CHAPTER VI-Between Raindrops and Hot Chocolate: A Refreshing Encounter

2.3K 98 2
                                        

CHAPTER VI—Between Raindrops and Hot Chocolate: A Refreshing Encounter

Aku bertemu Sara hari ini, kami bertemu di kafe yang tak jauh dari apartemenku. Kafe yang beberapa kali ku datangi saat aku merasa bosan. Aku paling suka mengunjunginya ketika hujan, mendengar serangan air dari udara lewat jendela kafe dengan coklat panas yang mengepul di atas meja. Seperti saat ini, beberapa saat yang lalu hujan turun setelah memberi peringatan dengan suara petir dengan awan yang gelap.

Rintik hening menyapa bumi, membasahi keringnya tanah, tarian lembut titik-titik hujan menyusuri jendela kafe. Aku menikmati indahnya pemandangan menyejukkan di hadapanku dalam diam, suara musik di kafe seolah tidak masuk ke dalam telingaku. Aku bahkan sudah tidak peduli berapa lama aku menunggu Sara yang belum juga menunjukkan batang hidungnya sedari tadi.

Aku menyesap coklat panas yang berada dalam genggamanku, menikmati setiap rasa pahit dan manisnya yang menjadi satu. Sialan Sara, dia lama sekali sampai membuat minumanku menjadi hampir dingin. Tapi tidak apa, cuaca hari ini sudah cukup menghiburku jadi aku tak perlu membuang waktu untuk marah kepada Sara.

"Aduh Wi, sorry gue telat." Sebuah suara mengganggu sejuknya gemuruh hujan di telingaku, Sara baru saja datang melepas jaketnya yang terlihat basah.

Aku mengibaskan tanganku santai, aku tidak akan marah karena dia telah membuatku menunggu satu jam. Tentu tidak, ada hal yang jauh lebih penting dari itu sekarang.

"Buset, hujan aja masih macet dimana-mana." Gerutunya, dia mengusap rambutnya yang basah.

"Lo kesini naik motor?" tanyaku, dilihat dari jaket dan rambutnya yang basah sepertinya dia bukan kehujanan dari parkiran.

Dia memanyunkan bibirnya, "iya, gue kesini sama Reno." Jawabnya, Reno adalah pacar Sara dari jaman putih abu. Mereka berpacaran dari kelas Sepuluh sampai sekarang, seluruh penjuru sekolah tidak ada yang tidak tahu tentang kisah mereka yang sangat legend itu.

"Mobilnya lagi di bengkel, jadi terpaksa bawa motor." Ceritanya.

Aku melihat Reno datang dengan sebuah mug di tangannya, pria itu ternyata pergi dulu untuk memesan minuman untuk Sara. Melihat mereka membuatku tersenyum, teringat kembali akan kisah putih abu yang penuh dengan kisah pilu. Melihat Sara yang bahagia membuatku merasa kalau wanita itu adalah wanita yang beruntung karena memiliki Reno di sisinya, yang menemaninya kemanapun dia mau, mengantar jemput saat Sara minta, memenuhi setiap keinginan Sara tanpa menolak. Reno adalah pria lembut yang sangat langka ditemui. Beruntung Sara bisa mendapatkannya, meskipun memang banyak sekali masalah yang dihadapi sebelum mendapatkan pria itu.

"Wi, apa kabar?" sapa Reno padaku.

Aku tersenyum membalas sapaannya. "Baik, Ren." Jawabku, "gimana studio sekarang?" tanyaku berbasa-basi. Dia memiliki studio foto di beberapa tempat di Jakarta, studio foto yang sudah cukup terkenal di Ibu Kota. Orang-orang terutama para remaja berbondong-bondong pergi kesana untuk mencetak kenangan bersama teman, kerabat bahkan dengan pasangannya.

"Ya, gitu aja sih Wi. Main dong kapan-kapan kesana." Ucapnya, "tar gue kasih lo gratis."

Mataku menyipit, "idih, mentang-mentang cabangnya udah dimana-mana." Gurauku.

Aku melirik ke arah Sara yang kini memegang mug dengan kedua tangannya, dia tampak kedinginan setelah kehujanan, bibirnya yang sedikit membiru menyesap minumannya dengan perlahan.

"Kalian gak bawa jas hujan?" tanyaku.

Sara menggeleng, "dia tuh ngeyel banget, gue bilang bawa buat persiapan hujan tapi gak pernah denger." Omelnya. "By the way, lo kapan pindahannya, Wi?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Butterfly EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang