.
Aku melihat mejanya yang terlihat kosong di beberapa bagian. Terlihat dengan jelas kalau pekerjaan Mbak Hera di hari senin ini tidaklah banyak. Seolah menyadari mejanya tengah ku perhatikan, dengan cepat ia membuka mulutnya. "Kerjaan gue belum dateng, katanya besok siang baru ada."
Aku ber-oh-ria dengan perasaan sedikit senang, "mau kopi gak Mbak?" tanyaku dengan bersikap manis.
Mbak Hera memutar kursinya untuk berhadapan denganku, "dibanding kopi, gue lebih butuh yang lain Wi."
Aku mengerutkan kening tidak mengerti, sedetik kemudian aku memasang wajah malas. Mbak Hera pasti ada maunya, meskipun dia suka membantu pekerjaanku tapi untuk kali ini aku yakin ada udang di balik batu.
"Lo harus datang ke reuni sekolah." Bisiknya.
Aku membuang nafas dengan kesal, nah kan. For your information, aku satu sekolah dengan Mas Rian. Dia adalah Kakak kelasku yang beda 5 tahun denganku, yang tentu saja tidak aku ketahui ketika masa sekolah. Hanya saja, beberapa guru pernah menyebutkan namanya sebagai salah satu murid paling cerdas yang aktif mengikuti beberapa lomba, salah satunya lomba debat Bahasa Inggris. Bisa dibayangkan betapa susahnya menang kalau sudah beradu argumen dengan Mas Rian? Tidak perlu merasakannya, aku sudah mengetahuinya dari sumber terpercaya yaitu kekasihnya sendiri.
"Mbak, lo tau kan gue anti banget ikut perkumpulan begituan. Lagian kenapa gak lo aja yang ikut?" Ucapku menolak. Kuharap dia tidak memaksaku.
"Wi, please... sekali ini aja." Ujarnya, "gue gak bisa ikut, minggu nanti gue ada acara." Bujuknya.
Ayo, Tiwi. Kamu tidak boleh goyah dengan tatapannya. Batinku.
Aku mulai membuka dokumen mencoba tidak menghiraukan Mbak Hera yang mulai merengek, susah kalo sudah seperti ini, dia akan memaksaku terus menerus. Enak saja dia memaksaku untuk ikut, sedangkan aku sudah menyiapkan ribuan alasan agar bisa menyelamatkan hari rebahanku yang langka itu.
"Enggak."
Reuni itu tidak seru, aku tidak suka melihat banyaknya manusia yang berkerumun. Ditambah lagi, aku tidak mau bertemu dengan dia. Memang belum tentu dia ikut, hanya saja besar kemungkinan dia juga datang kan?
"Wi, kali ini aja. Lo tau kan gue gak suka kalo Mas Rian ketemu sama mantannya." Dia mulai lagi.
***
Sumpah, demi apapun. Mbak Hera membuntutiku sampai ke apartemen. Dia memang gila kalau sudah menyangkut Mas Rian, sudah ku usir berapa kali pun tidak berpengaruh. Dia terus-terusan memencet bel sampai aku khawatir itu akan mengganggu penghuni apartemen lainnya. Tapi aku tidak boleh goyah, aku harus berpendirian kuat dan tetap tidak boleh mengiyakan kemauannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly Effect
RomanceDi usia yang telah memasuki 25 tahun, aku merasa seperti seorang penonton di pinggir lapangan, tersingkir dari hiruk-pikuk serunya kisah cinta masa remaja yang dulu begitu membara. Mati rasa kini perlahan menggerogoti diriku, mengambil alih hari-har...
